Remah Harian

NUBUATAN IRI HATI KAYAFAS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 1 April 2023, Sabtu Pekan Prapaskah V
Bacaan: Yeh. 37:21-28; MT Yer. 31:10,11-12b,13Yoh. 11:45-56.

Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”

(Yoh 11: 49 – 50)

Besok, kita akan memasuki Pekan Suci. Maka pantaslah apabila kita mulai memusatkan permenungan kita pada sengsara dan wafat Yesus. Marilah kita mengarahkan pandangan kita pada Salib-Nya.

Dalam kutipan di atas kita melihat apa yang dipikirkan oleh Kayafas, Imam Besar. Apa yang dikatakannya mempunyai makna ganda: ada pesan kenabian tetapi sekaligus punya motif jahat. Ia bersama dengan Mahkamah Agama dan Farisi, mulai berencana untuk membunuh Yesus.

Popularitas Yesus semakin menanjak dan mereka takut bahwa popularitas-Nya akan menimbulkan ketegangan dengan penjajah Roma. Namun mereka juga iri hati bahwa Yesus menarik begitu banyak orang. Maka Kayafas memberikan pendapatnya bahwa lebih baik satu orang mati daripada seluruh bangsa binasa. Nampaknya ia berpikir, jika Yesus menjadi semakin populer dan lebih banyak orang yang mendengarkan Dia ketimbang mendengarkan para imam dan Farisi, maka lebih baik “membereskan”-Nya, sesuai dengan cara mereka.

Nampak jelas bahwa para Farisi sebenarnya lebih memperhatikan kepentingan diri dan status mereka sendiri daripada kebenaran. Salah satu dari keberatan mereka adalah bahwa Yesus telah melakukan banyak tanda dan mukjizat. Jika para Farisi sungguh mencari kebenaran, maka mereka seharusnya mereka melihat kuasa ilahi Yesus serta percaya dan mengikuti-Nya. Tetapi mereka berkutat dengan kesombongan mereka. Mereka takut kehilangan status dan kedudukan mereka.

Kita sering melihat pengalaman yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Kita ingin menjadi pusat perhatian. Dan sering kali ketika kita melihat orang lain berhasil atau menerima pujian, maka irihati mulai merayap di hati kita. Dan ketika irihati mulai berkuasa, kebencian timbul, kemudian kita menginginkan hal buruk menimpa orang lain.

Cita-cita yang ideal adalah menjadi pengikut Yesus yang setia. Hal ini sangat penting untuk direnungkan pada minggu ini saat kita menyaksikan permusuhan terhadap Tuhan kita semakin hari semakin meningkat. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda berada di sana? Apakah Anda akan tetap setia bersama Yesus meskipun ada serangan dari orang lain? Ketika permusuhan terhadap Yesus semakin meningkat, apakah Anda akan menjauh dari-Nya atau justru semakin mendekat kepada-Nya dalam kasih dan komitmen?

Renungkanlah hari ini, menjelang peringatan sengsara Tuhan kita. Cobalah merenungkan berbagai reaksi dan pengalaman orang-orang di sekeliling Yesus pada waktu itu. Tempatkanlah diri Anda pada posisi mereka dan cobalah untuk menjalaninya bersama Yesus. Tujuannya adalah untuk menemukan diri kita berada di kaki Salib bersama-Nya pada hari Jumat Agung dengan penuh kasih dan keberanian, berdiri di samping-Nya dan mengasihi-Nya di setiap langkah.

Tuhan, semoga aku dapat mengikuti Engkau dengan sungguh di Pekan Suci yang akan datang. Semoga aku memiliki cinta yang cukup untuk mengasihi-Mu bahkan dalam penolakan dan sengsara-Mu. Tolonglah aku untuk melepaskan semua iri hati dan egoisme agar aku mampu melihat Engkau terutama dalam penderitaan sesama dan dalam kebaikan mereka. Yesus, aku percaya kepada-Mu.

Author

Write A Comment