Remah Mingguan

MENSYUKURI INKARNASI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 25 Desember 2023, Hari Raya Natal
Bacaan: Yes. 52:7-10Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6Ibr. 1:1-6Yoh. 1:1-18 (panjang) atau Yoh. 1:1-5.9-14 (singkat).

(Yoh 1: 14)

Dalam Injil hari ini, kita mendapatkan kisah Inkarnasi versi Penginjil Yohanes. Matius dan Lukas memberikan catatan yang rinci tentang saat-saat kelahiran Yesus. Markus menampilkan Yesus sebagai Mesias melalui pembaptisan-Nya oleh Yohanes Pembaptis. Yohanes berusaha untuk menyatakan Yesus sebagai Allah yang sejati dan manusia yang sejati, Firman yang menjadi manusia. Tindakan kasih Allah yang terbesar dalam menyelamatkan umat manusia diwujudkan ketika Anak-Nya dilahirkan oleh seorang perempuan.

Yohanes melanjutkan dengan mengatakan kepada dunia bahwa Sang Firman, Yesus, sudah ada sejak semula. Firman itu, Yesus, bersama-sama dengan Allah. Dan Ia adalah Allah. Itu adalah sebuah pernyataan iman. Yohanes mengatakan bahwa Yesus adalah kekal, berhadapan langsung dengan Allah, dan setara dengan Allah dalam hal keilahian. Ia menjawab orang-orang yang mengatakan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa. Bahwa Ia adalah seorang nabi yang agung tetapi tidak ilahi.

Firman itu menjadi daging. Ini berarti bahwa Yesus sungguh-sungguh menjadi manusia, bukan pura-pura mengambil sifat manusiawi. Dia memeluk seluruh kemanusiaan kita kecuali dosa. Dia mengalami pencobaan, Dia mewarisi kelemahan dan kekurangan kita. Ia benar-benar menjadi manusia. Itu adalah jawaban bagi mereka yang menolak kemanusiaan-Nya. Bahwa Dia mampu melakukan apa yang Dia lakukan hanya karena Dia adalah Allah dan tidak mengalaminya sebagai manusia.

Hal ini seharusnya membawa kita kepada penghargaan atas apa yang telah Allah lakukan bagi kita. Ini adalah perendahan diri yang luar biasa. Paulus menjelaskannya dengan baik ketika ia menggambarkannya sebagai pengosongan diri dari hak-hak istimewa ilahi, menjadi seorang hamba, dan menjadi serupa dengan manusia. Siapakah kita yang layak menerima hal itu? Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi sama dengan kita dan mati untuk kita sehingga kita dapat diselamatkan. Itu adalah tindakan kasih yang sempurna.

Hal itu juga seharusnya menginspirasi kita untuk berusaha menjadi sempurna. Kita dapat menjadi sempurna kendati kemanusiaan kita. Yesus mengalami apa yang kita semua alami. Dia mengalami tantangan-tantangan manusiawi seperti kelaparan, kehausan, penolakan, pengkhianatan, penipuan, teguran, kelelahan, keputusasaan, ratapan, dan bahkan kematian. Dia benar-benar manusia, namun Dia mampu mencapai kesempurnaan. Kita tidak dapat selalu mengkambinghitamkan kemanusiaan kita sebagai alasan atas kelemahan dan keberdosaan kita. Sebagai manusia, kita memiliki kemampuan untuk melawan godaan dan menghindari dosa.

Akhirnya, Inkarnasi adalah sebuah undangan bagi kita untuk percaya dan menerima Yesus, manusia sejati dan Allah sejati, di dalam hati kita. Hal ini sulit untuk dipahami, tetapi marilah kita menemukannya dalam pengalaman iman kita. Melalui Kitab Suci, refleksi, dan hubungan antar manusia, Yesus akan terus menyatakan diri-Nya. Perkataan dan tindakan-Nya akan menuntun kita untuk menemukan keilahian dan kemanusiaan-Nya. Kita memiliki Tuhan dan sahabat di dalam Yesus.

Hari ini adalah Hari Natal! Dunia merayakan Inkarnasi Yesus. Janganlah kita hanya puas dengan menyanyikan lagu-lagu Natal, makan-makan, membuka kado, minum-minum, bersenda gurau, dan berbagai kemeriahan lainnya. Marilah kita syukuri dan hargai kasih yang telah Allah lakukan bagi kita ketika Dia memutuskan bahwa dunia harus diselamatkan dengan menjadikan Firman sebagai Manusia!

Selamat Natal untuk semua!

Author

Write A Comment