Sabda Hidup
Sabtu, 19 Agustus 2023, Sabtu Pekan Biasa XIX
Bacaan: Yos. 24:14-29; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,11; Mat. 19:13-15.
Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
(Mat 19: 14)
“Tak seorangpun dapat menjadi pengikut Kristus, jika anak-anak takut bermain di depan pintu rumahnya.” Kata George MacDonald, seorang penulis dari Skotlandia.
Sering kali, ketika seorang imam mengunjungi keluarga, ketika anak-anak sedikit “mengganggu” orang tua biasanya marah: “Jangan nakal, nanti Pastor marah!”
Dalam Injil hari ini Yesus menegur para murid yang memarahi orang-orang yang membawa anak-anak mereka untuk diberkati dan didoakan oleh Yesus. Tetapi justru Yesus menegur para murid agar membiarkan anak-anak itu datang kepada-Nya. Terlebih lagi Ia mengatakan bahwa orang-orang yang seperti anak-anak yang mempunyai Kerajaan Sorga.
Dalam budaya Yahudi waktu itu, anak-anak tidaklah terhitung. Mereka belum mempunyai hak-hak sosial, tidak ada hak untuk bicara. Tetapi Yesus bukan hanya menganggap penting anak-anak itu, malahan memberkati mereka. Ia menunjukkan kepada murid-murid bahwa cinta Allah memberi tempat bagi semua, termasuk anak-anak. Tak seorangpun tidak penting bagi Allah. Bahkan Ia mengatakan, orang-orang seperti anak-anak kecil itulah yang empunya Kerajaan Surga. Anak-anak menjadi contoh bagaimana menerima Kabar Baik cinta Tuhan dengan terbuka, simpel, dan rendah hati.
Ia menghendaki semangat seperti anak-anak. Tentu tidak berarti kekanak-kanakan. Kita perlu mempunyai sikap seperti kanak-kanak dalam relasi kita dengan Tuhan sehingga kita dapat mendekati-Nya dengan iman dan mempercayakan diri kepada-Nya sebagai Bapa kita terkasih. Kita memiliki kepercayaan yang penuh akan cinta-Nya, tanpa pretensi, tanpa kepura-puraan.
Bukankah Cinta Allah pertama-tama adalah anugerah? Kita hanya bisa membuka hati untuk menerimanya, seperti keterbukaan anak-anak kecil. Sering kali ketika kita tumbuh dewasa kita bersikap seakan-akan Tuhan berhutang kepada kita. Seakan-akan kita sudah berbuat suatu pencapaian dan mulai berharap bahwa kita akan diganjar oleh Tuhan. Itu pula yang membuat kita merasa lebih baik dari orang lain dan lebih berhak akan berkat Tuhan. Kita lupa bahwa “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita,” (1 Yoh 4: 10).
Tuhan, saat kami menjadi dewasa baik secara fisik maupun rohani, semoga kami tetap seperti anak-anak dalam kesederhanaan dan kerendahan hati, sehingga kami semakin dekat dengan-Mu. Amin.
