Remah Mingguan

MENERIMA DAN MEMBERI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 18 Juni 2023, Minggu Biasa XI Tahun A
Bacaan: Kel. 19:2-6aMzm. 100:2,3,5Rm. 5:6-11Mat. 9:36 – 10:8.

Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

(Mat 10: 8b)

Di Tanah Suci terdapat dua Laut (danau, sebenarnya) yakni Danau Galilea dan Danau Laut Mati. Walau sama-sama mendapatkan aliran air dari Sunga Jordan namun kedua danau tersebut sangat berbeda. Danau Galilea mempunyai panorama yang indah, Air hangat Danau Galilea memiliki banyak flora dan fauna yang hidup. Pada danau ini terdapat flora Fitoplankton, fauna terdapat Zooplankton, Benthos, dan ikan-ikan, salah satunya dikenal sebagai ikan St Petrus. Fauna yang terdapat di danau Galilea sangat beragam. Setiap tahunnya banyak turis yang datang menikmati keindahan danau ini.

Sedangkan Laut Mati punya kadar garam yang sangat tinggi sehingga tidak ada satupun flora dan fauna bisa hidup didanau ini. Disekeliling danau tersebut juga gersang, danaunya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Walau banyak turis yang datang itu karena danau ini punya keunikan yang tidak dimiliki danau lain yaitu turis bisa mengapung di danau tersebut.

Uniknya, kedua danau ini sebenarnya mendapatkan aliran air dari sungai yang sama: Sungai Yordan. Bedanya adalah bahwa air dari Sungai Yordan atas mengalir masuk ke Danau Galilea, kemudian keluar lagi melalui Sungai Yordan bawah. Sedangkan Laut Mati menerima aliran dari Sungai Yordan dan tak pernah mengalir keluar lagi, berhenti di Laut Mati. Kalau toh keluar hanya melalui penguapan.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan kepada para rasul yang diutus-Nya untuk mengemban misi bahwa mereka harus bersedia untuk memberikan kembali atau membagikan apa yang telah mereka terima. Sabda-Nya kepada mereka: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma,” (Matius 10:8). Kemurahan hati, pemberian diri, waktu, pelayanan dan sumber daya dalam pelayanan Kerajaan Allah menjadi mungkin hanya ketika kita menyadari bahwa semua yang kita miliki, bahkan hidup kita, adalah anugerah dari Allah. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus, ” Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1 Korintus 4:7).

Menjadi seorang Kristiani, pada kenyataannya, adalah kehidupan yang secara sadar menerima dan memberi kembali kepada Tuhan. Sayangnya, kita sering kali lebih ingat untuk menerima daripada memberi. Sebagai anak-anak Allah, kita menerima karunia iman, kita menerima firman Allah, kita menerima pengampunan, kita menerima sakramen-sakramen, dan kita menerima hidup baru di dalam Roh. Tetapi kita hanya melengkapi rangkaian kasih karunia Allah itu ketika kita pergi dan membagikan berkat-berkat yang sama kepada mereka yang belum memilikinya. Jika kita gagal melakukan hal ini, kita akan menjadi seperti Laut Mati, stagnan dan mati karena hanya menerima dan tidak memberi kembali.

Dalam Injil Markus terdapat sebuah ayat yang menarik dalam kisahnya tentang panggilan para rasul, di mana ia menulis: “Dia mengangkat mereka sebagai rasul-rasul-Nya untuk menyertai Dia dalam pelayanan dan untuk diutus menyebarkan berita keselamatan. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai-Nya dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil,” (Markus 3:14). Lebih jelas daripada Matius, Markus di sini menunjukkan bahwa ada dua sisi dari panggilan Yesus, yaitu (a) untuk bersama dengan-Nya, yaitu untuk belajar dari-Nya, untuk menerima kasih karunia dan berkat-Nya, dan (b) untuk diutus mewartakan kabar itu, yaitu untuk membagikan kepada orang lain apa yang telah dipelajari dari Yesus, untuk pergi dan menjadi kasih karunia dan berkat bagi orang lain. Misi, penginjilan, kesaksian, berbagi iman dengan orang lain, apa pun nama yang kita berikan, adalah bagian penting dari makna menjadi seorang Kristen, bukan kegiatan ekstra atau opsional atau jika suka saja.

Ketika kita dihadapkan pada tanggung jawab kekristenan kita dengan cara seperti ini, banyak dari kita mulai bertanya-tanya dari mana kita bisa mendapatkan keberanian dan kekuatan untuk membagikan iman kita kepada orang lain. Dan mereka benar. Kekuatan yang kita butuhkan tidak datang dari mana pun di bumi. Itu datang langsung dari surga. Seperti yang kita baca dalam Injil hari ini, “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan,” (Matius 10:1). Yesus tidak mengutus kita ke dunia dengan tangan kosong. Dia tahu bahwa dalam misi kita harus berjuang melawan “pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat” (Efesus 6:12). Oleh karena itu, Ia memperlengkapi kita terlebih dahulu dengan kekuatan dan kuasa atas setiap tantangan manusiawi dan rohani yang mungkin kita hadapi dalam pekerjaan kita  menyebarkan kerajaan damai dan kasih Allah.

Jadi, dari mana kita mulai? Mungkin ada yang bertanya demikian. Yesus memerintahkan para rasul untuk memulai dengan “domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 10:6), yaitu mulai dari wilayah yang sudah dikenal. Di kemudian hari, Dia akan menugaskan mereka untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (Matius 28:19), tetapi untuk saat ini, mereka harus membatasi jangkauan mereka hanya di antara bangsa mereka sendiri. Misi, seperti halnya amal kasih, dimulai dari rumah. Oleh karena itu, tempat bagi kita untuk memulai misi kita adalah dengan anggota-anggota yang “hilang” dan “suam-suam kuku” dari keluarga dan lingkup kita sendiri, entah itu lingkungan, stasi atau paroki.

Kita harus menemukan jalan untuk memberikan kembali atau membagikan karunia iman yang telah kita terima. Itulah satu-satunya cara untuk tetap hidup dan bersemangat dalam iman seperti Danau Galilea yang segar dan memberi kehidupan.

Tuhan Yesus, Engkau telah memilihku untuk menjadi murid-Mu. Ambillah dan gunakanlah apa yang dapat kuberikan, betapapun kecilnya, demi kemuliaan nama-Mu yang lebih besar.

Author

Write A Comment