Sabda Hidup
Minggu, 8 Januari 2023, Hari Raya Penampakan Tuhan
Bacaan: Yes. 60:1-6; Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; Ef. 3:2-3a, 5-6; Mat. 2:1-12.
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.
(Mat 2: 11 – 12)
Hari ini kita rayakan Hari Raya Penampakan Tuhan, atau Epifani. Lebih populer lagi disebut sebagai Pesta Tiga Raja, dan secara khusus Hari Raya Epifani kita rayakan sebagai Hari Anak Misioner. Tahun ini mengambil tema: ”Anak Misioner: Bersahabat, Terlibat, dan Menjadi Berkat”.
Kali ini masa Natal terasa lebih pendek. Besok, hari Senin, sudah kita rayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Rutinitas kerja sudah kembali bergulir. Kandang-kandang Natal mulai dibongkar, dan kado-kado Natal sudah dibuka semua.
Tetapi, apakah semangat Natal juga berakhir?
Ada yang mengatakan “Christmas is everyday!” Natal itu setiap hari. Pelee… kalau begitu pesta natal juga setiap hari…
Tentu yang dimaksud adalah spiritnya, semangatnya! Semangat Natal, saat kita memperhatikan mereka yang kurang beruntung, yang hidupnya susah, semangat mengampuni, damai dan kasih! Memang di masa biasa kita tidak lagi menyanyi “Damai…. damai…. damailah senantiasa….” tetapi bukankah damai tidak berakhir dengan berakhirnya Masa Natal? Bukankah setiap saat kita harus mengusahakan kasih dan damai? Bukankah kita masuk Gereja bukan hanya saat Hari Raya Natal? Mungkin ada yang jawab: Betul Pastor…. nanti masuk gereja lagi di Hari Raya Paskah!. Tentu kita diharapkan menjadi umat yang aktif bukan cuma di hari-hari raya saja!
Hidup kita berlangsung setiap saat. Demikian juga kita menjadi orang Kristen setiap saat, bukan cuma di hari raya saja.
* * *
Injil hari ini menarik. Bagian akhir dari perikope Injil tersebut menjadi tema perayaan Natal Nasional tahun 2022: “Maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”
Apa yang dapat kita renungkan dari perikope Injil hari ini?
Sukacita. Perayaan Natal selalu membawa sukacita dan damai sejahtera bagi hidup kita, karena Yesus datang untuk membebaskan kita dari belenggu dosa. Oleh Dia yang lahir di kandang hewan, wafat di kayu salib, dan kemudian bangkit dari antara orang mati, kita dilahirkan kembali sebagai ciptaan baru dan memperoleh hidup kekal.
Orang-orang majus dari Timur dengan bantuan bintang datang untuk menyembah-Nya dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Setelah mengalami sukacita dalam perjumpaan yang istimewa tersebut, orang-orang bijak itu kembali ke negerinya melalui jalan lain seperti yang ditunjukkan Tuhan (bdk. Mat. 2:12). Mereka mampu melewati tantangan, hambatan, dan kesulitan dalam perjalanan mereka mencari Yesus dan setelah berjumpa dengan-Nya mereka juga berani menempuh jalan baru yang belum tentu lebih mudah dari sebelumnya.
Ketekunan. Kita melihat ketekunan para majus dari timur untuk mencari Kristus. Mereka tidak menyerah walau mereka tidak tahu jalannya. Selain itu ada sikap teliti dan bijak. Dalam Injil Matius, kita mendengar bahwa datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur, dan kami datang untuk menyembah Dia” (Mat 2:2). Para Majus berusaha dan tidak ragu untuk menemukan Sang Mesias yang baru dilahirkan itu.
Para Majus melakukan perjalanan panjang. Mereka mencari tahu di mana Raja yang baru lahir dapat ditemukan. Dengan teliti dan bijak, mereka pun mulai bertanya-tanya di manakah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Ketidaktahuannya tidak membuat mereka putus asa. Namun dengan penuh iman, mereka mencari. Mereka bertanya agar mereka bisa menemukan Mesias, Sang Juruselamat. Ketika mereka menemukan Mesias, ada sukacita lalu mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.
Bukankah sikap itu juga harus kita hidupi setiap hari? Tidak hanya pada saat-saat tertentu saja? Atau justru kita tidak peduli seperti para imam dan ahli Taurat. Dari Kitab Suci mereka tahu di mana Sang Mesias lahir. Tetapi apakah mereka peduli? Atau justru curiga seperti Herodes?
Seperti para Majus yang tekun, kita juga perlu tetap bertekun untuk berubah, untuk bertobat. Kita perlu bertekun untuk mencabut kebiasaan-kebiasaan buruk dari akar-akarnya, perlu bertekun mencabut akar-akar cinta diri, kerakusan, ketidakpedulian akan sesama.
Jalan lain. Mengapa para majus itu “mengambil jalan lain”? Mereka “menghindari” Herodes. Herodes itu dapat dikatakan “orang gila”. Dia berpikir bahwa semua orang adalah ancaman bagi tahtanya dan kapan saja dia akan digulingkan oleh mereka. Itulah alasannya untuk membunuh istrinya, Mariame, Dua putra Mariame, kakek dan ibu, kedua putranya juga yaitu Aristobulus dan Alexander dibunuh atas perintahnya. Henri Daniel Rops dalam bukunya, Jesus and His Times (vol. 1, hlm. 127-128) mengatakan bahwa dalam tahun-tahun terakhirnya, Herodes menderita arteriosclerosis. Dia sangat kesakitan dan mengalami gangguan mental dan fisik. Dia mengubah wasiatnya tiga kali. Di saat-saat menjelang kematiannya, ia memerintahkan pembantaian orang-orang Yahudi untuk memastikan bahwa akan ada air mata pada kematiannya.
“Jalan Herodes” inilah yang harus kita hindari. Kita harus menghidupi semangat membangun peradaban kasih di tengah menguatnya tindak kekerasan, merajut kerukunan di tengah merebaknya intoleransi, mempopulerkan budaya jujur di tengah mengguritanya tindak kejahatan korupsi, menggemakan pertobatan ekologis di tengah maraknya kerusakan lingkungan hidup, dan mengembangkan hidup berpolitik yang beretika.
Saat masyarakat mampu berjalan bersama, maka akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa. Semangat untuk jalan bersama ini perlu didorong dengan menghadirkan sikap yang saling memahami, menerima, mendengarkan, dan saling menghargai sesama. Sebagai bangsa yang hidup dalam kultur yang beragam, rakyat Indonesia harus menghilangkan berbagai pikiran negatif dan prasangka buruk. Melalui tema Natal 2022 tersebut, diharapkan rakyat Indonesia mampu mengembangkan budaya hidup damai dan bersaudara dengan semangat kebhinekaan.
“Jalan lain” itu dapat dipahami juga secara rohani. Sesudah bertemu dengan Yesus, orang tidak lagi menjalani hidup dengan cara lama, tetapi dengan cara yang baru, menjadi manusia baru. Dengan demikian, Natal juga mengajak kita untuk menemukan jalan baru dan kreatif dalam mewartakan kasih-Nya kepada sesama dan semua makhluk ciptaan.
Proses menemukan “jalan lain”, “jalan alternatif,” proses perubahan itu terus berlangsung. Meski kadang-kadang kita jatuh lagi, tidak perlu kita menjadi patah semangat. Pembaharuan perlu kesabaran dan ketekunan. Nabi Yesaya menyerukan kepada kita: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu” (Yes 60:1). Bangsa Israel yang baru pulang dari pengasingan tetap dipanggil menjadi terang, padahal yang dijumpai adalah Yerusalem yang sudah menjadi reruntuhan.
Yesaya mendorong kita untuk bertemu dengan Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem. Ada banyak tantangan untuk sampai kepada Bayi Yesus, namun kita tidak boleh berhenti, kita harus berusaha terus-menerus sampai pada akhirnya kita bisa bertemu dan bersujud menyembah seperti yang dilakukan oleh para Majus dari Timur. Itulah bentuk iman yang sejati, yang dijalankan dengan penuh semangat, penuh keyakinan dan memohon bimbingan Tuhan melalui bintang yang dilihatnya. Keterbukaan hati dan membiarkan dirinya dibimbing oleh kehendak Tuhan, sampai akhirnya tiba di hadapan Yesus, Sang Juru Selamat yang baru dilahirkan. Dari sinilah terjadi sebuah kehidupan baru setelah bertemu dengan Sang Mesias.
Mari kita membiarkan diri kita diterangi oleh cahaya Yesus yang datang dari Betlehem. Janganlah membiarkan diri kita dalam ketakutan dan menutup hati kita. Tetapi mari, kita memiliki keberanian untuk membuka diri terhadap cahaya yang menyejukkan dan bijaksana ini. Seperti para Majus, kita pun akan mengalami “sukacita yang besar” (bdk. Mat. 2:10) yang tidak dapat kita simpan sendiri.
* * *
Ada tradisi di beberapa tempat, pada hari raya Epifani memberkati rumah dengan kapur yang sudah diberkati. Di ambang pintu ditulis dengan kapur itu 20 + C + M + B + 23. Angka 20 di depan dan di belakang menunjukkan Tahun yang sedang dimasuki, C, M, B, adalah initial nama ketiga majus Caspar, Melkior dan Balthasar tetapi juga dapat berbunyi Christus Mansionem Benedicat, Kristus Memberkati Rumah Ini. Walaupun kita tidak membuat itu tetapi mari kita saling memberkati saat kita memasuki tahun yang baru ini.
