Remah Harian

MENDERITA BERSAMA KRISTUS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 31 Maret 2023, Jumat Pekan Prapaskah V
Bacaan: Yer. 20:10-13Mzm. 18:2-3a,3b-4,5-6,7Yoh. 10:31-42.

Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?”

(Yoh 10: 31 – 32)

Saat kita semakin dekat dengan Pekan Suci dan Jumat Agung, kita mulai melihat bahwa kebencian terhadap Yesus yang semakin meningkat. Mungkin kita berpikir bahwa membenci Yesus adalah suatu tindakan yang tidak masuk akal. Membenci Yesus dan hendak merajam-Nya sampai mati adalah tindakan yang sangat tidak rasional. Bukankah pekerjaan baik saja yang dilakukan-Nya? Tetapi itulah yang terjadi. Sedikit demi sedikit, mereka yang menentang Yesus semakin berani hingga hari yang paling penting itu tiba, ketika Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita dan dengan rela menerima kematian-Nya.

Selama dua minggu ke depan, kita akan menghadapi irasionalitas dan penganiayaan terhadap Yesus. Ini bukan hal yang menyenangkan, tetapi itu adalah kenyataan. Inilah dunia tempat kita hidup. Dan ini adalah kenyataan yang akan kita hadapi dalam hidup kita.

Ketika menghadapi kejahatan dan penganiayaan, kita harus melakukan hal yang Yesus lakukan. Dia menghadapinya tanpa rasa takut. Dia menghadapinya dengan kebenaran dan tidak pernah menyerah pada kebohongan dan fitnah yang dilontarkan oleh banyak orang kepada-Nya.

Sangat mudah bagi kita untuk berpikir bahwa jika kita dekat dengan Tuhan dan berusaha untuk hidup dalam kekudusan, maka semua orang akan mengasihi dan memuji kita. Tetapi tidak demikian halnya dengan Yesus dan tidak demikian halnya dengan kita. Faktanya adalah bahwa semakin kita dekat kepada Tuhan, semakin besar pula penganiayaan, kebencian dan tantangan yang akan kita hadapi. Sekali lagi, hal ini mungkin tidak masuk akal bagi kita, tetapi itulah fakta yang kita hadapi.

Salah satu kunci kekudusan adalah bahwa di tengah-tengah penganiayaan, penderitaan, kesulitan dan kesedihan, kita tetap berdiri teguh dalam kebenaran. Sangat mudah untuk dibingungkan oleh kebohongan dan fitnah yang dilontarkan dunia kepada kita ketika kita mencoba berdiri untuk kebaikan dan kebenaran. Satu hal yang Tuhan inginkan dari kita, ketika kita memanggul salib kita sendiri, adalah memurnikan iman kita dan bertekad untuk berdiri teguh di dalam Firman dan Kebenaran-Nya.

Ketika kita menghadapi suatu salib atau penganiayaan, mungkin kita akan merasa seperti linglung dan menjadi panik serta takut.  Tetapi inilah saat-saat, ketika kita harus berdiri teguh. Kita harus tetap rendah hati namun yakin akan semua yang telah Tuhan katakan dan nyatakan kepada kita. Hal ini akan memperdalam kemampuan kita untuk mempercayai Tuhan dalam segala hal. Sangat mudah untuk mengatakan bahwa kita mempercayai Tuhan ketika hidup ini mudah, namun sulit untuk mempercayai-Nya ketika salib yang kita hadapi cukup berat.

Renungkanlah hari ini bahwa apa pun salib Anda, itu adalah anugerah dari Tuhan karena Dia ingin menguatkan Anda untuk tujuan yang lebih besar. Seperti yang dikatakan oleh Santo Yohanes Paulus II berulang kali selama masa kepausannya, “Jangan takut!”  hadapilah ketakutan Anda dan biarkan Tuhan mengubah Anda di tengah-tengah ketakutan itu.  Jika Anda melakukannya, Anda akan menemukan bahwa pergumulan terbesar dalam hidup Anda sebenarnya adalah berkat terbesar Anda.

Tuhan, saat peringatan sengsara dan wafat-Mu semakin dekat, tolonglah aku untuk menyatukan salibku dengan salib-Mu.  Tolonglah aku untuk melihat kehadiran-Mun dalam pergumulanku setiap hari. Tolonglah aku untuk melihat tujuan yang Engkau tetapkan bagiku di tengah-tengah tantangan ini. Yesus, aku percaya kepada-Mu.

Author

Write A Comment