Remah Harian

MENAATI FIRMAN-NYA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 21 Maret 2024, Kamis Pekan Prapaskah V
Bacaan: Kej. 17:3-9Mzm. 105:4-5,6-7,8-9Yoh. 8:51-59.

YOH 8: 51

Seorang pastor menghadiahkan seekor kuda kepada temannya. Kuda itu telah ia latih sendiri. Pastor itu memberi tahu temannya: “Ini adalah seekor kuda yang istimewa, kuda yang sangat religius. Untuk memerintahkannya bergerak maju, kamu harus mengucapkan ‘Haleluya’. Supaya dia berlari lebih cepat, kamu harus memerintahkan, ‘Puji Tuhan’. Dan untuk menyuruhnya berhenti, kamu harus berseru, ‘Amin!”

Keesokan harinya, temannya yang begitu gembira mendapat hadiah seekor kuda istimewa menaiki kuda itu dan berkata, “Haleluya!” Kuda itu mulai bergerak. Ia ingin kuda itu berlari lebih cepat, maka ia berteriak, “Puji Tuhan!” dan kuda itu berlari lebih cepat. Ia semakin bersemangat dan bersyukur sehingga ia berkata, “Puji Tuhan!” lagi dan lagi sehingga kuda itu berlari semakin kencang. Ia terkejut ketika, kuda itu berlari menuju ke tepi jurang dan dia tidak ingat lagi perintah agar kuda itu berhenti. Untungnya, beberapa inci dari tepi jurang itu, dia ingat untuk berteriak, “Amin!” Kuda itu meringkik melengking dan berhenti. Hati orang itu berdegup kencang karena hampir jatuh ke dalam jurang yang dalam. Ia begitu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan sehingga ia berseru, “Puji Tuhan……!”

Sekali lagi, Yesus dalam Injil hari ini bersitegang dengan para tua-tua dan pemimpin agama pada zaman-Nya. Mereka sedang berada di Bait Allah dan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa ketaatan kepada firman-Nya adalah ketaatan yang sejati dan memberikan kemuliaan kepada Bapa.

Injil berakhir dengan mereka mengambil batu untuk melempari Yesus. Mereka menuduh-Nya menghujat dengan mengatakan “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada!” Namun, lebih dari sekadar tuduhan penghujatan, mereka tahu bahwa Yesus menyinggung mereka tentang penyembahan palsu yang mereka berikan kepada Allah di Bait Allah. Mereka rajin beribadah, menaati semua hukum, namun penuh kemunafikan. Mereka menaruh perhatian besar pada peraturan-peraturan lahiriah dan tindakan-tindakan yang membuat mereka tampak benar, tetapi mereka tidak begitu peduli untuk menjadi benar di dalam hati mereka.

Seperti para tua-tua dan pemimpin agama pada zaman Yesus, kita dapat saja rajin membaca Kitab Suci dan mempersembahkan kurban setiap hari di “Bait Allah”, namun tidak selaras dengan cara hidup sehari-hari. Seperti kuda dalam cerita tadi, tanpa mengerti makna kata-kata “Haleluya”, “Puji Tuhan”, atau “Amin” yang ia dengar. Kita dapat memejamkan mata, mengangkat tangan, dan berteriak hingga suara kita menjadi serak, tetapi “jika kita tidak menaati Firman-Nya, kita akan tetap mengalami maut untuk selama-lamanya.” Bakti kita pada Allah bukanlah masalah seberapa tinggi kita mengangkat tangan dalam pujian, tetapi seberapa lurus kita menapaki jalan sesuai dengan perintah-perintah-Nya.

Apa yang Anda persembahkan kepada Allah: mengangkat tangan tinggi-tinggi atau berjalan lurus sesuai dengan perintah-Nya?

Tuhan, tuntun aku di jalan-Mu. Amin.

Author

Write A Comment