Remah Harian

MEMURNIKAN BAIT SUCI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 24 November 2023, Peringatan Wajib St. Andreas Dung Lac
Bacaan: 1Mak. 4:36-37,52-59; MT 1Taw. 29:10,11abc,11d-2a,12bcd; Luk. 19:45-48.

(Luk 19: 45 – 46)

Bacaan pertama kita hari ini dari Kitab Pertama Makabe menceritakan pentahiran dan penahbisan kembali bait suci oleh Yudas dan saudara-saudaranya, yang kemudian diperingati pada hari raya Hanukkah orang Yahudi. Bait Suci telah dinodai dengan hujatan dari Antiochus Epiphanes. Yudas dan rombongannya membangun mezbah korban bakaran dan mempersembahkan korban di sana sesuai dengan aturan hukum. Tepat pada jam dan tanggal yang sama seperti dahulu waktu orang-orang asing mencemarkannya mezbah itu ditahbiskan dengan kidung yang diiringi dengan gambus, kecapi dan canang. Selama delapan hari setelah penahbisan, pesta dan perayaan di bait suci berlanjut. Diputuskan bahwa hari raya itu harus dirayakan dengan khidmat setiap tahun untuk memperingati akhir dari masa-masa penganiayaan dan penistaan.

Yesus menunjukkan cinta dan hormat-Nya terhadap bait suci dalam Injil hari ini dengan mengusir para pedagang. Yang semula menjadi tempat yang nyaman bagi para peziarah dari bagian lain negeri itu untuk membeli kebutuhan untuk korban yang mereka persembahkan telah menjadi tempat mencari untung dengan tidak jujur, penuh korupsi dan kolusi yang dilakukan oleh para pemimpin agama.

Bagi kita, memurnikan bait suci berarti menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan kita. Segala urusan hidup kita haruslah menampakkan keadilan dan belas kasih. Setiap aspek kehidupan harian kita perlu dimurnikan dengan rahmat Allah. Mungkin saat ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk bertanya pada diri kita sendiri: Apa yang perlu Tuhan usir dari dalam diri kita untuk menjadikan kita orang Kristen yang lebih baik? Apa yang menghalangi kita untuk lebih dekat dengan-Nya dalam kehidupan setiap hari? Yang penting bagi kita para murid Kristus adalah bahwa kita melekat pada Tuhan dan dekat dengan orang-orang yang telah dipercayakan-Nya kepada kita. Kemudian, kita bisa menyembah Dia dengan seluruh hidup kita. Setiap sisi kehidupan kita, kehidupan keluarga, karya, kehidupan sosial maupun pribadi, hendaknya mencerminkan ibadah kita, dengan Allah bertahta dalam hati kita.

Dosa atau kebiasaan buruk apa yang paling mencemari bait Roh Kudus, yaitu tubuh saya? Apa yang akan saya lakukan untuk menghindari dosa ini?

Tuhan, setiap kali aku tergoda untuk berbuat dosa, ingatkan aku akan kasih-Mu dan betapa dosa itu menyakitkan hati-Mu. Amin.

Peringatan St. Andreas Dung-Lac

Hari ini kita peringati St. Andreas Dung-Lac, seorang martir dari Vietnam. Ia adalah salah seorang dari 117 Martir Vietnam yang dikanonisasi oleh Santo Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 19 Juni 1988. Ia adalah seorang imam praja pribumi vietnam yang berkarya bersama para imam dari Serikat MEP (Mission Etrangères de Paris).

Iman Katolik di Vietnam pertama kali dibawa oleh para Misionaris dari Portugal pada abad keenam belas. Selanjutnya para Misionaris Jesuit membuka rumah misi pertama di kota Da Nang pada tahun 1615. Mereka berkarya bersama umat Katolik Jepang yang telah diusir dari Jepang.

Pada masa pemerintahan Kaisar Minh-Mang (1820-1840) semua karya misionaris asing di vietnam dinyatakan terlarang. Raja sendiri mencoba untuk membuat orang-orang Kristen Vietnam menyerahkan iman mereka dengan menginjak-injak salib. Ketika mereka tetap bertahan dengan iman mereka; mereka mulai mengalami penganiayaan dan banyak yang tewas menjadi martir.

117 martir Vietnam tersebut terdiri terdiri dari 96 orang Vietnam, 11 orang Spanyol serta 10 orang Perancis.  Delapan orang di antara mereka adalah Uskup, 50 orang adalah Imam dan 59 orang lainnya adalah umat Katolik awam. Sebagian dari antara para imam tersebut adalah imam Dominikan, sedangkan yang lainnya adalah imam Praja dan Imam Serikat Misi Paris (MEP). 

Penyiksaan yang dialami para Martir ini dianggap sebagai yang terburuk dalam sejarah Kemartiran Gereja Kristen. Para penyiksa diketahui memutilasi setiap sambungan sendi ditubuh mereka, mengoyak daging dengan besi membara, dan menggunakan obat-obatan untuk memperbudak pikiran para korban. Orang-orang Kristen Vietnam pada saat itu diberi cap dengan besi membara di wajahnya dengan tulisan “t đo” yang berarti : “Agama Jahat (Seram)”. Setiap desa tempat dimana terdapat keluarga Kristen akan dilenyapkan.

Para martir Vietnam telah menderita untuk mempertahankan harta terbesar yang mereka miliki: Iman Katolik mereka. Mereka mampu menanggung penyiksaan percaya bahwa Yesus ada bersama mereka dalam segala hal.

Author

Write A Comment