Sabda Hidup
Minggu, 3 September 2023, Minggu Biasa XXII Tahun A, Minggu Kitab Suci Nasional
Bacaan: Yer. 20:7-9; Mzm. 63:2,3-4,5-6,8-9; Rm. 12:1-2; Mat. 16:21-27.
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
(Mat 16: 24)
Suatu hari Minggu, sepulang dari gereja, seorang Pace Tinus tiba-tiba memikul istrinya mengelilingi rumah. Istrinya terkejut dan bertanya: “Apa-apan nih? Apakah tadi pastor mengatakan agar kamu lebih romantis?” “Nggak,” jawab suaminya, “Tadi Pastor mengulang apa yang dikatakan Yesus: Setiap orang yang mau mengikuti aku, harus memikul salibnya dan mengikut Aku.” Hehehe…
***
Salah satu dari sekian banyak syarat untuk mengikuti Yesus sebagaimana diutarakan-Nya dalam Injil hari ini adalah kesediaan memikul salib. Ucapan Yesus itu mengandung makna yang dalam. Menyangkal diri berarti mengatakan “tidak” kepada diri sendiri dan “ya” kepada Allah. Dengan kata lain ia harus melupakan dirinya dan menjadikan Allah yang paling penting dalam hidupnya. Sementara memikul salib berarti berkorban, tabah, rela menderita, dan bersedia meninggalkan segala kesenangan, privilese, serta kenikmatan hidup karena telah mengikuti Kristus.
Bagi kebanyakan orang, salib adalah beban. Karena itu mereka berusaha untuk mengelakkannya. Petrus pun demikian. Itulah sebabnya ketika Yesus memberitahukan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan, Petrus menarik-Nya ke samping dan berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Mat 16: 22).
Namun jawaban Yesus jelas dan tegas. Orang yang mau mengikuti-Nya harus menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari. Yesus hendak mengatakan bahwa tiada kemuliaan tanpa salib; tiada kebangkitan tanpa kematian; tiada keberhasilan tanpa pengorbanan. Salib adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan Yesus sendiri pun harus mengikuti jalan itu sebelum Ia mencapai kemenangan.
***
Dalam dunia yang semakin maju di mana hidup manusia semakin dipermudah, misteri salib hampir tidak mendapat tempat. Di mana-mana orang berusaha untuk sedapat mungkin menjauhi kesukaran dan kesulitan dalam hidup. Kalau bisa diperoleh dengan cara gampang, mengapa harus bersusah-susah? Itulah sebabnya tidak sedikit orang yang tega-teganya mencuri, merampok, menipu, korupsi. Namun percayalah bahwa itu bukanlah jalan yang tepat untuk mencapai keselamatan. Hanya melalui salib orang mencapai kebahagiaan. Dalam Yoh 16: 20 Yesus berkata: “Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” Yesus tidak berkata, “Dukacitamu akan Kuganti dengan sukacita.” Perlu suatu proses untuk menanggung penderitaan untuk mencapai kebahagiaan. Untuk mengikuti Yesus, kita harus memikul salib kita.
Karena itu marilah kita memikul salib masing-masing dengan sabar dan tanpa mengeluh, sebab besarlah upah yang akan kita dapat dalam kerajaan yang dijanjikan Allah.
***
Hari ini juga kita rayakan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional, mengawali Bulan Kitab Suci Nasional 2023. Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2023 mengajak kita sebagai umat Gereja Katolik di Indonesia untuk mmerenungka sosok Allah, sang Pencipta ini. Dalam BKSN 2022, bersama nabi Amos dan Hosea, kita telah diajak untuk mengenal Allah, sebagai sumber harapan hidup baru, dengan ayat emas “Carilah TUHAN, maka kamu akan hidup” (Amos 5:6). Dalam BKSN 2023 ini, bersama dengan Nabi Yunus dan Yoel, kita diajak untuk merenungkan “Allah Sumber Kasih dan Ke-selamatan”, dengan ayat emas “Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yun. 4:2). Dalam segala kesulitan dan persoalan hidup, dalam segala kesulitan dan persoalan dalam usaha kita memikul saling dan mengikuti Kristus, selalu ada pengharapan. Sebab Allah kita adalah Sumber Kasih dan keselamatan.
