Sabda Hidup
Senin, 13 Maret 2023, Senin Pekan Prapaskah III
Bacaan: 2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; Mzm. 43:3,4; Luk. 4:24-30.
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”
(Luk 4: 24)
Perikope Injil hari ini menampilkan reaksi Yesus dengan keberanian kenabian terhadap skeptisisme dan kritik yang dilontarkan oleh orang-orang Nazaret, kampung halamannya, dalam menanggapi “Pencanangan Misi”-Nya di sinagoga pada suatu hari Sabat.
Yesus bereaksi terhadap sikap negatif orang Nazaret dengan komentar, “Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya!” Selanjutnya, Ia menunjuk pada kisah-kisah Alkitab tentang bagaimana Tuhan memberkati dua orang non Yahudi, sementara menolak banyak orang Yahudi dalam situasi yang sama, justru karena orang bukan Yahudilah yang lebih terbuka kepada para nabi. Pertama, Yesus mengingatkan mereka tentang janda miskin di Sarfat, di Libanon (1 Raj 17:7-24). Nabi Elia tinggal bersama ibu janda itu dan putranya selama tiga setengah tahun kekeringan, memberi mereka makan secara ajaib, dan kemudian menghidupkan kembali putranya dari kematian. Kemudian Yesus menunjuk kepada Naaman, seorang jenderal militer kafir dari Siria, yang disembuhkan dari kusta oleh nabi Elisa (2 Raj 5:1-19), sedangkan penderita kusta lainnya di Israel tidak.
Kata-kata Yesus menyiratkan bahwa, seperti orang-orang di kampung halamannya, orang Israel pada masa lalu tidak dapat mengalami mukjizat karena ketidakpercayaan mereka. Ketidakpercayaan orang Yahudi dan Iman yang lebih kuat dari orang bukan Yahudi yang ditunjukkan oleh Yesus itu membuat para pendengarnya di Nazaret marah. Mereka bergegas menangkap Yesus dan hendak melemparkan-Nya dari tebing tempat kota mereka terletak. Tetapi Yesus lewat di tengah-tengah mereka, lalu pergi.
Sahabat-sahabat, saat kita melakukan tindakan kenabian, kita mesti siap menghadapi penolakan, pengkhianatan, ketidakpercayaan atau bahkan pelecehan dari orang-orang yang kita kenal: keluarga, teman, kerabat dst. Akankah kita “kalah” terhadap penolakan mereka?
Kita harus memiliki keberanian sebagai nabi. Injil hari ini menantang kita untuk memiliki keberanian atas keyakinan Kristiani kita dalam kehidupan kita sehari-hari di komunitas kita, ketika kita menghadapi kebencian dan penolakan karena Iman Kristiani kita.
Selain itu, janganlah kita menolak Tuhan dalam hidup kita, seperti yang dilakukan oleh orang-orang se-kampung halaman dengan Yesus. Apakah kesombongan kita menghalangi kita untuk mengenali tuntunan, pertolongan, dan campur tangan Allah dalam hidup kita, yang datang kepada kita melalui firman-Nya di dalam Kitab Suci, melalui ajaran Gereja dan melalui nasihat dan teladan orang lain?
Ya Tuhan, anugerahilah aku rahmat yang cukup agar aku mampu menjadi rendah hati untuk menerima keselamatan-Mu. Amin.
