Sabda Hidup
Sabtu, 11 Februari 2023, Sabtu Pekan Biasa V, St. Perawan Maria Lourdes, Hari Orang Sakit Sedunia Ke-31
Bacaan: Kej. 3:9-24; Mzm. 90:2,3-4, 5-6,12-13; Mrk. 8:1-10.
“Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.”
(Mrk 8: 6 – 7)
Injil hari ini mengisahkan Yesus yang memberi makan 4.000 orang. Peristiwa itu terjadi di sebuah bukit dekat Danau Galilea sesudah Yesus dan para murid kembali dari Dekapolis. Orang banyak itu telah mengikuti Yesus selama tiga hari. Mereka tak lagi mempunyai makanan. Perbekalan sudah habis. Maka tergeraklah HATI-NYA oleh belas kasihan dan memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberi mereka makan. Namun murid-murid-Nya mengeluh: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” (Mrk 8:4)
Ketimbang mengeluh, Yesus mengajak para murid melihat resource mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” (Mrk 8: 5) Dan dari resource yang kita miliki, kita berbagi. “Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak,” (Mrk 8: 6). Dari yang sedikit, dipersembahkan kepada Tuhan dan dibagikan, mereka berkelimpahan. “Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul, “ (Mrk 8: 8).
Kisah ini nampak seperti pengulangan dari Mrk 6: 34 – 44. Namun ada dua perbedaan antara keduanya. Mrk 6: 30 – 44 mengisahkan mukjizat itu dengan setting yang berbeda dengan Mrk 8: 1 – 10. Mrk 6: 30 – 44 mengisahkan peristiwa itu terjadi di daerah Yahudi dan Yesus memberi makan 5.000 orang, sedangkan Mrk 8: 1 – 10 Yesus memberi makan 4.000 orang dan peristiwa itu terjadi di daerah orang-orang bukan Yahudi. Pada kisah yang pertama terdapat sisa 12 bakul yang melambangkan 12 suku Israel sedangkan pada kisah kedua terdapat sisa 7 bakul yang melambangkan jumlah suku-suku Kanaan. Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.
Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Ekaristi adalah Paskah baru yang tidak lagi merayakan pembebasan orang Yahudi dari perbudakan Mesir melainkan pembebasan seluruh umat manusia dari dosa. Ini adalah pemenuhan janji yang terdapat dalam Kitab Kejadian. Dalam Ekaristi Tuhan memberikan kepada kita satu cara untuk mengatasi efek-efek dari dosa-dosa yang diulang-ulang, suatu cara untuk memulihkan kita sebagai anak-anak Allah. Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara rohani, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak dengan mukjizat penggandaan roti dan ikan itu.
Kita semua berharga di mata Tuhan dan Ia ingin mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Ia telah memberi kita makan Tubuh dan Darah-Nya. Ia juga telah mengenyangkan kita dengan Sabda-Nya. Pada gilirannya, kita mengucap syukur atas hidup kita, atas segala anugerah yang telah kita terima, mempersembahkannya kepada Tuhan, memecah-mecahkannya, dan membagi-bagikannya kepada sesama.
Seperti Yesus memberi makan mereka yang lapar, Ia mengundang kita juga untuk memberi makan kepada yang lapar. Ia mengundang kita untuk mempersembahkan hati kita kepada-Nya, agar hati kita menjadi seperti Hati-Nya dan melalui kita Ia dapat menyentuh hidup banyak orang. Mari kita juga memberi makan mereka yang lapar secara rohani dengan kebaikan hati, bela rasa dan kasih.
Hari ini juga kita rayakan sebagai “Hari Orang Sakit Sedunia”. Paus Fransiskus dalam pesannya mengingatkan kita untuk peduli dengan teman-teman seperjalanan dalam peziarahan hidup kita, terutama yang sakit, yang lelah. Mari kita bangun kepedulian kita – justru pada saat-saat kita menjumpai mereka yang sakit kita disadarkan apakah kita sungguh-sungguh menjadi teman seperjalanan sesama kita, atau kita hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri dan terkungkung dalam egoisme.
