Remah Harian

MEMBANGUN KEMURIDAN OTENTIK

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 7 Desember 2023, Kamis Pekan Advent I, Peringatan St. Ambrosius
Bacaan: Yes. 26:1-6Mzm. 118:1,8-9,19-21,25-27aMat. 7:21,24-27

(Mat 7: 21. 24 – 25)

Ada sebuah cerita tentang seorang ibu yang suka menonton film sentimental. Pada suatu kesempatan, ia menonton film yang menampilkan kemalangan seorang gadis yatim piatu. Singkat kata, film tersebut adalah sebuah film yang mampu menguras air mata. Dan ibu itu meneteskan air mata sepanjang film. Ia sangat tersentuh oleh berbagai kesulitan yang dialami oleh sang tokoh utama. Akhirnya film berakhir, ibu itu mengeringkan air matanya, mengambil barang-barangnya dan pergi. Saat dia keluar dari gedung bioskop, seorang gadis kecil yang lemah dengan pakaian compang-camping mendekatinya. Ia kurus kering dan gemetar karena kedinginan. “Bu,” pintanya, “Saya belum makan selama dua hari. Tolonglah saya….. ” Ibu itu bereaksi dengan marah. “Pergi, kutu kupret!” teriaknya. “Kamu ya…. Membuat pemandangan kota ini jadi kotor…jelek!” dan perempuan itu berjalan pergi, terbungkus dengan kesalehannya. Seorang pengemis yatim piatu fiktif dalam film dapat menggugah perasaannya, tetapi tidak dengan pengemis yang nyata di depan matanya.

Injil hari ini menggambarkan keaslian hidup sebagai murid Kristus, kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, antara keberadaan dan perbuatan seseorang. Kebalikannya adalah kemunafikan (jika disengaja) dan skizofrenia (jika tidak disadari).

Beberapa tahun yang lalu, pernah saya jumpai sebuah buku yang berjudul: “To Hell on Monday,” (Ke Neraka di Hari Senin). Buku ini mengkritik praktik keagamaan banyak orang, yaitu ke Gereja atau menyembah Tuhan pada hari Minggu, tetapi ke “Neraka” mulai hari Senin dan seterusnya. Tidak ada kesesuaian antara praktek kesalehan di hari Minggu dengan praktek kehidupan di hari Senin dan seterusnya. Seorang teolog menyebut fenomena yang sama ini sebagai “Kekristenan yang terbelah.”

Mencari kesejatian adalah dasar dari semua pemikiran moral/etika. Aksioma metafisik “agere sequitor esse” (tindakan mengikuti keberadaan) adalah norma moral yang sama: seseorang harus bertindak sesuai dengan kodratnya. Seorang manusia harus bertindak atas cara manusiawi secara cerdas dan bertanggung jawab. Dalam istilah Yahudi, halakah (cara seseorang “berjalan”) harus mengikuti haggadah (ajaran). Dalam surat-surat Santo Paulus, bagian moral/parenetik mengikuti bagian dogmatis/doktrinal.

Dalam perkembangan manusia, ini adalah tujuan dari pertumbuhan menjadi pribadi yang utuh, yakni ketika kemampuan/potensi manusia (intelektual, afektif, konatif) berfungsi atau berinteraksi secara harmonis, ketika “kepala, hati, dan tangan” seseorang bekerja secara selaras.

Melalui perumpamaan dua orang yang membangun rumahnya kita diingatkan bahwa kita harus membangun hidup kita di atas landasan ajaran Yesus yang kokoh. Menyembah Tuhan tanpa komitmen pada Sabda Tuhan adalah kemunafikan. Ketulusan dalam diri seorang Kristen dapat ditunjukkan bukan hanya dengan apa yang dikatakannya, tetapi dengan apa yang dilakukan. Kata-kata yang baik tidak pernah bisa menggantikan perbuatan baik.

Dengan demikian, Injil hari ini merupakan panggilan Yesus kepada pemuridan yang otentik, didasarkan pada fondasi ajaran Injil yang kuat. Bertindak atas Sabda Kristus menunjukkan komitmen Kristiani yang otentik. Yesus mengontraskan seorang bijaksana yang mempraktekkan apa yang dia yakini, dengan orang bodoh yang tidak menjalankan keyakinan agamanya, dengan menggunakan gambaran seorang yang membangun rumahnya di atas batu yang kokoh dan seorang lain yang membangun rumahnya di atas pasir di musim panas. Hanya rumah dengan fondasi yang kokoh dan kuat yang dapat menahan badai dan banjir, dan hanya orang yang hidupnya memiliki fondasi rohani yang kuat yang dapat bertahan dalam ujian. Membangun di atas pasir adalah jalan menuju kehancuran. Jadi, kedua orang ini meringkaskan dua jalan – jalan kebenaran sempurna dan jalan pembenaran diri sendiri. Pada Hari Penghakiman, yang pertama akan tegak berdir di hadapan Anak Manusia; yang kedua akan jatuh.

Hendaknya praktik iman kita selaras dengan pengakuan kita akan hal itu. Buah ibadah kita adalah pengaruhnya di rumah dan tempat kerja kita dan pada hubungan kita dengan sesama. Ujian terbesar kita adalah perhatian dan kepedulian yang kita tunjukkan kepada sesama kita, yang banyak di antaranya biasanya mengalami ketiadaan kasih sayang, kata-kata penyemangat dan pengampunan.

Tuhan, semoga kami dapat menjadi murid-murid-Mu yang otentik. Amin.

Author

Write A Comment