Remah Mingguan

MEMBANGUN GEREJA KRISTUS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 27 Agustus 2023, Minggu Biasa XXI Tahun A
Bacaan: Yes. 22:19-23Mzm. 138:1-2a,2bc-3,6,8bcRm. 11:33-36Mat. 16:13-20.

Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

(Mat 16: 18)

Paus Yohanes XXIII adalah Paus pada tahun 1960an saat Gereja mengalami goncangan dalam pelbagai bidang hidup. Terjadi krisis imamat, krisis hidup religius, krisis perkawinan, krisis iman. Singkatnya Gereja sedang mengalami krisis berat. Paus bekerja keras untuk menanggapi krisis itu. Suatu malam, setelah pekerjaan yang melelahkan sepanjang hari, ia pergi ke kapel untuk berdoa sebelum ia istirahat. Karena kelelahan dan beban berat yang ia tanggung ia tidak dapat fokus untuk berdoa. Setelah beberapa kali mencoba memusatkan diri dan berdoa tetapi gagal, ia berdiri dan berkata: “Tuhan, Gereja ini milik-Mu. Aku mau tidur.” Kesulitan dan beban berat mungkin telah mendorong Paus Yohanes XXIII mengakui bahwa Gereja adalah milik Kristus. Tetapi Yesus sendiri telah mengatakannya lebih dari 2000 tahun yang lalu: “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya,” (Mat 16: 18).

Perikope Injil hari Minggu Biasa XXI ini sangat krusial untuk memahami apa itu Gereja dan peran kita di dalamnya. Sebab di sinilah terdapat pernyataan Yesus yang paling ekspilisit tentang Gereja.

Pertama, dikatakan bahwa Yesuslah yang empunya Gereja. Bukan Petrus, bukan para rasul yang mempunyai Gereja. Para gembala dan pemimpin yang berpikir dan bertindak seakan Gereja adalah milik mereka itu akan seperti para buruh yang mengaku bahwa tanah yang mereka kerjakan adalah milik mereka. Semua umat Allah dipanggil untuk menjadi rekan-rekan sekerja dalam kebun anggur Kristus, meski beberapa berperan sebagai pemimpin yang memandu rekan kerja lainnya. Tetapi Gereja adalah milik Kristus dan Kita adalah milik Gereja.

Kedua, dikatakan bahwa Yesuslah yang membangun Gereja-Nya. Dialah pimpinan proyek yang mempunyai rancangan utama bagi Gereja-Nya. Kita adalah rekan-rekan sekerja Yesus yang membantu-Nya untuk membangun. Untuk itu kita harus mendengarkan dan mengikuti perintah-Nya, melakukan peran kita dalam grand design Yesus sendiri. Pekerja yang hanya mengikuti pikirannya sendiri dan tidak mendengar perintah dari pimpinan proyek dapat menyimpang dari maksud pimpinan proyek itu.

Jika Yesus adalah pemilik dan pembangun Gereja, di manakah peran kita? Kita masuk persis di tempat Petrus. Bersama dengan Petrus kita adalah batu-batu yang dipakai untuk membangun Gereja. Petrus adalah batu fondasinya dan kita adalah batu-batu yang lain yang dipakai untuk membangun Gereja.

 “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah,” (1 Petrus 2: 5).

“Biarlah kamu dipergunakan sebagai batu hidup” menunjukkan bahwa Tuhan sendirilah Sang Pembangun, bukan kita. Peran kita adalah dipakai oleh Tuhan. Pertanyaan yang dapat muncul adalah: “Bagaimana Tuhan menggunakan saya untuk membangun Gereja-Nya? Apakah saya membiarkan diri agar Tuhan menggunakan saya? Janganlah kita lupa, sebagai batu, sekecil apapun kita, Sang Tukang tetap dapat menggunakan kita untuk sesuatu yang indah.

Seorang seniman besar sedang mengerjakan jendela sebuah Katedral dari kaca patri yang menggambarkan wajah Yesus. Pertama-tama, ia meletakkan semua keping kaca yang akan ia gunakan itu di lantai katedral. Di antara keping-keping kaca yang menakjubkan itu adalah keping-keping kecil, yang mungkin hanya sebesar kuku jari. Ketika kaca patri itu disusun hingga selesai, sekeping kecil kaca tertinggal di lantai. Ketika tiba harinya jendela katedral dengan kaca patri yang indah itu diresmikan, seluruh penduduk kota berkumpul menyaksikannya. Seniman itu membuka tirai yang menutupi jendela itu dan orang banyak berdecak kagum karena keindahan jendela yang berwarna-warni itu. Apalagi sinar matahari menerpa jendela menambah keindahannya. Tetapi setelah beberapa waktu, orang banyak itu terdiam. Mereka merasa sepertinya ada yang kurang. Gambar di jendela itu belum selesai. Seniman besar itu mencari kepingan yang tertinggal kemudian berjalan menuju tempat di mana sekeping kecil kaca itu terletak. Ia mengambilnya dan menempatkannya pada gambar itu, persis pada mata Yesus. Ketika sinar matahari menerpa kepingan kecil itu, terpancarlah kemilau cahaya yang indah. Karyanya kini telah komplit. Tanpa sekeping kecil kaca itu, karyanya tidak lengkap.

Dalam rancangan induk bangunan Gereja, setiap orang dari kita dapat menjadi sekeping kaca kecil itu – sangat kecil tetapi sangat diperlukan.

Tuhan, pakailah aku sesuai kehendak-Mu, untuk membangun Gereja-Mu. Amin.

Author

Write A Comment