Remah Mingguan

MEMANDANG DIA YANG TERSALIB

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 10 Maret 2024, Minggu Prapaskah IV Tahun B
Bacaan: 2Taw. 36:14-16,19-23Mzm. 137:1-2,3,4-5,6Ef. 2:4-10Yoh. 3:14-21.

YOH 3: 14 – 15

Hanya Penginjil Yohanes yang berbicara tentang Nikodemus, seorang tokoh terkemuka di antara orang-orang Farisi. Dia mungkin adalah seorang anggota Sanhedrin yang agung, yang memanfaatkan kegelapan dan keheningan malam untuk “diam-diam” mendatangi Yesus.

Nikodemus berjuang untuk memahami ajaran Yesus tentang “dilahirkan dari atas” (dilahirkan dalam Roh). Namun, sebagai pembaca modern, kita memiliki hak istimewa untuk memahami bahwa memandang Yesus yang “ditinggikan” berarti memusatkan pandangan kita pada kasih yang tak tergoyahkan yang Yesus tunjukkan dalam kematian-Nya di kayu salib.

Yesus membandingkan Anak Manusia yang ditinggikan dengan ular tembaga yang “ditinggikan” oleh Musa di padang gurun. Di padang gurun, Musa meninggikan ular tembaga pada tiang agar supaya orang-orang Israel yang memandang ular tembaga itu diselamatkan dari pagutan ular-ular tedung yang didatangkan YHWH-Allah karena dosa pemberontakan mereka (lihat Bil 21:4-9). Saat ini, “ular-ular tedung” yang melukai, meracuni keberadaan kita dan membahayakan hidup kita adalah kesombongan, iri hati, kebencian, dan nafsu yang tidak terkendali. Setiap saat, kita menemukan ular-ular yang mengintai di sekitar kita, tetapi yang paling utama adalah ular-ular yang ada di dalam diri kita sendiri. Ular-ular itu adalah keinginan untuk memiliki harta benda, hiruk-pikuk kekuasaan, dan keinginan untuk mendapatkan popularitas. Injil menjanjikan bahwa hanya dengan mengalihkan pandangan kita kepada Dia yang telah bangkit di atas kayu salib, kita dapat disembuhkan dari racun maut yang telah disuntikkan ke dalam hati manusia. Seperti yang diyakinkan oleh penginjil, suatu hari nanti kita akan memandang Dia yang telah kita tikam (Yoh 19:37) dan diselamatkan.

Masa Prapaskah bukan hanya tentang pertobatan, penebusan dosa dan pertobatan. Masa Prapaskah juga berfokus pada kasih Allah, dan kita harus mengingatnya dalam hati kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal”. Ini berbicara tentang Allah yang mengasihi kita tanpa batas. Sengsara Kristus adalah kasih yang tanpa batas itu.

Dia memberi kita karunia kasih sehingga kita dapat menghidupinya dan membagikannya tanpa batas. Apa lagi yang bisa kita minta? Masa Prapaskah adalah tentang melihat ke atas, memandang dia yang tersalib, dan mengenali di sana kasih yang dengannya Allah mengasihi kita tanpa batas.

Tuhan, sambil memandang salib-Mu, kami bersyukur atas kasih-Mu yang tanpa batas. Kami mohon, semoga kami sungguh-sungguh menjadi tanda kasih, pengharapan dan pengampunan-Mu bagi semua orang. Amin.

Author

Write A Comment