Sabda Hidup
Rabu, 14 Desember 2022, Rabu Pekan Advent III, Peringatan St. Yohanes dari Salib
Bacaan: Yes. 45:6b-8,18,21b-25; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 7:19-23.
“Ketika Yohanes mendapat kabar tentang segala peristiwa itu dari murid-muridnya, ia memanggil dua orang dari antaranya dan menyuruh mereka bertanya kepada Tuhan: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang lain?”
(Luk 7: 18 – 19)
Yohanes pembaptis mengutus dua orang muridnya untuk bertanya kepada Yesus, apakah Ia adalah Sang Juruselamat yang dinanti-nantikan, atau masih harus menunggu orang lain. Tidak disebutkan oleh Injil Lukas bahwa Yohanes sedang dipenjara. Dalam Injil Matius (11: 2 -3) dikatakan bahwa Yohanes mengutus dua orang muridnya itu saat ia dipenjara oleh Herodes. Apakah ia meragukan bahwa Yesus adalah Mesias, padahal ketika ia masih di kandungan, ia dapat mengenali-Nya? (Bdk Luk 1: 44).
Yohanes juga manusia seperti kita semua. Ketika ia di penjara, bisa jadi ia juga merasa sendirian, kesepian, kehilangan semangat, putus asa. Menjawab pertanyaan Yohanes, Yesus menunjuk pada apa yang telah dinubuatkan oleh Yesaya (35: 4 – 6): “Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara.” Yesus menunjuk pada mukjizat-mukjizat yang telah Ia lakukan. Mengenai hal ini Katekismus Gereja Katolik berkata: “Yesus mengiringi kata-kata-Nya dengan “kekuatan-kekuatan dan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda” (Kis 2:22). Semuanya ini menunjukkan bahwa Kerajaan hadir di dalam-Nya, karena memberi kesaksian bahwa Yesuslah Mesias yang dijanjikan itu,” (KGK 547).
Ketika kita mengalami situasi terendah dalam hidup kita, tidak jarang timbul keraguan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sering kali bermuara pada pertanyaan: Apakah Yesus dapat menolong saya dalam menghadapi masalah saya ini? Ketika kita ragu, apakah kita kehilangan iman? Sering kali kita ingin jawaban yang instan. Sering kali Yesus hanya memberikan tanda-tanda: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Luk 7: 22). Perlu kepekaan hati untuk membaca tanda-tanda. Perlu hati yang terbuka untuk membaca jejak-jejak cinta Tuhan dalam hidup kita. Dia tidak pernah melepaskan pegangan tangan-Nya.
Banyak pengikut Kristus yang sudah bertahun-tahun ke gereja dan aktif melayani masih mengalami keragu-raguan. Apakah itu berarti kurang beriman? Tidak juga. Bisa juga itu berarti bahwa pegangan-pegangan duniawi yang selama ini masih melekat mulai dilepaskan dan digantikan dengan pegangan baru yang lebih baik, yaitu Yesus sendiri.
Kadang-kadang keragu-raguan timbul hanya karena kita belum terbiasa dan kurang peka dengan cara Tuhan bekerja, bukan karena kita tidak mempercayai-Nya. Dengan pengalaman-pengalaman itu semoga iman kita semakin dewasa.
Santo Yohanes dari Salib

Yohanes dari Salib lahir di Spanyol pada tahun 1542 dari keluarga miskin. Ia menjadi pelayan di rumah sakit Medina. Pada usia 21 tahun ia diterima sebagai anggota awam biara Karmelit. Di situ ia menata hidup rohaninya dengan tekun berdoa dan bermatiraga. Pemimpin biara Karmelit itu kagum dengan cara hidupnya yang saleh itu. Ia juga tahu bahwa Yohanes sangat pandai. Oleh sebab itu, ia segera menyekolahkan Yohanes di Universitas Salamanca, Spanyol. Setelah menyelesaikan studinya, Yohanes kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1567 dalam usia 25 tahun. Ia bersahabat baik dengan Santa Theresia Avila yang tertarik pada cara hidup dan usahanya membaharui Ordo Karmelit. Yohanes diangkat menjadi prior pertama dari susteran Karmelit itu dan mengambil nama resmi: Yohanes dari Salib. Tetapi beberapa kawan biaranya tidak suka akan tindakannya. Ia dikenakan hukuman dan dimasukkan dalam sel biara. Yohanes menerima perlakuan yang semena-mena dari rekan-rekan se-ordo. Setelah 9 bulan meringkuk di dalam tahanan biara, Yohanes kemudian melarikan diri dari biaranya. Usaha pembaharuannya itu disalah tafsirkan oleh rekan-rekan se-ordo. Sel biara itu memberinya pengalaman akan salib penderitaan Yesus. Tetapi berkat pengalaman pahit di dalam sel itu, ia justru mendapat pengalaman rohani yang mengagumkan: ia mengalami banyak peristiwa mistik; mampu menggubah kidung-kidung rohani; ia sering mengalami ekstase dan semakin memahami secara sungguh mendalam teologi dan ajaran-ajaran iman Kristen. Semua pengetahuan itu diabadikannya di dalam buku-buku yang ditulisnya. Isi buku-bukunya sangat mendalam dan sangat bermanfaat bagi kehidupan membiara. Tekanannya ialah: “Salib menuntun kepada kebangkitan dan penyangkalan diri.” Walaupun mengalami berbagai kesulitan dari rekan se-ordonya, namun ia tetap bergembira karena persatuannya yang erat dengan Tuhan. Ia wafat pada tahun 1591 dan dinyatakan sebagai Pujangga Gereja.
