Sabda Hidup
Selasa, 21 Maret 2023, Selasa Pekan Prapaskah IV
Bacaan: Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16.
“Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa Ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah Engkau sembuh?”
(Yoh 5: 6)
Injil hari ini mengisahkan seorang yang menderita lumpuh selama 38 tahun. Ia berada di antara mereka yang sakit dan menunggu goncangan air kolam Betesda yang dipercaya dapat menyembuhkan. Pertanyaan Yesus: “Maukah engkau sembuh?”, tentu suatu pertanyaan yang sungguh dinantikan. Yesus, Sumber Air Hidup, menyembuhkan orang itu. Menarik bahwa ketika bertemu kembali dengan orang itu Yesus berkata: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Apa yang lebih buruk dari kelumpuhan jiwa yang disebabkan oleh dosa-dosa kita?
Mari kita lihat salah satu makna simbolis yang jelas dari perikop di atas. Orang yang disembuhkan Yesus dari lumpuhnya, tidak dapat berjalan dan mengurus dirinya sendiri. Orang lain mengabaikannya saat ia duduk di tepi kolam, berharap mendapatkan kebaikan dan perhatian. Yesus melihatnya dan memberikan perhatian penuh kepadanya. Setelah berdialog singkat, Yesus menyembuhkannya dan menyuruhnya bangkit dan berjalan.
Satu pesan simbolis yang jelas adalah bahwa kelumpuhan fisiknya adalah gambaran dari kelumpuhan akibat dosa dalam hidup kita. Ketika kita berdosa, kita “melumpuhkan” diri kita sendiri. Dosa memiliki konsekuensi yang sangat besar dalam hidup kita dan konsekuensi yang paling jelas adalah bahwa kita tidak dapat bangkit dan berjalan di jalan Allah. Dosa membuat kita tidak berdaya untuk mengasihi dan hidup dalam kebebasan yang sejati. Dosa membuat kita terjebak dan tidak mampu untuk peduli terhadap kehidupan rohani kita sendiri atau orang lain dengan cara apa pun. Sangatlah penting untuk melihat konsekuensi dari dosa. Bahkan dosa-dosa kecil pun dapat menghalangi kemampuan kita, melucuti energi kita, dan membuat kita lumpuh secara rohani pada tingkat tertentu.
Mudah-mudahan Anda mengetahui hal ini dan ini bukanlah hal yang baru bagi Anda. Tetapi apa yang harus menjadi hal yang baru bagi Anda adalah pengakuan yang jujur atas kesalahan Anda saat ini. Anda harus melihat diri Anda sendiri di dalam kisah ini. Yesus menyembuhkan orang ini tidak hanya untuk kebaikan satu orang saja. Dia menyembuhkannya, untuk mengatakan kepada Anda bahwa Dia melihat Anda dalam keadaan Anda yang mengalami konsekuensi dari dosa Anda. Dia melihat Anda membutuhkan-Nya, memandang Anda dan memanggil Anda untuk bangkit dan berjalan. Biarlah Dia melakukan penyembuhan dalam hidup Anda. Jangan lalai untuk mengenali dosa terkecil sekalipun yang memberikan konsekuensi kepada Anda. Lihatlah dosa-dosa Anda, izinkan Yesus melihatnya, dan dengarkan Dia mengucapkan berkata, “Maukah engkau sembuh?”
Renungkanlah hari ini, perjumpaan yang penuh kuasa antara orang lumpuh ini dengan Yesus. Tempatkan diri Anda dalam peristiwa itu dan ketahuilah bahwa kesembuhan itu juga terjadi pada diri Anda. Jika Anda belum melakukannya pada masa Prapaskah ini, pergilah ke Pengakuan Dosa dan temukanlah kesembuhan Yesus di dalam Sakramen itu. Pengakuan dosa adalah jawaban atas kebebasan yang menanti Anda, terutama jika pengakuan dosa dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh.
Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Aku ingin melihatnya dan mengakui konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkannya bagiku. Aku tahu bahwa Engkau ingin membebaskan aku dari beban-beban ini dan menyembuhkannya. Tuhan, berilah aku keberanian untuk mengakui dosa-dosaku kepada-Mu, terutama dalam Sakramen Rekonsiliasi. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
