Sabda Hidup
Minggu, 21 Maret 2021, Minggu Prapaskah V Tahun B
“Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
(Yoh 12: 24)
Tatkala saat-saat sengsara dan wafat Yesus semakin mendekat, para murid-Nya tidak dapat mengerti, mengapa Ia harus menderita, sengsara dan wafat.
Untuk membantu mereka mengerti, Yesus memberikan perumpamaan sederhana: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” (Yoh 12: 24).
Yesus menyampaikan kepada mereka bahwa wafat-Nya mutlak perlu agar ada hidup yang baru. Itu adalah dalil pengorbanan bahwa kita akan menemukan kehidupan yang lebih baik dan lebih mulia dengan “kematian” dari kehidupan yang kurang baik.
Allah bekerja melalui proses menderita-wafat-bangkit-dari-mati. Yesus membandingkan dirinya dengan biji gandum. Ia harus mati dan dikubur dalam tanah dan pada hari ketiga Ia bangkit mulia.
Dalam pertumbuhan pribadi kita, harus ada segi-segi kehidupan yang mati, misalnya kesombongan, egoisme, kemalasan, dan sifat buruk lainnya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Misalnya, jika egoisme dan keserakahan seorang pemimpin tidak mati, maka tidak ada kemajuan ekonomi yang tumbuh bagi daerah pemilihannya.
* * *
Seorang teman jatuh dalam kebiasaan minum minuman keras. Waktunya lebih banyak diberikan kepada teman-temannya minum dan mabuk daripada kepada keluarganya.
Ketika ia semakin dalam jatuh dalam kebiasaan minum dan mabuk itu, isterinya mengingatkannya, jika ia tidak berhenti minum, ia akan meninggalkannya. Mendengar hal itu teman-temannya justru tertawa dan berkata: “Mari kita rayakan dengan minum…..”
Tak mampu memikul beban untuk menghidup keluarga dan menghadapi suaminya yang bermasalah itu, istrinya menyerah. Ia bersama-sama dengan anak-anaknya pergi meninggalkan suaminya.
Kehilangan isteri dan anak-anaknya rupanya menjadi pukulan berat bagi sang suami. Ia mencoba untuk rujuk kembali, tetapi selalu gagal. Ia pun harus menelan kesombongannya dan melalui jalan panjang serta sulit, ia mengikuti program rehabilitasi. Sahabat-sahabatnya yang prihatin dengan keadaannya, mendorongnya untuk melepaskan ketergantungannya pada minuman keras. Dari salah seorang sahabatnya, ia mengenal Marriage Encounter dan bergabung di dalamya. Akhirnya ia dapat rujuk kembali dengan isterinya dan berkumpul kembali dengan anak-anaknya. Kini mereka menjadi sebuah keluarga yang patut diteladani. Hidup yang lama telah mati, dan kini tumbuh dan berkembanglah hidup yang berkelimpahan dengan buah-buah kebaikan.
Matinya kesombongan dan kebiasan buruk sang suamilah yang menumbuhkan hidup dengan buah berkelimpahan.
Kebiasaan-kebiasaan dan tabiat buruk apakah yang ada dalam diri saya yang harus mati? Apakah ketergantungan pada minuman keras? Kecanduan dan kenikmatan nggosip? Kemarahan yang tak terkendali? Kesombongan? Cinta diri?
Dengan mati terhadap diri sendiri, kita mengalami sukacita kebangkitan, hidup yang baru dan lebih bermakna.
Bacaan hari ini: Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3-4,12-13,14-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33.
