Sabda Hidup
Rabu, 31 Mei 2023, Pesta Maria Mengunjungi Elisabet
Bacaan: Zef. 3:14-18a atau Rm. 12:9-16b; MT Yes. 12:2-3,4-bcd,5-6; Luk. 1:39-56.
Beberapa waktu kemudian bergegaslah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.”
(Luk 1: 39 – 40)
Kita sudah hafal dengan baik kisah Maria mengunjungi Elisabet. Maria, yang masih remaja, pada awal kehamilannya mengandung bayi Yesus, bergegas melintasi pegunungan dan lembah menuju sebuah kota di Yehuda, untuk bersama dengan Elisabet, yang sedang mengandung di usia tuanya. Dikatakan bahwa Maria bergegas. Ia bergegas untuk mengunjungi dan berada bersama dengan seseorang yang membutuhkannya.
St. Lukas menceriterakannya seakan Maria menyelinap keluar dari pintu depan, membuka gerbang, berbelok ke kanan, berjalan di samping taman selama satu atau dua lorong dan muncul di depan pintu rumah sepupunya, Elisabet; tidak lebih dari sekadar berjalan-jalan. Injil sering menggambarkan perjalanan kuno sebagai perjalanan yang tidak berat. Perjalanan dimulai di sini dan berakhir di sana, seakan sampai dalam sekejap.
Namun, jarak antara Nasaret di mana Maria tinggal ke Ein Karem (yang diyakini menjadi tempat tinggal Elisabet) kurang lebih 145 km. Maria memberikan waktu dan energinya. Sebenarnya ada alasan bagi Maria untuk tidak pergi: memperhatikan kesehatannya sendiri karena ia juga sedang mengandung dan mempersiapkan kelahiran. Tetapi ia mengambil risiko, melintasi jalan yang tidak gampang dan juga cukup jauh. Seluruh hidup Maria dituntun oleh Roh Tuhan. Ia tahu bahwa Elisabet membutuhkannya, maka ia bergegas menjumpainya.
Pesta Maria mengunjungi Elisabet mengenangkan seorang perempuan yang menjalani hidupnya untuk membawa kebaikan kepada sesama. Maria adalah model orang beriman yang luar biasa bagi kita. Ia pergi sebagai hamba, sebagai misionaris cintakasih. Seakan tidak cukup banyak waktu lagi untuk menunda-nunda tugas tersebut. Ia adalah misionaris yang selalu berada dalam peziarahan.
Dalam kehidupan yang berpacu dengan pelbagai macam agenda dan penuh dengan kekhawatiran, kita punya banyak alasan untuk memperhatikan diri sendiri dan keluarga saja. Ada begitu banyak excuses. Tetapi ada banyak Elisabet-Elisabet yang lain di mana-mana yang membutuhkan “kunjungan” kita.
Barangkali kita tidak berkunjung secara fisik. Tetapi betapa besar perbedaan yang dapat kita bawa saat kita menyapa entah melalui telepon, melalui macam-macam applikasi seperti whatsapp, telegram, messenger, dsb. Betapa sukacita dapat kita bawa saat kita mengunjungi orang tua kita yang sudah jompo. Betapa bahagianya anak-anak ketika mereka mendapatkan perhatian penuh kendati kesibukan kerja yang kita miliki. Betapa bahagiaanya sahabat-sahabat saat kita memberikan peneguhan dalam keberhasilan dan perayaan-perayaan mereka.
Kita hanya perlu kelembutan dan kepekaan hati untuk menemukan Elisabet-Elisabet di sekitar kita.
Bapa, terima kasih karena kami telah Engkau beri kesempatan untuk membagikan kasih-Mu dengan mengunjungi dan menyapa mereka yang membutuhkan. Sentuhlah mereka dengan sukacita-Mu. Amin.
