Sabda Hidup
Sabtu, 26 Agustus 2023, Sabtu Pekan Biasa XX
Bacaan: Rut. 2:1-3,8-11;4:13-17; Mzm. 128:1-2,3,4,5; Mat. 23:1-12.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.”
(Mat 23: 2 – 7)
Kata “Farisi” telah mendapatkan konotasi yang buruk. Jika Anda ingin “menyentil” seseorang yang tampaknya berpura-pura menjadi yang paling suci, Anda menyebutnya “orang Farisi”. Jika seseorang bertindak dengan cara yang sangat legalistik, Anda menyebutnya sebagai “orang Farisi”. Mengapa kata “Farisi” digunakan secara negatif? Jawabannya ada di Injil Matius Bab 23. Mungkin bagian itu dapat disebut sebagai “bab yang paling tidak kristiani dalam Perjanjian Baru.” Penginjil menggambarkan Yesus mengecam orang Farisi tanpa belas kasihan, sehingga banyak yang bertanya apakah Dia benar-benar mengatakan apa yang tertulis di sana. Apakah semua orang Farisi adalah orang-orang munafik yang legalistik? Kita tahu bahwa Yesus juga memiliki teman-teman di antara orang-orang Farisi. Ya, memang ada orang-orang Farisi yang perilakunya sangat buruk sehingga Yesus dengan terus terang mengecam sikap mereka, tetapi pasti ada juga yang baik di antara mereka.
Ada seorang rabi yang berkata bahwa sebagai penerus orang Farisi, dia merasa “tersakiti” oleh kata-kata Yesus karena kebanyakan orang Farisi adalah orang-orang yang sangat saleh dan setia kepada Tuhan dan perintah-perintah-Nya.
Untuk memahami bab ini dengan benar, kita harus ingat bahwa pendekatan Matius terhadap Kitab Suci adalah menafsirkannya berdasarkan perintah-perintah KASIH. Cinta dan belas kasih menentukan bagaimana Kitab Suci harus diterapkan, bukan birokrasi legalistik yang beranggapan bahwa Allah adalah seorang pengatur yang gila kontrol. Di sepanjang sejarah, kita dapat menemukan banyak contoh kekerasan yang dilakukan atas nama Kitab Suci atau bahkan menggunakan Kitab Suci. Dan Matius ingin agar komunitasnya menghindari sikap tersebut. Injil sering kali menunjukkan kepada kita bagaimana Yesus menafsirkan ulang Kitab Suci, dengan selalu menekankan cinta dan belas kasihan. Kita mendapati Yesus, yang membuat para ahli Taurat dan orang Farisi terusik, dengan melanggar hukum Sabat. Namun Yesus menjelaskan bahwa semangat dari hukum Taurat adalah kasih dan ketika hal itu dilanggar, Yesus bereaksi dengan sangat keras.
Ini juga merupakan pelajaran penting bagi kita. Kita tidak dapat bersembunyi di balik hukum dan praktek-praktek kesalehan namun mengabaikan ajaran dasar Yesus: kasih yang tak terpisahkan kepada Allah dan sesama.
Apakah Anda pernah berpikir bahwa mengikuti aturan dan menjalankan praktek-praktek kesalenan sementara mengabaikan kasih kepada sesama, akan membuat Anda terlihat baik di mata Allah?
Tuhan, janganlah biarkan kami melupakan cinta dan belas kasihan-Mu kepadaku. Tolonglah kami untuk mengasihi sesama seperti Engkau mengasihi kami. Amin.
