Sabda Hidup
Kamis, 29 Februari 2024, Kamis Pekan Prapaskah II
Bacaan: Yer. 17:5-10; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Luk. 16:19-31.
Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.”
LUK 16: 19 – 21
Di sepanjang Injilnya, Lukas mengajak komunitasnya untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan Yesus, yang penuh belas kasihan dan kelembutan kepada orang miskin, orang yang terbuang, orang berdosa, dan orang yang menderita, kepada semua orang yang mengakui ketergantungan mereka kepada Allah. Namun, Ia keras terhadap mereka yang sombong dan merasa benar sendiri, terutama mereka yang menempatkan kekayaan materi di atas kepercayaannya kepada Allah.
Ajakan ini secara khusus terlihat jelas dalam kisah orang kaya dan Lazarus. Kedua orang dalam kisah Injil hari ini memiliki keinginan yang sama: kenyamanan. Lazarus membutuhkan kenyamanan dalam wujud perhatian, perawatan, makanan dan kesembuhan. Orang kaya itu tidak ingin melepaskan gaya hidupnya yang nyaman, bahkan dengan seorang yang patut dikasihani seperti Lazarus di depan pintu rumahnya.
Ada banyak Lazarus dalam hidup kita yang terus muncul di depan pintu rumah dan hati kita dan mengundang kita untuk menanggapi perintah Injil. Mungkin Lazarus itu adalah orang yang kesepian yang ingin berbicara kepada Anda lebih dari Anda ingin berbicara kepada mereka. Mungkin dia adalah pengemis atau gelandangan yang Anda temui dalam perjalanan ke tempat kerja setiap hari atau seorang anak kecil yang berteriak meminta perhatian. Mungkin dia adalah seorang mama Papua yang kesulitan mencari makan sehari-hari karena lahannya dicaplok untuk food estate. Mungkin dia adalah seorang ibu yang selama bertahun-tahun setiap hari kamis berdiri diam di depan Istana negara, menuntut penyelesaian kasus anaknya yang tertembak pada tragedi Semanggi. Mungkin dia adalah jutaan orang tak dikenal yang mengusik hati kita dengan penderitaan akibat kemiskinan, bencana alam, dan perang, yang membutuhkan doa dan tindakan kita.
Setiap kali kita dihadapkan pada seorang Lazarus, iman kita menuntut untuk mempertaruhkan keinginan kita sendiri akan kenyamanan dengan menanggapi kebutuhan mereka. Mohonlah pengampunan atas saat-saat ketika Anda gagal mengenali atau menanggapi kebutuhan sesama, terutama yang benar-benar membutuhkan.
“Mengabaikan mereka yang menderita kelaparan, penyakit, atau eksploitasi adalah dosa modern, dosa masa kini,” kata Paus Fransiskus.
Tuhan, ampunilah dosa kami atas kegagalan kami menanggapi kebutuhan saudara-saudari kami yang menderita, tertindas, terpinggirkan, yang merindukan keadilan, yang tak mampu menyuarakan hak-hak mereka yang paling dasar. Amin.
