Remah Mingguan

KOMUNIKASI DENGAN HATI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 21 Mei 2023, Minggu Paskah VII Tahun A, Minggu Komunikasi Sosial Ke-57
Bacaan: Kis. 1:12-14Mzm. 27:1,4,7-8a1Ptr. 4:13-16Yoh. 17:1-11a.

Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu.”

(Yoh 17: 9)

Seorang pengusaha dan juga pengagum Ibu Teresa dari Kalkuta menawarkan untuk membuat satu set “kartu nama” untuk karyanya. Tercetak pada kartu kuning kecil, ada lima baris yang menguraikan arah yang disebut Ibu Teresa sebagai “jalan sederhana”-nya. Lima kalimat pada kartu nama itu berbunyi:

Buah dari keheningan adalah DOA.
Buah dari doa adalah IMAN.
Buah dari iman adalah CINTA.
Buah dari cinta adalah PELAYANAN.
Buah dari pelayanan adalah DAMAI”

(Ibu Teresa, A Simple Path, Ballantine Books, New York: 1995)

Jalan yang sederhana ini telah menuntun Ibu Teresa untuk menjalani hidupnya dalam persatuan dengan Tuhan dan memberikan pelayanan yang penuh kasih kepada mereka yang paling miskin di antara para miskin. Ketika dia bersama para murid-Nya, Yesus memberikan jalan yang sama bagi mereka. Kehidupan doa, iman, kasih, pelayanan dan damai adalah warisan-Nya bagi mereka, dan sebelum Dia kembali kepada Bapa yang mengutus-Nya, Yesus berdoa agar para pengikut-Nya bertekun di jalan yang telah Dia tempuh.

Untuk membantu orang-orang beriman agar tetap berada di jalan yang telah Ia tentukan bagi mereka, Yesus berjanji bahwa Ia dan Bapa akan datang dan tinggal di dalam diri mereka melalui Roh Kudus yang akan selalu menyertai mereka (Injil Minggu Keenam Paskah, khususnya Yohanes 14:16-20). Dalam arti tertentu, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa setiap orang akan menjadi tempat tinggal bagi Allah, tempat pertemuan doa dan kedamaian.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Hari Minggu Paskah ketujuh hari ini berbicara tentang doa. Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul (1: 12 – 14) menunjukkan bahwa sejak awal doa telah menjadi karakter khas Gereja. Umat Perdana yang terdiri dari para rasul dan Bunda Maria serta para pengikut lainnya melakukannya dalam ketekunan. “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,” (Kis 1: 14). Doa itu tidak hanya membuat mereka bersekutu dengan Allah tetapi juga bersekutu satu sama lain. Mereka mempunyai rasa kekeluargaan tinggi sebagai anak-anak Allah. Buah-buah dari doa itu nampak dalam cara hidup mereka seperti digambarkan dalam Kis 2: 41 – 47 yakni, bertekun dalam pengajaran dan persekutuan, memecah-mecahkan roti, solidaritas sosial dan kesaksian nyata yang mengundang semakin banyak orang bergabung dengan mereka.

Dalam bacaan kedua (1 Ptr 4: 13 – 16) buah-buah persatuan erat dengan Allah itu adalah kemampuan untuk menerima penderitaan sebagai kesempatan untuk semakin bersatu dengan Kristus. “Berbahagialah kamu jika kamu dinista karena nama Kristus. Menderita demi Kristus menjadi kesempatan untuk memuliakan Allah.

Bacaan Injil memberi kita awal dari “Doa Imam Agung” di mana Yesus berdoa untuk diri-Nya sendiri dan untuk perlindungan serta persatuan para murid-Nya. Pada bagian pertama dari bagian yang kita dengar hari ini, Yesus berdoa untuk diri-Nya sendiri dan para rasul-Nya yang terpilih. Ia berdoa untuk perlindungan dan kesatuan para murid-Nya. Pada bagian kedua, Yesus mempercayakan para rasul-Nya kepada Bapa dan berdoa bagi mereka karena mereka telah menerima firman Allah dan mengakui asal usul Ilahi-Nya sebagai Mesias. Mereka telah menaruh kepercayaan kepada Yesus dan Bapa-Nya. Yesus berdoa agar mereka dapat bertindak sebagai agen-agen kebenaran dan kasih di dunia, agar mereka dilindungi dari kejahatan, dan agar mereka menjadi satu.

Kita perlu memusatkan kehidupan Kristen kita pada doa. Doa Kristiani memiliki bentuk-bentuk doa secara individu dan untuk komunitas. Ini termasuk doa pribadi, doa liturgi, dan doa/ibadah para-liturgi, seperti Jalan Salib dan Pemberkatan Sakramen Mahakudus. Ada juga berbagai jenis doa, termasuk doa yang kita ucapkan, doa Rosario, dan doa kontemplatif. Pada analisis terakhir, doa berarti komunikasi dengan Tuhan. Sebuah komunikasi menjadi komunikasi yang sejati jika terjadi secara timbal balik: berbicara dan mendengarkan.

Kita harus mencoba menyisihkan waktu setiap hari untuk menghabiskan waktu bersama Tuhan dalam doa. Jika kita yakin akan kehadiran Tuhan di dalam diri kita, kita dapat berbicara dengan-Nya bahkan ketika kita sedang mengemudi, mengantri, atau melakukan pekerjaan rutin di dapur atau halaman. Pembicaraan kita dengan Tuhan dapat mencakup pujian dan ucapan syukur, permohonan pengampunan, dan doa untuk kebutuhan kita. Namun jangan lupa juga untuk mendengarkan. Kita perlu mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuhan dalam hening dan merenungkan Sabda-Nya.

Hari ini juga kita rayakan sebagai Hari Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-57 dengan tema “Berbicara Dengan Hati”. Tema ini merupakan kelanjutan dari tema tahun-tahun sebelumnya yakni “Datang dan Melihat” dan “Mendengarkan”. Memang, komunikasi dapat berjalan dengan baik jika semua datang dari Hati. Hati yang mendorong untuk datang dan melihat, mendengarkan dan berbicara. Jika kita dapat mendengarkan dengan baik kita mampu berbicara dengan baik dan sekali kita mendengarkan orang lain dengan hati yang murni, kita juga akan mampu berbicara mengikuti kebenaran dalam kasih (bdk. Ef. 4:15).  Di hari Komunikasi Sosial Sedunia ini kita diajak untuk berkomunikasi dari HATI. Jika kita dapat berkomunikasi dari hati dan dengan hati kita mampu mencintai, berkomunikasi dengan ramah dan memajukan perdamaian.

“Semoga Tuhan Yesus, Sabda Murni yang mengalir dari hati Bapa, membantu kita berkomunikasi dengan bebas, bersih, dan ramah. Semoga Tuhan Yesus, Sabda yang menjadi manusia, membantu kita mendengarkan detak jantung, menemukan kembali diri kita sebagai saudara dan saudari, dan melucuti permusuhan yang memecah-belah. Semoga Tuhan Yesus, Sabda Kebenaran dan Kasih, membantu kita untuk membicarakan kebenaran dalam cinta kasih, supaya kita dapat merasa seperti menjadi penjaga satu sama lain.” – Paus Fransiskus.

Author

Write A Comment