Remah Harian

KOMPROMISTIS ATAU BERANI MEMEGANG KEBENARAN?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 5 Agustus 2023, Sabtu Pekan Biasa XVII
Bacaan: Im. 25:1,8-17Mzm. 67:2-3,5,7-8Mat. 14:1-12.

Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara….. “

(Mat 14: 8 – 10)

Injil hari ini bercerita tentang eksekusi dan kematian Yohanes Pembaptis. Dia mati dengan cara yang mengerikan dengan dipenggal kepalanya atas perintah Raja Herodes. Kepala Yohanes diberikan kepada seorang gadis muda di atas sebuah talam sebagai hadiah atas kepandaiannya menari dan atas hasutan ibu anak gadis itu. Mengapa Raja Herodes akhirnya melakukan tindakan yang tidak adil seperti itu? Karena ia tidak memiliki keberanian untuk menarik kembali sumpah yang telah diucapkannya. Ia tidak memiliki keberanian memilih yang benar.

Sebagai latar belakang perikope tersebut, Raja Herodes menceraikan istri pertamanya dan menikahi keponakannya, Herodias, istri dari saudara tirinya, Filipus. Sekalipun perceraiannya dengan istri pertamanya sah menurut hukum Yahudi, namun ia telah memiliki hubungan terbuka (affair) dengan Herodias sebelum perceraiannya dikabulkan. Dan pernikahan mereka menyinggung perasaan orang-orang Yahudi karena bagi mereka itu melanggar hukum dan saudara tirinya, Filipus, masih hidup. Raja Herodes bersalah atas perzinahan dan inses. Perzinahan dan inses sangat dilarang oleh hukum Yahudi (Im. 18:16). Dalam konteks inilah Yohanes tidak ragu-ragu menegur Herodes. Ia mengatakan kepada Raja Herodes bahwa tidak benar menikahi istri saudaranya sendiri. Namun, sang raja tidak menghiraukannya dan membalas dengan memenjarakan Yohanes. Ia memerintahkan agar Yohanes dipenjarakan. Sejujurnya, dia mungkin tidak memiliki rencana untuk membunuh Yohanes. Namun, begitu ia terjebak dalam jerat kesombongan, intrik, dan ingin menyelamatkan muka, ia menjadi tak berdaya dan perintah yang mengerikan pun diberikan.

Sikap kompromistis dalam memegang kebenaran seharusnya tidak terjadi. Herodes tahu mana yang benar, namun karena kesombongan dan kepongahannya sebagai raja, dia tidak dapat tunduk mengakui kebenaran tentang cara hidupnya yang tidak bermoral. Dia mudah terpengaruh oleh hasutan pasangan hidupnya yang tidak sah. Dia lemah karena meskipun mengenal Yohanes Pembaptis sebagai orang suci, dia menyerah pada tindakan tidak bermoral untuk membunuhnya hanya untuk menyelamatkan muka.

Seberapa sering kita mengkompromikan nilai yang lebih tinggi dengan nilai yang lebih rendah? Alih-alih memperjuangkan dan membela kejujuran moral, seberapa sering kita dengan mudah membuangnya untuk kenyamanan sosial, gengsi, prestise dan kepalsuan?

Yesus, tolonglah aku untuk menerima dan memegang kebenaran meskipun terkadang menyakitkan. Aku ingin bertumbuh dalam kekudusan. Tolonglah aku untuk berdiri teguh sebagai murid-Mu, apapun resiko yang harus kutanggung. Amin.

Author

Write A Comment