Remah Mingguan

KISAH ZAKHEUS, KISAH KITA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 30 Oktober 2022, Minggu Biasa XXXI Tahun C
Bacaan: Keb. 11:22 – 12: 2; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-142Tes. 1:11 – 2:2Luk. 19:1-10.

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

(Luk 19: 1 – 10)

Dalam Injil hari ini terdapat nama-nama yang patut untuk diperhatikan: Zakheus dan Yeriko. Yeriko adalah sebuah kota yang mewah dan kaya, dipenuhi dengan orang-orang sukses, tapi salah satu penghuninya yang paling berhasil adalah Zakheus, kepala pemungut cukai. Kurang apa lagi, Zakheus punya kuasa, uang, kesenangan, kebanggaan. Tetapi ia juga punya persoalan, punya masalah. Pada waktu itu, pemungut cukai dipandang sebagai pengkhianat bangsa, mereka bekerja untuk penjajah (Roma) dan meskipun penguasa Roma menetapkan jumlah pajak yang harus dipungut, para pemungut cukai itu punya kebebasan untuk menentukan berapa yang harus ia pungut dari rakyat, dan kebanyakan pemungut cukai, dengan tidak jujur memungut lebih dari yang seharusnya, dari sesama bangsanya sendiri. Jika pemungut cukai tidak jujur untuk kekayaannya sendiri, apalagi Zakheus, kepala pemungut cukai. Lukas dengan terang-terangan menulis bahwa ia adalah seorang kaya.

Maka, kita jumpai dalam kisah ini, seorang pendek, yang telah merampok sesama bangsanya. Ia telah mendengar bahwa Yesus akan datang di kotanya. Seperti Raja Herodes, Zakheus ingin melihat Yesus, ia ingin tahu orang apakah Yesus yang sudah terkenal itu, ia tidak ingin kesempatan itu lewat…. Maka ia mengambil risiko untuk keluar rumahnya, berada di tengah-tengah orang-orang yang telah ditipunya. Kita dapat membayangkan bagaimana orang banyak itu memperlakukan dia. Mungkin menendangnya, melontarkannya ke sana ke mari, menghempaskannya setiap kali mendapat kesempatan. Maka larilah ia mendahului orang banyak itu, memanjat pohon ara, berharap ia dapat melihat Yesus dengan lebih jelas. Zakheus yang mempunyai reputasi buruk, penipu, bajingan, pendosa, tak seorangpun mau bergaul dengannya.

Dari kejauhan, di jalan, datanglah Yesus dari Nazareth; orang banyak berjalan mengerumuni Dia. Mereka telah mendengar kehebatan-Nya, mukjizat-mukjizat yang Ia buat. Mereka ingin tahu lebih tentang Yesus. Mungkin mereka berharap agar Ia berhenti menyapa mereka, berkata sesuatu kepada mereka… sedikit membesarkan diri di antara orang-orang sebangsa-Nya. Tetapi Yesus berjalan menyibak kerumunan orang banyak itu, melihat ke atas, ke sebuah pohon ara di mana seorang kepala pemungut cukai bertengger di atasnya dan memanggil namanya. Hmmm apa yang ada di benak orang banyak itu? Apa yang dipikirkan oleh Zakheus? Di sinilah saat yang menentukan dari kisah ini, saat-saat yang sangat manusiawi yang banyak kali dikisahkan dalam Injil dan menjangkau kita lebih dari 2000 tahun kemudian, dan mengijinkan kita untuk mencoba meraba apa yang terjadi, apa yang dirasakan dalam cerita itu.

Orang banyak itu bergumam, menggerutu, “Tidak tahukah Ia siapa Zakheus, bajingan ini, orang berdosa ini?” Zakheus mungkin berpikir, “Bagaimana mungkin ia tahu namaku? Mengapa Ia berbicara kepadaku?” Dan Yesus berkata, “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu!” Tentu saja itu berarti bahwa Yesus akan membuat diri-Nya najis sebab ia menumpang di rumah seorang pendosa. Orang banyak itu tidak senang. Mungkin cemburu….tetapi mungkin geram dan marah, bagaimana mungkin seorang Rabi, orang kudus ini, bergaul dengan orang berdosa. Ini tidak benar! “Oh, ternyata Dia orang tidak baik! Bagaimana mungkin Ia makan bersama dengan orang berdosa! Ini tidak fair! Kami yang jujur, kami taat hukum, kami membayar persepuluhan, kami berbibadah di Bait Allah dan mempersembahkan kurban dengan tepat….dan Rabi yang terkenal ini….datang ke kota kita dan tinggal di rumah orang yang sudah merampok kita!” Mereka seperti anak sulung dalam perumpamaan tentang anak yang hilang. Mereka berharap agar Kerajaan Allah itu hanya untuk orang-orang pilihan, yang ditentukan dengan standard manusiawi mereka.

Akan tetapi, bukankah ini memang cara Allah? Ia mengutus Anak-Nya makan bersama para pemungut cukai, berteman dengan para nelayan miskin, bicara dan berjalan bersama orang-orang kusta baik fisik maupun moral! Dan Sang Putera memang berbuat seperti itu. Ia bisa saja menyingkirkan Zakheus, dan tentu saja Ia akan diterima di rumah orang lain. Tetapi sebaliknya, di depan mata kepala orang banyak itu, orang-orang benar itu, Ia merangkul Zakheus, mengorangkannya, memulihkan martabatnya. Dan Dialah yang mengambil langkah pertama. Bagaimanakah tanggapan Zakheus? Zakheus yang sudah salah jalan itu tidak hanya putar haluan, bertobat dari kesalahan-kesalahannya, tetapi lebih lagi, ia akan mengembalikan empat kali lipat kepada orang-orang yang telah diperasnya, ia akan membagikan setengah dari harta miliknya kepada orang miskin. Yesus memanggil dan Zakheus menjawab-Nya…. “Aku datang untuk menyelamatkan yang hilang.” Untuk bersukacita atas keselamatan mereka yang telah salah jalan, yang terbuang, yang terpinggirkan….

Dan kini, lebih dari 2000 tahun kemudian, apa yang ada di benak kita saat kita mendengar, “Engkau diutus untuk menyembuhkan orang yang remuk redam hatinya. Engkau datang untuk memanggil orang-orang yang berdosa…..” Apakah kita juga menyadari bahwa seperti Zakheus, kita juga adalah orang-orang berdosa? Bukankah sering kali kita seperti orang banyak itu, menunjuk-nunjukkan jari-jari kita kepada orang lain dan melupakan bahwa kita juga acap kali gagal untuk memenuhi panggilan Tuhan?

Ketika Yesus memanggil kita untuk “putar haluan” melalui sesama kita dalam komunitas kita, apakah kita menanggapinya seperti Zakheus dan membuat pemulihan terhadap luka-luka yang disebabkan oleh kesalahan dan dosa kita? Apakah kita memperhatikan mereka yang miskin dan tersingkir dari dunia kita? Seperti Yesus, apakah kita merangkul mereka yang berdosa? Atau justru menghalang-halangi mereka untuk berbalik dengan penilaian dan prasangka kita?

Kisah Zakheus adalah kisah kita. Kita dapat menjadi siapa saja dalam kisah itu: Zakheus, Yesus, atau orang banyak. Yesus, turun ke jalan-jalan hidup kita. Ia sungguh-sungguh hadir di tengah-tengah kita, Ia hadir di altar, dalam kurban penebusan atas dosa-dosa kita. Ia dikurbankan setiap saat bagi dosa-dosa kita: dosa Zakheus, dosa orang-orang banyak dan dosa-dosa kita semua.

Setiap kali Misa berakhir dan kita diutus ke dalam dunia menjadi tangan-Nya, kaki-Nya, Hati-Nya, siapa yang akan kita sentuh kehidupannya? Adakah orang-orang yang kita hindari, kita singkirkan? Mengapa? Lihat apa yang terjadi ketika Yesus bersahabat dengan Zakheus, orang berdosa itu. Ia telah hilang dan telah ditemukan kembali, sebab Yesus menemukannya kembali di tengah orang-orang banyak. Ia menerimanya, mengasihinya. Bukankah kita juga harus berbuat yang sama?

Author

Write A Comment