Sabda Hidup
Minggu, 22 Oktober 2023, Minggu Biasa XXIX Tahun A, Hari Minggu Misi
Bacaan: Yes. 45:1,4-6; Mzm. 96:1,3,4-5,7-8,9-10ac; 1Tes. 1:1-5b; Mat. 22:15-21.
Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
(Mat 22: 21)
Seorang Pastor Paroki mempunyai seekor burung beo yang sangat pintar. Diajarnya burung itu menyanyi. Jika Pastor itu menarik kaki kiri burung itu, maka burung itu akan menyanyi “Indonesia Raya”. Jika Pastor itu menarik kaki kanan burung itu, maka burung itu akan menyanyi “Bapa Kami.”
Suatu hari Bapak Uskup datang berkunjung ke Paroki itu. Dengan bangga Pastor Paroki menunjukkan kelihaian burung beonya menyanyi kepada Uskup. Bapak Uskup pun heran ada burung beo yang sepintar itu. Maka ditariknya kaki kiri burung itu dan burung itu menyanyi: “Indonesia tanah airku…..tanah tumpah darahku…” Kemudian ditariknya kaki kanan burung itu dan burung itu mulai menyanyi: “Bapa kami di dalam surga…. dimuliakanlah nama-Mu…” Kemudian Bapak Uskup ingin iseng. Ditariknya kedua kaki burung itu, dan burung itu menyanyi: “Indonesia….di dalam surga…..”
***
Dalam Injil hari ini Yesus dijebak oleh orang-orang Farisi. Pertanyaan mereka kepada Yesus, tidak bermaksud mencari kebenaran, tetapi hanya untuk menjebak Yesus. “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Jika Yesus mengatakan “tidak”, tentu ia akan dianggap pemberontak melawan pemerintahan penjajah Roma. Dia bisa ditangkap karena dianggap menghasut rakyat untuk melawan pemerintah Roma. Jika Ia menjawab “ya” maka, akan dianggap tidak nasionalis, tetap mendukung penjajah dan oleh sebab itu kredibilitas-Nya di tengah orang-orang Yahudi bisa jatuh.
Pajak kepada kaisar merupakan pajak perseorangan yang dipungut sejak tahun 6M pada masa pemerintahan Arkhelaos diganti oleh seorang Gubernur Romawi. Setiap orang Yahudi dewasa harus membayar pajak. Mata uang yang dipakai sebagai pajak adalah mata uang logam Romawi yaitu denarius. Nah pada zaman Yesus itu, uang logam bertuliskan: “Tiberius, kaisar, Putra Agustus yang ilahi.
Terhadap jebakan batman itu Yesus menjawab: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22: 21). Berikanlah kepada kaisar berarti mengembalikan kepada kaisar apa yang menjadi milik kaisar karena di mata uang tersebut ada gambar/cap Kaisar Tiberius. Uang itu milik kaisar Tiberius maka mereka juga berkewajiban mengembalikannya kepadanya.
Yesus juga menyadarkan mereka bahwa masing-masing orang diciptakan sesuai dengan citra atau gambar Allah. Jika uang itu dibuat dengan cap penguasa, kita diciptakan dengan cap Penguasa di atas penguasa-penguasa, yakni Allah sendiri. Oleh karena itu kita harus mengembalikan diri kita kepada Allah, dalam arti mempersembahkan diri seutuhnya kepada-Nya sebagai tanda cinta dan bakti karena kita adalah milik Allah. Di samping itu, segala sesuatu di atas dunia termasuk manusia adalah milik Allah, diciptakan dan dilengkapi dengan cap-Nya maka harus diberikan kembali kepada-Nya, yaitu untuk dipakai sesuai rencana ilahi-Nya. Manusia harus mencari dan melaksanakan kehendak Allah, mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat 6:33). Apakah kita pernah menyadari diri kita sebagai ciptaan istimewa di hadiratNya?
Hal lain yang juga patut kita ingat adalah bahwa kita adalah warga dari dua dunia – dunia yang kita lihat dan dunia yang tidak terlihat. Karena itu, kita memiliki kewajiban di dua dunia itu, yaitu kewajiban terhadap sesama dan terhadap Tuhan. Itu sejajar dengan perintahNya: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kewajiban kita kepada sesama itu tidak hanya mencakup kewajiban kita kepada pemerintah seperti membayar pajak dan ketaatan pada aturan-aturan bernegara, tetapi juga kewajiban kita kepada masyarakat, termasuk: bersama-sama mengusahakan kesehatan yang baik, mengusahakan pendidikan, memperjuangkan keadilan, dan kesejahteraan bersama.
Seorang Kristen, karena ia adalah seorang Kristen, ia harus menjadi warga negara yang bertanggung jawab, artinya, jika ia gagal menjadi warga negara yang baik, ia juga gagal dalam tugasnya sebagai seorang Kristen.
Kita tidak boleh mengabaikan kewajiban kita kepada Tuhan ketika kita melayani masyarakat dan juga kita tidak boleh mengabaikan kewajiban kita kepada masyarakat jika kita ingin melayani Tuhan!
Para penentang Gereja sering menggunakan ungkapan “pemisahan Gereja dan Negara” untuk mengatakan agar Gereja tidak turut campur dalam urusan-urusan dalam masyarakat. Tapi ini tentu bukan ajaran Tuhan. Gereja bertanggung jawab ketika apa yang dikatakan atau diperbuat oleh negara bertentangan dengan iman dan kehidupan moral!
Kita harus menjadi orang Kristen yang baik sekaligus warga negara yang setia dengan secara seksama memenuhi kewajiban kita kepada Tuhan dan masyarakat kita. Menjadi seorang Kristen yang baik adalah menjadi saleh dan manusiawi dan menjadi warga negara yang setia dapat ditunjukkan dengan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita melayani Dia dengan menjadi warga negara yang setia dalam masyarakat kita, tetapi marilah kita tidak lupa untuk hidup sebagai warga Kerajaan-Nya yang baik. Jadilah orang Kristen yang baik dan warga negara yang jujur! Saat-saat sekarang ini, ketika pesta demokrasi di negara kita ini semakin mendekat, tantangan ini menjadi semakin nyata: menjadi warga negara Indonesia yang baik, dengan tetap memiliki dan menjaga integritas sebagai warga Kerajaan Allah. Ini menjadi perutusan konkret pula saat kita merayakan Minggu Misi hari ini. Marilah dengan “Hati berkobar-kobar kaki bergegas pergi mewartakan Injil.”
