Remah Harian

KETIKA HATI DAN BUDI TERKUNCI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 3 Juni 2023, Sabtu Pekan Biasa 8, Peringatan St, Karolus Lwanga dkk
Bacaan: Sir. 51:12-20Mzm. 19:8,9,10,11Mrk. 11:27-33

Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?”

(Mrk 11: 27 – 28)

Ada seorang kaya. Ia sudah mendapat ilham bahwa tidak lama lagi ia akan menemui ajalnya. Maka ia menukarkan seluruh harta kekayaannya menjadi emas batangan, menaruhnya dalam sebuah karung di atas tempat tidurnya. Demikian ia menyelimuti tubuhnya dengan karung emas itu dan menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam sekejap ia menemukan dirinya berada di pintu gerbang surga.

St. Petrus menjumpainya di pintu gerbang surga. Dengan wajah prihatin St. Petrus berkata, “Baiklah, saya lihat kamu benar-benar berhasil mencapai tempat ini tetapi dengan membawa sesuatu dari bumi! Sayangnya, kamu tidak boleh membawanya masuk.”

“Bapa,” kata pinta orang itu. “Saya harus membawanya. Barang ini sangat berarti bagi saya.” “Jika kamu tetap ingin membawa barang itu, saya khawatir, kamu harus pergi ke tempat yang lain. Percayalah, kamu tidak ingin pergi ke sana,” jawab St. Petrus.

“Baiklah Bapa, saya tidak mau berpisah dengan karung ini.”

“Baiklah, silahkan menuju tempat lain,” jawab St. Petrus. “Tetapi sebelum kamu pergi, bolehkah kalau saya melihat apa yang ada dalam karungmu itu, sehingga kamu rela melepaskan kehidupan kekal demi barang itu?”

“Oh boleh,” jawab orang itu. “Bapa akan mengerti mengapa saya tidak mau berpisah dengan karung ini.”

St. Petrus melongok ke dalam karung dan dengan wajah bingung ia berkata kepada orang itu, “Kamu rela masuk neraka demi….batu bata?”

Sama seperti anekdot di atas, para imam kepala, ahli Taurat, dan tua-tua dalam perikope Injil hari ini, mengalami kesulitan untuk melepaskan bias dan prasangka mereka terhadap Yesus. Mereka memilih untuk memegang teguh pendapat dan pandangan mereka tentang seperti apa Mesias itu.

Selain itu, siapakah imam-imam kepala, para ahli Taurat, dan para tua-tua?

Mereka adalah orang-orang yang memiliki otoritas yang sangat dihormati dan didengarkan oleh komunitas mereka. Yesus sebenarnya tidak sebanding dengan mereka dalam hal martabat itu karena Dia hanyalah seorang Yahudi biasa dan seorang tukang kayu. Itulah sebabnya mereka bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu?

Selain bias dan prasangka, adalah iri hati dan keserakahan akan kekuasaan telah membelenggu mereka. Mereka perlahan-lahan terancam oleh popularitas Yesus yang semakin meningkat. Iri hati dan ketamakan akan kekuasaan inilah yang mendorong mereka untuk merencanakan pembunuhan terhadap Yesus.

Bukankah tidak jarang kita juga seperti mereka? Kita menutup pikiran dan hati kita dan tidak mau memberi tempat bagi pandangan yang berbeda. Kita cenderung memegang teguh keyakinan dan gagasan kita, kalau perlu nyawa taruhannya. Apalagi jika yang punya pandangan berbeda itu itu “lebih rendah” dari kita. Belum lagi jika posisi kita terancam.

Seberapa mudah atau sulit anda meninggalkan zona nyaman dan mencoba sesuatu yang baru? Seberapa sering anda menutup hati dan budi terhadap pandangan-pandangan yang berbeda?

Tuhan, bantulah aku membuka pikiran, hati dan kehendakku bagi-Mu. Amin.

Author

Write A Comment