Remah Mingguan

KESABARAN TUHAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 23 Juli 2023, Minggu Biasa XVI Tahun A
Bacaan: Keb. 12:13,16-19Mzm. 86:5-6,9-10,15-16aRm. 8:26-27Mat. 13:24-43 (panjang) atau Mat. 13:24-30 (singkat).

Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku,” (Mat. 13:24-30)

Di sebuah kota ada sebuah gereja yang juga jadi tempat ziarah. Di situ terdapat salib Yesus yang ukurannya sangat besar…. corpus-nya sebesar manusia sungguhan. Uniknya, Salib dengan corpus-nya itu berwarna hitam sehingga disebut Yesus Hitam. Orang sering berdoa di bawah salib itu, memegang-megang…mengelus-elus kaki Yesus sampai gumpil.

Suatu hari seorang anak laki-laki, namanya Armando berdoa di bawah salib itu. Armando ini adalah seorang pencopet…

Si Armando ini berdoa begini: “Tuhan Yesus, aku bersyukur kepada-Mu karena aku Kauberi tangan yang cekatan… hari dapat lumayan nih….” Belum selesai dia berdoa, dia dengar suara: “Mando… Mando… bersyukurlah!” Kaget si Armando. Dia tengok kiri, kanan, tidak ada orang… Mau tanya Tuhan Yesus, masa patung bisa bicara… Maka pergilah dia….

Keesokan harinya, Armando datang lagi ke bawah salib Yesus itu dan berdoa: “Tuhan Yesus, aku bersyukur kepadaMu karena aku Kauberi kaki yang kuat…. Tadi saya nyopet di bus, polisi hampir dapat… tapi karena aku Kauberi kaki yang kuat, aku bisa lompat dan lari sekuat tenaga…dan….” Belum selesai dia bicara, dia dengar suara lagi: “Mando… Mando… bersyukurlah….” Armando terkejut, tapi dia masih enggan bertanya kepada patung Yesus yang tersalib di depannya…. maka pulanglah dia…

Eh hari berikut dia datang berdoa lagi di bawah kaki salib besar itu. Dia berdoa: “Tuhan Yesus, sudah lama sekali saya ingin sekali punya hape…. Ini tadi saya copet Pastor Paroki punya hape… Android mahal punya ini….” Sekali lagi belum selesai dia bicara dia dengar suara: “Mando…Mando bersyukurlah….” Dia tengok kiri, kanan, tidak orang… maka kali ini dia beranikan diri bertanya kepada Yesus yang tersalib di depannya itu: “Tuhan, Engkaukah yang berbicara?” Dan terdengar jawaban: “Benar Mando, Aku ini yang berbicara.” Kaget si Armando, sampai gemetar dia… Lalu dia dengar Yesus berbicara: “Kamu itu harus bersyukur! Bersyukur bahwa kaki-Ku ini terpaku pada salib. Kalau tidak saya sudah sepak kau dari kemarin-kemarin!”

Hehehehe…. cerita mop saja…. Tetapi…. jangan-jangan ketika kita berdoa di hadapan Yesus, Ia akan berkata yang sama! Mengapa? Karena kita mengaku Katolik, masih saja tetap mencuri, masih saja tetap korupsi, masih saja tipu sana tipu sini, masih saja minum mabok dan bikin kacau…. Akan tetapi apakah Yesus benar-benar akan sepak saya? Akan sepak kita? Mungkin tidak.

Hari ini kita dengarkan perumpamaan tentang lalang di ladang gandum seperti yang dikutip di atas. Kita mungkin berpikir, jadi petani koq gitu? Rumput dibiarkan tumbuh bersama dengan gandum! Kalau kita tabur benih dan gulma juga tumbuh bersama, tentu kita cabut. Dalam kehidupan kita pun bertanya-tanya… Tuhan, kenapa sih orang-orang jahat dibiarkan hidup? Lebih sukses lagi. Sedangkan kita-kita ini yang rajin misa, rajin berdoa, rajin beramal, hidup sengsara terus! Mengapa mereka yang jahat tidak kena penyakit dan mati saja?

Ada beberapa poin yang dapat kita renungkan bersama. Pertama, Tuhan bukanlah sumber kejahatan. Tuhan itu amat baik. Tuhan selalu baik! Dan sepanjang waktu Tuhan itu baik! Dalam perumpamaan Injil tadi, benih yang ditaburkan oleh pemilik ladang gandum adalah “baik”. “Musuh” (Iblis) adalah sumbernya. Dan iblis, terus menyebarkan kebohongan, tipu daya dan kebingungan di dunia. Ada kejahatan yang datang darinya, tetapi banyak juga yang dilakukan oleh para pengabdi kegelapan dan para pengikutnya. Marilah kita berhati-hati agar kita tidak menjadi salah satu dari mereka yang menyebarkan kejahatan di sekitar kita.

Kedua, Tuhan sungguh bersabar. Dia tidak menginginkan kematian orang berdosa tetapi pertobatan mereka. Mungkin kita bisa bilang: “Hidup ini sangat tidak adil!” Tetapi marilah kita ingat bahwa pikiran Allah berbeda dari pikiran manusia. Standar-Nya berbeda dari standar kita. “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” (Yes 55:8). Dia mencintai kita secara berbeda! Itulah sebabnya Tuhan, juga menginginkan kita mempunyai kesabaran dan yang sama. “Bersabarlah karena Tuhan bersabar denganmu!” Tuhan sabar karena Dia adalah kasih! Orang yang benar-benar mengasihi harus sabar, memahami kekurangan orang lain dan selalu bersedia memaafkan mereka yang melakukan kesalahan. Coba bayangkan kalau Tuhan tidak bersabar dengan Petrus yang menyangkal-Nya! Atau Ia tidak sabar dengan Saulus yang setelah bertobat menjadi Paulus! Atau tidak sabar menantikan pertobatan Agustinus?

Ketiga, kita, manusia juga dapat menyebabkan kejahatan beranak-pinak di dunia. Kejahatan, dapat datang dari hati setiap orang karena penyalahgunaan kebebasannya. Kebebasan itu tidak berarti bahwa kita dapat melakukan apa saja yang kita inginkan. Kita masih harus mempertimbangkan tindakan kita demi kebaikan orang lain dan diri kita sendiri, dengan memilah-milah tindakan dan keputusan yang kita buat setiap hari. Bahkan, martabat kita sebagai “anak Allah” tidak menghilangkan kemungkinan kita untuk melakukan kejahatan. Yang baik dan yang buruk masih berjuang dalam diri kita. Kabar baiknya, Tuhan senantiasa memberi kesempatan kepada kita. Ia yang “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 45) memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang. Hidup ini adalah kesempatan! Harus jadi berkat, jangan jadi jahat! Jadi gandum dan bukan lalang!

Jadi, apakah saya ini gandum atau lalang? Apakah saya bertahan dalam cara hidup dalam dosa? Adakah kemauan untuk bertobat?

Tuhan jadikanlah hati kami seperti hati-Mu: sabar, mengampuni, penuh kasih. Amin.

Author

Write A Comment