Remah Harian

KERENDAHAN HATI YOHANES PEMBAPTIS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 15 Desember 2022, Kamis Pekan Advent III
Bacaan: Yes 54:1-10; Mzm 30:2.4.5-6.11-12a.13b; Luk 7:24-30.

“Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar dari pada Yohanes.”

(Luk 7: 28)

Seorang konglomerat yang kaya raya sedang menghadiri perjamuan makan malam ketika ia mendengar para tamu yang lain berdiskusi tentang doa. Mendengar hal itu, dengan bangga ia berkata: “Doa mungkin berguna bagi kalian, tetapi saya tidak perlu berdoa. Segala sesuatu yang saya miliki saat ini adalah hasil kerja keras saya, saya mendapatkan semuanya dari usaha saya sendiri.” Seorang guru besar dari universitas ternama di kota itu dengan tenang dan sopan mendengarkan dan kemudian berkata, “Saya kira ada satu hal yang tidak anda miliki dan anda perlu berdoa untuk memperolehnya.” Orang kaya itu terkejut dan menyahut, “Benarkah? Dan apakah itu?” Guru besar itu menjawab dengan lembut, “Tuan, anda perlu berdoa memohon kerendahan hati.”

Sahabat-sahabat, kita perlu selalu berdoa mohon kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah menganggap rendah diri sendiri, tetapi menerima kebenaran tentang diri sendiri.

Dalam Injil hari ini Yesus memuji St. Yohanes Pembaptis. Bukan karena begitu banyak ditulis tentang dia di Kitab Suci, atau karena ia berada bersama Yesus sepanjang waktu, tetapi karena ia yang pertama-tama dengan rendah hati mengenali dan menunjukkan Yesus Sang Anak Domba Allah. Ia berkata, “Lihatlah, Anak Domba Allah…. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak,” (Yoh 1: 29, 27). Sekarang giliran Yesus yang memberikan penghargaan setinggi-tingginuya kepada Yohanes. “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar dari pada Yohanes,” (Luk 7: 28).

Mengapa Yesus memuji Yohanes? Apakah sekadar saling mengagumi?Atau karena mereka saling menghormati? Mereka bekerja dalam bidang yang sama. Mereka mempunyai iman yang sama. Keduanya begitu dalam cintanya terhadap misi mereka. Namun yang paling penting adalah kerendahan hati Yohanes Pembaptis. Ketika orang-orang Yahudi dari Yerusalem mengutus para imam dan para Lewi bertanya kepadanya, siapakah dia, ia dengan rendah hati mengakui bahwa ia bukan sang Juruselamat (Yoh 1: 19 – 20). Ketika ia berkotbah, orang banyak berkumpul di sekitarnya, ia tidak mengumpulkan orang-orang itu untuk dirinya, malahan ia menunjuk pada Anak Domba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia.

Ada sebuah cerita yang ditulis oleh P. Anthony de Melo. Dikisahkan bahwa ada seorang yang amat suci. Ia tidak mengingat-ingat masa lalu setiap orang dan ia dapat melihat jauh melampaui penampilan seseorang. Ia selalu mengampuni setiap orang yang ia jumpai. Begitulah ia memandang setiap orang.

Suatu hari seorang malaikat berkata kepadanya, “Aku telah diutus oleh Allah kepadamu. Mintalah apa saja yang engkau kehendaki dan itu akan diberikan kepadamu. Apakah engkau ingin memiliki karunia penyembuhan?” “Tidak,” kata orang suci itu, “Biarlah Allah sendiri yang menyembuhkan.” “Apakah engkau ingin membawa kembali para pendosa ke jalan kebenaran?” “Tidak,” katanya, “Bukan hak saya untuk menyenth hati orang. Itu pekerjaan para malaikat.”

“Apakah engkau ingin menjadi teladan keutamaan bagi orang lain agar orang-orang meneladani engkau?” “Tidak,” kata orang suci itu. “Dengan begitu saya akan menjadi pusat perhatian.” “Lalu apa yang engkau inginkan?” tanya malaikat itu. “Rahmat Allah,” jawab orang suci itu. “Dengan itu saya sudah memiliki segalanya.” Tetapi malaikat itu mendesaknya, “Engkau harus memohon suatu mukjizat. Satu mukjizat tetap akan dianugerahkan kepadamu.”

“Kalau begitu baiklah. Biarlah mukjizat itu terjadi tanpa saya mengetahuinya.” Maka sejak saat itu, mukjizat terjadi karena bayangannya. Orang yang dilalui bayangannya akan sembuh, tanah akan menjadi subur dan orang-orang yang berduka akan bersukacita, yang putus asa mempunyai harapan. Orang kudus itu tidak pernah tahu karena orang begitu terpesona terhadap bayangan orang suci itu dan melupakan dia.

Sahabat, kita memiliki misi yang sama dengan Yohanes Pembaptis, yaitu, untuk bersaksi tentang Kristus Mesias melalui keteladanan Kristiani di tengah dunia masa kini, agar kita juga dengan rendah hati menghantar sesama kepada Sang Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia. Oleh karena itu, kita juga membutuhkan rahmat dan keberanian serta keteguhan iman Kristiani kita untuk menghayati hidup Sakramental, dan menjalankan semangat doa. Semoga di masa Advent ini kita semakin banyak menghantar sesama kepada Yesus, Sang Anak Domba Allah.

Author

Write A Comment