Sabda Hidup
Sabtu, 18 Maret 2023, Sabtu Pekan Prapaskah III
Bacaan: Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21b; Luk. 18:9-14.
“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
(Luk 18: 14)
Salah satu kualitas manusia yang paling langka adalah kerendahan hati yang tulus. Tampaknya menjadi bagian dari kelangsungan hidup psikologis kita untuk menjadi sombong atau sia-sia. Seseorang bisa saja terlihat rendah hati namun pada kenyataannya ia hanya tunduk dan patuh. Ada juga yang disebut kerendahan hati lurus-lurus mata kail di mana kita nampaknya mencela diri sendiri tetapi berharap bahwa seseorang akan mengatakan sebaliknya. Jadi sebenarnya kita meninggikan diri secara terselubung.
Sebenarnya, seseorang tidak dapat menjadi rendah hati kecuali jika ia memiliki harga diri yang sehat. Ada yang mengatakan seperti ini: Seseorang tidak dapat menjadi rendah hati jika ia tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Sebenarnya orang yang benar-benar rendah hati memiliki harga diri yang sehat yang berasal dari pengetahuan diri dan penerimaan diri yang jujur. Orang yang rendah hati memiliki keamanan batin yang kebal terhadap sanjungan dan celaan. Berbeda dengan orang yang merasa tidak aman secara batin, orang yang sungguh rendah hati tidak perlu memakai topeng, sebuah kedok palsu untuk menyembunyikan rasa tidak amannya. Ia tidak perlu memamerkan prestasi dan pencapaiannya. Ia juga tidak mudah dihina atau dipermalukan, karena ia tahu siapa dirinya dan apa yang dikatakan orang tidak membuatnya lebih tinggi atau lebih rendah semilimeter pun. Kerendahan hati adalah kebenaran.
Sahabat-sahabat, di hadapan Allah, kita tidak perlu bersaing sedemikian rupa sehingga kita merendahkan orang lain untuk meninggikan diri kita. Orang Farisi dalam Injil hari ini menyombongkan diri dengan keunggulannya atas pemungut cukai. Dia merasa senang dengan “mengorbankan” orang lain. Lucunya, Tuhan tidak melihat pencapaian kita. Dia melihat ke dalam hati kita, kedalaman diri kita, di mana nilai dan martabat kita yang sebenarnya berada. Hati orang Farisi itu menggelembung penuh dengan kesombongan meski nampaknya kudus. Sementara hati pemungut cukai yang penuh dosa itu merendah dan penuh penyesalan.
Di antara mereka berdua, orang Farisi itu menjalani kehidupan yang tampaknya mengikuti jalan yang lurus. Sedangkan kehidupan si pemungut cukai kacau balau penuh liku. Namun hati orang Farisi itu penuh dengan kebenarannya sendiri. Tidak ada ruang untuk kasih karunia Allah. Sedangkan pemungut cukai yang tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan itu, hatinya kosong. Itulah sebabnya, masih banyak ruang bagi kasih karunia Allah. Ketika kita membenarkan diri dengan sombong, tak ada ruang bagi kasih karunia Allah dalam hati kita.
Tuhan, ajarilah aku kerendahan hati yang sejati dengan mengasihi dan melayani Dikau dan sesama dengan tulus. Amin.
