Sabda Hidup
Kamis, 14 September 2023, Pesta
Bacaan: Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.
Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
(YOH 3: 14 – 16).
Hari ini kita merayakan Kemenangan Salib. Ada dua aspek dari salib: kesedihan dan kemuliaan – sebuah tanda pertentangan dan sumber keselamatan kita. Pada saat yang sama, salib adalah hal terburuk dan terbaik yang pernah terjadi. Umat manusia menolak dan membunuh Juruselamat yang diutus oleh Allah untuk menebus kita dan membawa kita ke dalam persekutuan dengan-Nya. Tetapi dengan menerima penolakan dan kematian itu, Yesus menaklukkan maut dan memenangkan pengampunan dan kehidupan bagi kita. Inilah kemuliaan yang kita rayakan hari ini, bahwa Allah telah melakukan mukjizat kasih yang terbesar dari tragedi yang terbesar!
Dalam Injil, Yesus berkata bahwa Ia harus “ditinggikan” agar semua orang yang percaya beroleh hidup yang kekal. Ini adalah bacaan yang sangat positif. Allah mengutus Anak-Nya agar kita tidak binasa tetapi memiliki hidup yang kekal. Yesus datang bukan untuk menghukum dunia tetapi untuk menebusnya.
Bacaan kedua memberi kita wawasan yang mengharukan tentang kedalaman kasih Allah bagi kita. Kita harus selalu ingat bahwa Yesus adalah Allah. Jadi Allah sendiri mengosongkan diri-Nya dari keilahian-Nya, mengambil sifat manusiawi kita, dan menerima untuk dihukum bahkan dihukum mati karena kita. Dia yang ditolak dan dihukum mati oleh manusia tidak menolak atau menghukum mereka yang mengutuk-Nya! Kita tidak akan pernah bisa merenungkan dengan cukup dalam kasih yang tak terkatakan yang ditunjukkan kepada kita oleh Allah di kayu salib!
Kita meninggikan salib hari ini agar kita dapat melihatnya, sehingga kita dapat melihat dengan jelas apa yang telah kita lakukan dengan dosa kita, dan apa yang telah Allah lakukan untuk menebus kita. Kita mengingat kembali kata-kata Injil Yohanes yang berbicara tentang Kristus di kayu salib: “Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam,” (Yohanes19:37). Ini adalah arti dari apa yang ditunjukkan kepada kita dalam bacaan pertama. Bangsa Israel telah berdosa dengan mengeluh kepada Allah dan Musa, sehingga Allah mengirimkan ular-ular di antara mereka untuk menghukum mereka. Ketika Musa berdoa untuk mereka, Tuhan memerintahkannya untuk membuat seekor ular dari tembaga dan menaruhnya di sebuah tiang, dan siapa pun yang melihat ular itu akan disembuhkan. Dengan kata lain, orang-orang perlu melihat dan menyadari apa yang telah mereka lakukan, bertobat dari dosa mereka, dan menerima kesembuhan dari Tuhan.
Dengan cara yang sama, kita memandang Kristus di kayu salib hari ini. Kita memandang apa yang telah dilakukan oleh dosa kita. Kita bertobat darinya, kita bersukacita atas penebusan yang telah dimenangkan bagi kita melalui kayu salib, dan kita masuk ke dalam kesembuhan dan penebusan yang telah dimenangkan oleh Kristus bagi kita. Bagian terakhir ini sangat penting: kemenangan salib bukan hanya tentang Kristus dan apa yang telah Ia lakukan bagi kita. Kita juga memiliki bagian dalam kemenangan salib. Kita bukan hanya penerima; kita adalah peserta. Yesus berkata: “Jikalau kamu mau menjadi murid-Ku, pikullah salibmu dan ikutlah Aku,” (bdk. Luk. 14:27). “Salib” yang dimaksud jauh melampaui Kalvari; salib adalah semua penderitaan manusia. Inilah “kunci” untuk memahami misteri penderitaan manusia. Begitu mengerikannya penderitaan itu sendiri, penderitaan menjadi sebuah sarana penebusan, sebuah kekuatan untuk kebaikan, jika kita memasukinya sebagai sebuah partisipasi dalam kurban penebusan Kristus.
Kita semua memiliki salib dalam hidup kita – penyakit, masalah di rumah atau di tempat kerja, relasi, kecanduan, kelemahan. Kita biasanya mundur saat memikirkan penderitaan dan mencoba melarikan diri, seringkali dengan cara yang tidak sehat seperti minum-minuman keras, bekerja terlalu keras, makan berlebihan, atau terlalu banyak menonton TV. Hari ini kita diundang untuk mencari lebih dalam. Iman memungkinkan kita untuk melihat kemenangan Kristus dalam setiap salib yang kita pikul.
Rahasia salib kita adalah amat dekat dengan Maria. Besok kita merayakan Bunda Maria Berdukacita. Ketika ia berdiri di kaki salib, Maria mengalami kesedihan. Namun dalam kegelapan dan pertentangan, ia tetap percaya dan yakin akan kehendak Allah. Jika kita berjalan bersama Maria melalui salib kita sehari-hari, dia membantu kita untuk melihat kemenangan Kristus dalam hidup kita sendiri. Marilah kita merenungkan bersama Maria anugerah besar yang telah Tuhan berikan kepada kita melalui kematian-Nya di kayu salib, dan memohon anugerah untuk memandang salib harian kita sendiri sebagai kesempatan untuk bersatu dengan Tuhan dan menjadi sarana bagi orang lain untuk berbagi dalam kemuliaan-Nya yang kekal.
Mari luangkan waktu untuk merenungkan luka-luka Kristus hari ini. Apakah saya mengalami kasih-Nya bagi saya? Salib apa yang saya hadapi dalam hidup saya saat ini? Dengan cara apa saya mencoba untuk menghindarinya? Apakah saya mengalami salib dalam hidup saya sebagai berkat atau apakah saya bersungut-sungut dan mengeluh? Apakah saya benar-benar percaya bahwa mati bersama Kristus berarti hidup?
Tuhan Yesus Kristus, aku bersujud dan bersyukur di hadapan-Mu, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia. Amin.
