Sabda Hidup
Selasa, 8 Agustus 2023, Peringatan Wajib St. Dominikus
Bacaan: Bil. 12:1-13; Mzm. 51:3-4,5-6a, 6bc-7,12-13; Mat. 15:1-2,10-14
Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”
(Mat 15: 14)
Kutipan Injil hari ini menceriterakan Para Farisi dan Ahli Taurat yang datang kepada Yesus dan bertanya tentang sesuatu yang menurut mereka sangatlah penting. Mereka ingin tahu, mengapa murid-murid Yesus tidak mengikuti tradisi nenek moyang mereka dengan tidak membasuh tangan mereka sebelum makan. Tetapi Yesus bukan hanya tidak menjawab mereka, malahan Ia memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” (Mat 15: 10b-11). Rupanya orang-orang Farisi dan Ahli Taurat itu kemudian tersinggung karena apa yang Dia katakan, dan bahkan hal itu dikatakan kepada orang banyak.
Menarik untuk dicatat bahwa sering kali sesuatu yang baik dapat menyebabkan orang lain tersinggung. Memang, kita tidak seharusnya secara serampangan menyinggung orang lain. Tetapi tampaknya, salah satu kecenderungan budaya zaman kita adalah “berusaha agar tidak menyinggung orang lain”. Hasilnya adalah pembodohan moralitas, mengabaikan ajaran iman yang jelas, dan menjadikan pergaulan lebih penting ketimbang kebenaran. Kita tahu mana yang benar, tetapi tidak mau mengatakan kebenaran karena menghindari orang lain tersinggung. Ah jangan begitu… nanti tersinggung….
Para murid khawatir kalau-kalau orang-orang Farisi dan para Ahli Taurat tersinggung. “Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?” (Mat 15: 12). Tetapi posisi Yesus amat jelas: “Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.” (Mat 15: 14).
Kasih membutuhkan kebenaran. Dan tidak jarang kebenaran dapat menyengat hati orang. Itulah yang diperlukan oleh orang-orang Farisi. Sayangnya mereka tidak berubah, malahan mereka semakin membenci Yesus hingga membunuh-Nya. Tetapi, kebenaran adalah kebenaran, dan kebenaran itu perlu dikatakan, walau itu adalah inconvenient truth.
Mari kita renungkan hari ini, bagaimana saya berani berbicara tentang kebenaran ketika situasi menuntut untuk itu? Beranikah anda, demi kasih, mengatakan kebenaran? Atau anda membiarkan orang lain tetap tinggal dalam hal yang salah atau bahkan berdosa karena anda tidak ingin menyinggung mereka?
Keberaninan, kasih dan kebenaran saling terkait dalam hidup kita. Untuk memperjuagkan kebenaran, seorang harus menguasai dirinya sendiri. Orang kudus kita hari ini, St Dominikus berkata: “Seseorang yang menguasai hawa nafsunya adalah penguasa dunia. Kita harus memerintah hawa nafsu itu, jika tidak kita akan diperintah oleh mereka. Lebih baik menjadi palu daripada landasannya.”
Tuhan, bantulah aku mengasihi dengan benar dan berani menegakkan kebenaran. Amin.
