Sabda Hidup
Selasa, 8 November 2022, Selasa Pekan Biasa XXXII
Bacaan: Tit. 2:1-8,11-14; Mzm. 37:3-4,18,23,27,29; Luk. 17:7-10.
“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”
(Luk 17: 10)
“Sebuah sapu, setelah digunakan untuk membersihkan rumah atau sebuah ruangan, diletakkan di sudut atau di tempat yang tersembunyi. Karena Allah telah menggunakan saya untuk maksud-maksud-Nya, dan tujuan itu sudah tercapai, maka kini saya diletakkan di tempat tersembunyi dan saya dengan gembira telah memilih cara hidup itu.” Demikian kata Bernadette Soubirous, terhadap seorang jurnalis yang berhasil melacaknya dan diijinkan mewawancarainya. Junalis itu bertanya, mengapa ia memilih untuk hidup tersembunyi sebagai seorang suster kontemplatif, ketika ia dikenal di seluruh dunia karena penampakan Bunda Perawan Maria kepadanya.
Kerendahan hati merupakan sesuatu yang harus diperjuangan ketika dunia kita mengagung-agungkan kedudukan, harga diri, pencapaian, prestasi. Dalam Injil hari ini Yesus berkata: “Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan,” (Luk 17: 10).
Injil memberi tahu kita kebenaran yang mungkin tidak mengenakkan: kita hanyalah hamba Allah, pekerja di kebun anggur-Nya. Segala yang kita miliki berasal dari Dia. Kita bergantung pada-Nya. Tugas kita adalah bekerja untuk Dia. Kita tidak memiliki klaim atas kebaikan atau kemurahan-Nya. Segala sesuatu diberikan kepada kita karena kasih-Nya yang begitu besar dan bukan karena jasa-jasa kita. Kita patut bersyukur dan melaksanakan pekerjaan untuk Tuhan secara bertanggung jawab.
Segala usaha dan pencapaian kita bukanlah apa-apa dibandingkan dengan berkat Allah yang telah kita terima. Bakti kita, doa-doa, karya amal kita, adalah bagian dari “pengembalian” kita kepada Allah. Bahkan kesempatan dan kemampuan kita untuk melakukan semua itu pun adalah karunia-Nya. Kita tidak pernah dapat membalas anugerah-anugerah Allah yang telah diberikan kepada kita. Santa Perawan Maria sadar penuh akan kebenaran itu, sehingga ia hanya menjawab, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.”
Mari kita hunjukkan syukur dan amal kasih kita kepada Allah agar kita bertumbuh dalam rahmat-Nya. Perlulah kita memandang pelayanan kasih kita kepada sesama sebagai tugas suci dan tanggapan kita atas berkat yang tak terhitung bagi kita. Kasih dan kemurahan-Nya harus mendorong kita untuk mempersembahkan yang terbaik dari kita sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya.
