Remah Harian

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 22 Desember 2022, Hari Biasa Khusus Advent
Bacaan: 1Sam. 1:24-28; MT 1Sam. 2:1,4-5,6-7,8abcd; Luk. 1:46-56

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.”

(Luk 1: 46 – 49)

Bacaan-bacaan hari ini menyandingkan dua nyanyian: Nyanyian Hana (1400 SM) dalam Mazmur Tanggapan dan Kidung Magnificat Maria. Keduanya disandingkan bersama karena Magnificat Maria secara literal dan tematis bergantung pada yang Nyanyian Hana. Maria sebagai seorang gadis muda Yahudi mengetahui Nyanyian Hana karena dinyanyikan pada setiap Tahun Baru Yahudi di Bait Suci dan sinagoga. Baik Hana maupun Maria adalah perempuan-perempuan yang bersukacita atas kelahiran seorang anak yang istimewa. Hana memuji Tuhan karena Dia telah mengakhiri kutukan kemandulannya, sementara Maria memuliakan Tuhan karena Dia telah memilihnya untuk melahirkan Mesias yang dijanjikan. Masing-masing tahu, dalam kesedihan mereka, bahwa mereka harus menyerahkan putra mereka suatu hari nanti. Sama seperti Hana mempersembahkan anaknya Samuel kepada Tuhan, demikian pula Maria mempersembahkan putranya Yesus untuk keselamatan kita.

Mendengar salam Elizabeth, Maria berkidung, memuji dan bersyukur kepada Tuhan atas hal-hal besar yang telah Dia lakukan baginya. Dia telah memenuhinya dengan rahmat, menaungi dia dengan Roh Kudus-Nya dan menjadikannya ibu dari Putra-Nya, Yesus.

Maria menyanyikan madah syukur dan sukacita itu bukan pada saat kenyamanan dan keamanan, justru pada saat ia mengalami ketidakpastian. Rencana perkawinannya dan kehormatannya dipertaruhkan menghadapi aib karena hamil di luar pernikahan. Betapa ia yang masih remaja mengalami peristiwa yang menggoncangkan hidupnya. Apa yang ditunjukkan oleh Maria dalam kidung magnificat adalah ketergantungan dan kepercayaannya yang luar biasa pada penyelenggaraan Allah.

Magnificat Maria ini lebih dari sekadar kidung syukur, bagi kita, kidung ini merupakan sebuah “credo” yang mengulangi iman kita pada rencana ilahi. Ibadat sore pada Ibadat Harian (Brevir) memasukkan Kidung Maria ini untuk didaraskan setiap hari, sebagai pengingat untuk menegaskan kembali perhatian dan kasih Allah kepada “hamba-Nya yang hina dina”. Dibutuhkan kerendahan hati untuk berpasrah di hadapan Allah dan rencana-Nya untuk menyaksikan “perbuatan-perbuatan besar” yang dilakukan-Nya dalam hidup kita.

Kidung Maria menarasikan perbuatan-perbuatan besar Allah itu dari saat ke saat dan dengan sukacita mensyukurinya. “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.” Suatu revolusi sosial, politik, dan ekonomi.

Kita turut menyanyikan lagu ini sebab ini merupakan kesaksian hidup kita. Ketika kita kehilangan pekerjaan, atau usaha kita gagal, saat kita tidak punya apa-apa, saat relasi kita berantakan, betapa mudahnya kita menyerah pada ketakutan dan putus asa. Sering kali kita seperti para murid yang berada di tengah laut, yang terjebak oleh badai, kita panik dan mudah menyerah.

Tetapi Sabda Yesus menghibur dan menguatkan kita: “Jangan takut. Aku ini,” (Mat 14: 27). Jangan biarkan kelemahan manusiawi kita mencampakkan kita pada keputusasaan, sebab, apapun yang kita alami, entah susah atau senang, baik atau buruk, kegagalan atau keberhasilan, kita tahu “Tuhan beserta kita” – Emmanuel. Kini giliran kitalah melantunkan Magnificat bersama Maria.

Author

Write A Comment