Sabda Hidup
Minggu, 17 Maret 2024, Minggu Prapaskah V Tahun B
Bacaan: Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3,4,12-13,14-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33
Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
YOH 12: 24
Pengorbanan hidup Yesus di kayu salib merupakan sebuah teka-teki bagi banyak orang. Mengundang banyak tanya. Mengapa Anak Allah harus disalibkan? Bahkan ada yang mengolok-olok: “Boro-boro Tuhan lu selametin u, dipaku aja mati boss…”
Setelah lebih dari lima dekade, Penginjil Yohanes menciptakan kembali wajah manusiawi Yesus yang telah ia saksikan dan alami secara pribadi. Yesus ditampilkan dengan segala kelemahannya sebagai manusia. Ketakutan-Nya akan kematian sama seperti ketakutan semua orang: kematian yang terlalu dini dan penuh kekerasan.
Yohanes mengenang drama batin Yesus ketika ia mendekati hari-hari sengsara dan kematian-Nya dan mengungkapkan perasaan-perasaan Tuhan: dan itulah isi dari doa Yesus. “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.” Ia sadar penuh bahwa Ia datang untuk menyatakan kasih Bapa kepada umat manusia pada saat itu juga, dan Ia harus melaluinya. Dan Ia berdoa: “Bapa, muliakanlah Nama-Mu.” Biarlah aku menjadi cerminan kemuliaan-Mu.
Yesus menerima rencana Bapa. Mengekspresikan kasih membutuhkan pemberian diri, pengorbanan, dan dapat mengalami penolakan, seperti juga dalam pernikahan, dalam hidup bakti. Perjanjian kasih Allah dengan umat manusia membutuhkan penyerahan yang sama.
Tuhanlah yang berinisiatif untuk memetraikan perjanjian ini, sehingga Dia berkorban dan berserah diri untuk mengalami suka dan duka yang sama seperti kita dan menderita kematian yang kejam.
Namun, kematian-Nya menjadi tanda cinta dan kehidupan. Perumpamaan tentang biji gandum yang mati, dan ketika ia mati, ia menghasilkan banyak buah, adalah tentang Yesus sendiri. Salib, sebuah alat kematian, menjadi tanda kehidupan.
Dapatkah dan maukah kita menjadikan hidup kita sebagai pemberian bagi orang lain “supaya mereka mempunyai hidup”?
Tuhan, semoga di saat-saat sulit kami dapat melihat sengsara-Mu sebagai inspirasi, kekuatan dan keberanian. Semoga kami berani berkorban agar sesama mempunyai hidup. Amin.
