Remah Mingguan

JANGANLAH KAMU TAKUT!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 25 Juni 2023, Minggu Biasa XII Tahun A
Bacaan: Yer. 20:10-13Mzm. 69:8-10,14,17,33-35Rm. 5:12-15Mat. 10:26-33.

Janganlah kamu takut…… Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

(Mat 10: 32 – 33)

Suatu ketika, seorang seorang Pastor dan sekelompok mahasiswa dari Kanada pergi ke Kenya untuk program studi lapangan musim panas. Mereka mengendarai sebuah jip untuk melakukan perjalanan jauh ke pedalaman yang terjal. Dalam salah satu perjalanan mereka, jip tersebut mogok dan mereka harus menggunakan jasa seorang montir kampung. Montir tersebut melihat masalahnya, pergi ke kota dan membeli suku cadang, kemudian ia kembali dan memperbaiki mobil tersebut. Dia menghabiskan tiga hari penuh untuk memperbaiki mobil tersebut. Melihat apa yang dikerjakan oleh montir kampung itu, Pastor takut apabila biaya servis montir akan terlalu tinggi. Bayangkan, tiga hari dihabiskan untuk memperbaiki jip mereka. Maka ia mencari akal agar dapat membayar montir itu lebih murah. Ia kemudian pergi ke kamar kecil, mengeluarkan sebagian besar uang dari dompetnya dan menyembunyikannya di kaus kakinya. Pikirnya, nanti ketika montir itu memberitahukan biayanya, dia akan membuka dompetnya dan berkata, “Lihat, hanya ini yang saya miliki.” Jadi dia keluar dari kamar kecil dan mereka siap untuk pergi. Dia berkata kepada montir itu, “Jadi sekarang, berapa biaya untuk memperbaiki jip ini?” Montir itu menatapnya dan berkata, “Anda adalah hamba Tuhan. Saya melakukannya untuk Tuhan. Tuhan akan membayarku. Bagi Anda, ini gratis.” Pastor itu terkejut dan dalam hati ia menyesal. Dengan imannya kepada Tuhan, montir itu mampu mengatasi rasa takut akan kemiskinan dan keterikatannya pada uang, sedangkan ia sendiri dikuasai oleh rasa takut dan kekhawatirannya, tidak mampu melepaskan diri dari kelekatannya pada uang.

Injil hari ini adalah kelanjutan dari instruksi yang Yesus berikan kepada kedua belas rasul ketika Ia mengutus mereka untuk pergi dan memberitakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah. Nilai-nilai Kerajaan Allah berbeda dengan nilai-nilai dunia, sedemikian rupa sehingga orang cenderung menolak pesan tersebut dan berbalik melawan para para murid. Tradisi mengatakan bahwa hampir semua murid Yesus mati dengan cara yang kejam sebagai martir. Matius menjadi martir dengan cara dibunuh dengan pedang di sebuah kota terpencil di Etiopia. Hidup Markus berakhir di Aleksandria, sesudah dengan kejam diseret di sepanjang jalan-jalan kota tersebut. Lukas digantung di sebuah pohon zaitun di daerah kuno di Yunani. Yohanes dimasukkan ke dalam sebuah ketel berisi minyak panas, namun selamat dari kematian oleh suatu mujizat, dan sesudah itu dibuang ke Pulau Patmos. Petrus disalibkan di Roma dengan kepala di bawah. Yakobus saudara Yohanes, dipenggal kepalanya di Yerusalem. Yakobus anak Alfeus dilemparkan dari suatu puncak kuil yang tinggi, dan dipukuli keras-keras sampai mati dengan sebuah tongkat.

Bartolomeus dikuliti hidup-hidup. Andreas diikat pada sebuah salib, di situ ia berkhotbah kepada para penganiayanya sampai ia mati. Tomas mati karena ditusuk tombak di Coromandel di India Timur. Yudas Tadeus mati karena dihujani anak-anak panah. Mula-mula Matias dirajam dan kemudian dipenggal kepalanya. Barnabas yang non-Yahudi dilempari batu sampai mati di Salonika. Paulus, sesudah mengalami berbagai siksaan dan penganiayaan, akhirnya dipenggal kepalanya di Roma oleh Kaisar Nero.

Tentu sebelum mereka mengalami kemartiran, mereka mengalami juga pelbagai kesulitan dan penolakan. Oleh karena itu, wajar jika para rasul merasa takut ketika Yesus mengutus mereka untuk menginjili dunia yang tidak bersahabat. Menyerah pada rasa takut ini akan membuat mereka meninggalkan misi yang berbahaya untuk menyelamatkan diri mereka. Maka Yesus memberi petunjuk kepada mereka dalam Injil hari ini tentang cara mengatasi rasa takut yang melumpuhkan ini. Kuncinya adalah memandang Yesus sebagai panutan dan teladan mereka. Seperti yang Yesus katakan sebelumnya dalam khotbah ini, “Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya,” (Matius 10:24).

Injil menunjuk dua ketakutan yang dimiliki oleh para rasul: takut akan tuduhan dan hukuman yang salah, dan takut akan bahaya fisik dan kematian. Dalam kedua kasus tersebut, Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa cara untuk mengatasi rasa takut adalah dengan menjaga pikiran seseorang agar tidak terfokus pada apa yang ada di sini dan saat ini, tetapi pada kerajaan Allah yang akan datang. “Janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” (ayat 26).

Para penguasa yang menganiaya Yesus dan para pengikutnya punya cara tersendiri untuk menutupi kebenaran. Mereka tahu bagaimana cara merusak bukti, menghadirkan saksi-saksi palsu, dan menghukum orang yang tidak bersalah. Mereka menutupi kebenaran dan merayakan kebohongan. Banyak dari para rasul, seperti guru mereka Yesus, akan mengalami tuduhan palsu dan secara tidak adil dihukum dengan perlakuan yang memalukan sampai mengalami kematian. Cara untuk mengatasi rasa takut ini adalah dengan memandang kepada Yesus yang telah menunjukkan melalui kebangkitan-Nya dari kematian bahwa pada akhirnya setiap kebohongan akan terbongkar, kebenaran akan terungkap dan keadilan akan kembali ditegakkan. “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (ayat 28).

Penganiayaan adalah realitas sehari-hari bagi orang-orang Kristen mula-mula seperti halnya bagi Yesus sendiri. Stefanus dilempari batu hingga mati di tempat ketika ia mencoba untuk memberitakan pesan Yesus. Tidak heran jika Yesus mengatakan kepada para rasul bahwa Ia mengutus mereka “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (ayat 10). Serigala-serigala yang ganas itu dapat membunuh domba-domba yang cinta damai, tetapi mereka tidak dapat membunuh jiwa. Hal ini sekali lagi ditunjukkan dalam kebangkitan Yesus.

Dengan memandang kepada Yesus, kita melihat bahwa pencobaan dan penderitaan dalam hidup ini, terutama yang kita hadapi ketika kita mencoba untuk menghidupi dan membagikan iman kita kepada orang lain hanya berlangsung singkat. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyerah pada rasa takut akan pertentangan, karena kita tahu bahwa pada akhirnya kebenaran akan menang atas ketidakbenaran, keadilan atas ketidakadilan, dan kehidupan kekal atas kematian, seperti yang telah kita lihat dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus.

Berilah aku rahmat-Mu, ya Tuhan, agar aku selalu kuat dan berani. Amin.

Author

Write A Comment