Sabda Hidup
Jumat, 15 Desember 2023, Jumat Pekan Advent II
Bacaan: Yes. 48:17-19; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mat. 11:16-19.
Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”
(Mat 11: 16 – 19).
Warta Yohanes Pembaptis dan Yesus seakan-akan membentur tembok kebebalan, ego dan kesombongan orang-orang Farisi dan para Ahli Taurat yang merasa paling benar. Mereka dipenuhi dengan iri dengki dan prasangka. Yohanes Pembaptis yang datang dengan keugaharian dan matiraga dikatakan kerasukan setan, Yesus yang makan bersama dengan para pemungut cukai dan para pendosa dikatakan pelahap dan peminum.
Yesus membandingkan sikap mereka itu dengan anak-anak jalanan yang menghibur diri mereka sendiri dengan meniup seruling mendendangkan lagu-lagu pesta dan menyanyikan kidung duka. Anak-anak ini membagi diri mereka dalam dua kelompok. Ketika kelompok yang yang satu menyanyikan meniup seruling dan mendendangkan lagu pesta dan meminta kelompok yang lain menari, kelompok yang lain bersikeras dengan kidung dukanya dan meminta kelompok yang satu berperan seakan sedang dalam upacara penguburan. Kedua-duanya frustrasi karena besikukuh dengan keinginan sendiri. Yesus membandingkan para Farisi dan ahli Taurat dengan anak-anak ini, yang karena kesombongan dan prasangka, tidak mendengarkan warta pertobatan dari Yohanes Pembaptis, juga menolak untuk mendengarkan warta kasih, kerahiman dan keselamatan.
Masa Adven adalah waktu untuk belajar untuk mengarahkan hidup kita ke kehidupan yang lebih dalam. Tuhan meminta kita untuk mendengarkan. Kalau saja kita mau mengindahkan Sabda Tuhan, maka Tuhan akan mengulurkan tangan, menuntun, mengarahkan kita. Apakah ketika Yesus melihat kita, merasa jengkel karena kita bebal dan tidak mau mendengarkan? Apakah kita punya “greget” untuk mengusahakan keselamatan?
Selain itu, mendengarkan Sabda Tuhan mengandaikan penerimaan total dan pengejawantahan apa yang kita dengar dalam hidup kita sehari-hari. Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya. Semoga undangan Tuhan untuk bertobat, mengubah hidup kita dan menghasilkan buah-buah dalam tindakan konkrit.
Kata pertobatan mungkin adalah kata yang paling diabaikan. Misalnya, ketika kita mengajak orang-orang yang dekat dengan kita untuk bertobat dan mengubah cara mereka menjadi lebih baik, seringkali ajakan kita diabaikan. Kita sendiri pun tidak jarang merasa tidak perlu bertobat.
Kita sering tidak melihat keberdosaan kita sampai seseorang yang dekat dengan kita memberitahu kita tentang hal itu, tetapi kita biasanya tidak suka diberitahu tentang dosa-dosa kita. Kenyataannya, kita semua adalah orang berdosa, kita berdosa dengan kata-kata, pikiran, dan tindakan kita.
Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan. Dengan hidup dalam kesederhanaan, dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu unta dan ikat pinggang kulit, makanannya belalang dan madu hutan, ia menyerukan matiraga dan pertobatan. Dengan warta pertobatan itu ia menyiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan.
Pendekatan Yesus berbeda, Dia berbaur dengan semua orang, orang berdosa dan tidak berdosa, Dia menyembuhkan orang sakit, Dia membuat mukjizat dan melakukan khotbah yang mengubah hidup dalam proses itu Dia memanggil mereka semua untuk bertobat.
Masa Adven ini merupakan panggilan untuk pertobatan bagi kita agar menjadi lebih layak menyambut kelahiran Penyelamat kita yang akan datang. Tapi hanya sedikit dari kita yang mendengarkannya, kita memilih untuk mengabaikannya. Mengapa tidak mendengarkan panggilan ini? Mengapa tidak mengubah cara kita menjadi lebih baik? Mengapa tidak dengan rendah hati menyerahkan diri kita pada Sakramen Pengakuan Dosa yang menyembuhkan?
“Jika hari ini Anda mendengar suara-Nya janganlah berkeras hati,” (Ibrani 3:15). “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,” (Yes 48: 18).
Tuhan, semoga kami tergerak menanggapi panggilan-Mu untuk bertobat. Amin.
