Remah Mingguan

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 29 Januari 2023, Minggu Biasa IV Tahun A
Bacaan: Zef. 2:3; 3:12-13Mzm. 146:1,7,8-9a,9bc-101Kor. 1:26-31Mat. 5:1-12a.

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga.”

(Mat 5: 3 – 12a)

Semua orang ingin bahagia. Semua orang mengejar kebahagiaan. Segala sesuatu yang kita buat 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, adalah apa yang kita percaya membawa kebahagiaan. Masalahnya, apa yang kita pikir dan percaya membawa kebahagiaan itu tidak selalu membawa kebagiaan yang sejati dan kekal.

Misalnya, seorang yang terjerat adiksi alkohol berpikir bahwa kebahagiaan ditemukan dalam minuman memabukkan yang dikonsumsinya. Maka ia minum terlalu banyak, kemudian dengan kendaraannya pulang ke rumah, menabrak mobil dan keesokan harinya tahu-tahu ia bangun di rumah sakit dengan perban dan jahitan di mana-mana pada tubuhnya. Baru ia sadar bahwa kebahagiaan yang dijanjikan oleh alkohol ternyata berumur pendek. Masih untung bukan dia sendiri yang berumur pendek.

Atau seorang yang kecanduan berjudi. Ia berpikir bahwa kebahagiaan ditemukannya di meja judi. Hanya di akhir bulan ia sadar, uangnya sudah habis. Ia tak dapat lagi membayar sewa rumahnya. Ke mana-mana dikejar debt collector. Sampai semuanya habis: rumah, mobil, sepeda motor, semuanya dijual. Atau untuk menutupi semuanya kemudian ia mencuri, korupsi, menyalahgunakan jabatan, dan berakhir di belakang jeruji besi. Baru kemudian ia sadar, judi tidak membawa kebahagiaan.

Kata Aristoteles, filsuf kesohor itu, bahwa seorang yang berbahagia dalah orang yang bermoral, seorang yang mengetahui dan melakukan apa yang menghasilkan bukan hanya kesenangan tetapi kebahagiaan yang sejati dan kekal. Ia berkata, “Happiness is a sort of activity of the soul expressing virtue.” Dan menurut dia seorang yang berbahagia adalah “the one who expresses complete virtue in his activities, with an adequate supply of external goods, not for just any time but for a complete life”.

Dalam Injil hari ini, Yesus, dalam kotbah di bukit, menyatakan bahwa Ia sungguh menghendaki para pengikut-Nya memiliki kebahagiaan yang sejati dan kekal, kebahagiaan yang tak dapat diberikan oleh dunia. Keadaan “berbahagia” itulah yang disebut oleh Yesus berada dalam “Kerajaan Allah” atau “Kerajaan Surga”. Kedelapan Sabda Bahagia dalam Injil hari ini merupakan suatu program atau roadmap bagi siapa saja yang ingin mencapai kebagiaan dalam Kerajaan-Nya itu.

Mengapa Yesus menganggap perlu untuk menetapkan petunjuk-petunjuk menuju kerajaan-Nya itu sejak awal pertama kali Ia mengajar murid-murid-Nya? Tentu karena ajaran-Nya itu amat penting. Setiap orang mencari kebahagiaan. Tetapi sering kali kita mencarinya di tempat yang salah. Coba bertanya kepada orang di sekitar anda apa yang membuat mereka bahagia dan kemudian bandingkan jawaban mereka dengan jawaban Yesus. Dunia punya pandangannya sendiri tentang kebahagiaan. Jika kita membuat daftarnya, kemungkinan besar kita akan menjumpai hal yang sangat berbeda dengan yang Yesus berikan.

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah,” tetapi mereka mungkin akan berkata, “Berbahagialah mereka yang kaya begelimang harta.”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang berdukacita,” tetapi mereka mungkin akan berkata, “Berbahagialah yang bersenang-senang.”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lemah lembut,” tetapi mungkin mereka akan berkata, “Berbahagialah mereka yang cerdik.”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,” tetapi mungkin mereka berkata, “Berbahagialah mereka yang berpestapora.”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang murah hatinya,” tetapi mungkin mereka akan berkata, “Berbahagialah mereka yang punya kuasa.”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya,” tetapi mungkin mereka akan berkata, “Berbahagialah mereka yang lihai berkelit.”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai,” tetapi mungkin mereka akan berkata, “Berbahagialah yang membawa gosip sana sini.”

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran,” mungkin mereka akan berkata, “Berbahagialah mereka yang dapat berbuat sesuka hati.”

Kita melihat bahwa nilai-nilai yang ditunjukkan oleh Yesus dalam Khotbah di Bukit sebenarnya melawan arus pada umumnya. Kita tidak dapat menerima ajaran Yesus ini dan pada saat yang sama mengikuti arus dunia. Tentu saja, Yesus tidak menuntut agar kita meninggalkan dunia ini. Tapi dia menuntut agar kita mengutamakan Tuhan dalam hidup kita karena hanya Tuhan yang bisa menjamin kebahagiaan dan kedamaian sejati yang kita rindukan. Tidak satupun di dunia ini yang dapat memberikan kedamaian, dan tak satupun di dunia ini yang dapat mengambilnya.

Delapan Sabda Bahagia itu tidak menggambarkan delapan orang yang berbeda sedemikian rupa sehingga kita perlu bertanya yang mana dari delapan itu yang cocok untuk kita secara pribadi. Tetapi, itu adalah delapan gambaran yang berbeda yang diambil dari sudut yang berbeda dari orang satu yang sama. Oleh karena itu, pertanyaan bagi kita hari ini adalah: “Apakah kita menjalani hidup kita mengikuti nilai-nilai dunia sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan atau hidup sesuai dengan ajaran Yesus.” Jika Anda hidup menurut ajaran Yesus, maka bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.

Author

Write A Comment