Remah Mingguan

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 10 Oktober 2021, Minggu Biasa XXVIII Tahun B

Bacaan hari ini: Keb. 7:7-11; Mzm. 90:12-13,14-15,16-17; Ibr. 4:12-13; Mrk. 10:17-30

“Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

(Mrk 10: 21)

Menurut Injil Markus, orang yang mendekati Yesus itu adalah seorang yang kaya dan Matius dalam Injilnya mengatakan bahwa ia adalah seorang muda. Jadi kita dapat menggabungkan dua keterangan tersebut: orang itu adalah seorang muda yang kaya.

Markus mengisahkan bagaimana ia mendekati Yesus: ia berlari-lari dan bertelut di hadapan Yesus. Injil juga mengisahkan dua orang lain yang juga berperilaku seperti orang itu. Yang satu adalah orang yang kerasukan roh jahat. Sedangkan yang lainnya adalah seorang yang sakit kusta, yang merasa dirinya najis dan dihukum oleh Allah. Maka dapat dikatakan bahwa orang muda kaya ini berperilaku seperti seorang yang kerasukan dan itu membuatnya merasa najis seperti seorang sakit kusta.

Sesungguhnya ia memang kerasukan oleh “roh jahat” yang paling berbahaya: roh jahat yang memaksanya untuk melekat pada harta duniawi. Itu adalah roh jahat yang membuat anda melekatkan hati anda pada kekayaan dunia. Roh jahat kekayaan material dan kelekatan yang mendegradasikan kemanusiaan anda.

Siapakah yang tidak ingin kaya dan menikmati kenyamanan dunia? Di banyak budaya, kekayaan dipandang sebagai suatu peruntungan yang baik. Pada tahun baru Imlek misalnya, orang memberi selamat satu terhadap yang lain “Gong Xi Fat Cai ” yang berarti, “Semoga anda makmur” atau secara harafiah, “selamat mendapatkan lebih banyak kekayaan”.

Orang boleh saja makmur dan menjadi kaya. Tidak salah bila seseorang menjadi kaya. Akan tetapi, kerakusan dapat membuat anda kehilangan makna hidup. Orang muda kaya ini berlari-lari menjumpai Yesus untuk sesuatu yang hanya dapat diberikan oleh Yesus: damai dalam hatinya dan harmoni dalam hidupnya. Yesus mengajukan kepadanya suatu pendekatan baru pada hidupnya. Ia berkata: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin.” Yesus berkata, kamu harus membagi kekayaanmu. Kekayaanmu bukanlah milikmu. Semuanya adalah milik Allah dan kamu harus membagikannya dengan mereka yang membutuhkan.” Melepaskan, meninggalkan, adalah kata-kata Yesus yang harus kita perhatikan. Orang muda kaya itu pergi dengan sedih hati.

Sabda Yesus jelas: seseorang tidak dapat masuk ke dunia baru yang Ia tawarkan tanpa berbagi apa yang ia miliki dengan sesama. Harta kekayaan dunia ini harus kita ubah menjadi kasih. Yesus mengajak kita menaruh perhatian pada bahaya dari kekayaan karena kekayaan memiliki kekuatan yang menggoda.

“Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Itu hal yang tidak mungkin! Tetapi jelas bagi Yesus: “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.” Ketika kita tawaran Yesus itu menjadi semangat hidup kita, kodrat kemanusiaan kita dipulihkan, segala roh kelekatan terhadap kekayaan dan harta milik diusir keluar dari hidup kita. Sekali kusta cinta diri kita disembuhkan, kita akan dengan sukacita berbagi dengan saudara dan saudari kita.

Nah, semangat apakah yang perlu kita hidupi agar kita sungguh-sungguh bahagia? Saya sebut semangat itu 3 S: Stewardship, Simplicity, Sharing.

Stewardship: Steward adalah hamba (dalam bahasa KS adalah hamba yang dipercaya untuk mengelola harta benda tuannya). Sikap sebagai hamba yang baik, yang bertanggungjawab itulah yang harus dihidupi. Apa saja yang kita miliki, juga bumi ini, bukan milik kita. Semua adalah milik Allah. Kita dipercaya untuk mengelolanya secara bertanggungjawab, bukan dengan rakus demi kepentingan diri sendiri.

Semangat sebagai hamba yang dapat dipercaya itu akan menghantar kita pada S yang kedua: Simplicity. Kesadaran bahwa apa yang kita terima adalah milik Allah, akan menuntun kita untuk hidup sederhana, bersahaja, tidak mengejar apa yang tidak kita butuhkan. Sering kali kita terjerumus pada konsumerisme. Tidak butuh tapi termakan iklan: produk ini bagus, itu bagus, sana bagus…. so ada tv tapi tetangga punya lebih besar… sa punya harus lebih besar…. Konsumerisme telah membuat kita rakus dan masuk dalam lingkaran produksi yang mengeruk hasil bumi ini demi keuntungan segelintir orang saja.

Simplicity, hidup sederhana, akan menuntun kita pada S yang ketiga: sharing. Semakin simpel hidup kita, semakin mudah kita berbagi. Dan orang yang mau berbagi pasti juga care: memelihara. I share because I care.

Jika kita menghidupi 3 S ini, kita hidup dalam KASIH. Kasih kepada dan sesama.

Author

Write A Comment