Sabda Hidup
Rabu, 22 November 2023, Rabu Pekan Biasa XXXIII, Peringatan Sta. Sesilia
Bacaan: 2Mak. 7:1,20-31; Mzm. 17:1,5-6,8b,15; Luk. 19:11-28
Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.”
(Luk 19: 13)
Ada perbedaan antara Perumpamaan tentang Talenta dalam Mat 25: 14-30 dan Perumpamaan tentang Uang Mina dalam Luk 19: 11-28 atau bacaan Injil hari ini.
1 Talenta, adalah satuan ukuran emas atau perak seberat kurang lebih 30 kg dan sama dengan 6.000 dinar. 1 dinar adalah upah kerja 1 hari. Jadi 1 talenta sama dengan upah kerja 20 tahun. Jadi kalau seorang tuan mempercayakan 1 talenta itu sudah merupakan kepercayaan yang besar sekali. Dengan demikian perumpamaan tentang Talenta menekankan kepercayaan Tuhan terhadap kita.
Sedangkan 1 mina (koin emas) adalah standard berat 1.25 pound logam mulia. Harganya sama dengan 50 shekel, atau sama dengan kurang lebih upah kerja 200 hari. Jadi nilainya tidak sebesar talenta. Yang mencolok dalam perumpamaan ini, kesepuluh hamba menerima jumlah mina yang sama. Yang ditekankan di sini adalah kemurahan Allah. Ia memperlakukan kita semua sama, tak ada yang dibeda-bedakan. Bukankah kita menerima hidup yang sama, walau kita berbeda latar belakang satu dengan yang lainnya? Apakah Allah memperlakukan seorang pastor dengan seorang umat secara berbeda? Tidak. Apakah Allah memperlakukan seorang presiden dengan seorang warga di pelosok pedalaman secara berbeda? Tidak.
Yang jadi pertanyaan adalah, apa yang telah kita perbuat dengan hidup yang Allah percayakan kepada kita? Bukan soal 1 mina menghasilkan 10 mina atau 5 mina. Namun, sikap positif kita miliki dalam menggunakan hidup yang telah dipercayakan kepada kita. Allah telah memberi kesempatan, apakah akan kita sia-siakan?
Satu tentu lebih baik daripada nol. Usaha, walau sedikit, lebih baik daripada tidak berusaha sama sekali. Ketika kita tergoda untuk berpikir gampangnya saja dan berpuas diri, ingat, bahwa apa yang lebih baik tidak pernah datang ketika kita berpegang pada apa yang kita pikir sudah cukup baik.
Adakah sisi-sisi hidup kita yang tidak terbuka pada perubahan karena kita berpikir bahwa saya sudah cukup baik? Bagaimana saya menginvestasikan kepercayaan Allah kepada saya? Apakah saya cenderung merasa puas diri?
Santa Sesilia, Perawan dan Martir

Cerita-cerita mengenai Sesilia kurang pasti dan jelas. Dalam buku ‘Acta’ (Cerita Kuno) yang berbau legenda, diceritakan bahwa Sesilia adalah seorang gadis Roma yang telah menjadi Kristen. Ia, puteri bangsawan dari suku bangsa Coesilia, suku terkenal yang menghasilkan banyak pemimpin serta delapan belas orang konsul untuk Republik Roma pada masa itu. Konon semenjak kecil ia telah berikrar kepada Allah untuk hidup suci-murni dan tidak menikah. Namun ketika sudah dewasa, orang-tuanya mempertunangkan dia dengan Valerianus, seorang pemuda yang berhati mulia dan jujur tetapi masih kafir.
Sebagai anak yang sudah menjelang dewasa, ia cukup bijaksana menghadapi ulah orang-tuanya. Ia tidak menoIak kehendak orang tuanya, kendatipun dalam hatinya ia terus berupaya mencari jalan bagaimana cara ia tetap mempertahankan ikrar kemurniannya. Ia yakin bahwa Tuhan yang Mahakuasa akan membantunya dalam niatnya yang baik itu. Dengan keyakinan itu, imannya tidak goyah sambil tetap menghormati kedua orang-tuanya. Ketika hari perkawinannya tiba, maka Sesilia mengikuti upacara sambil berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani; sementara itu para tamu sudah datang dan bunyi musik pun sudah ramai terdengar. Seusai pesta perkawinan itu, ia bersama Valerianus memasuki kamar mereka sebagai suami-isteri.
Dengan berani Sesilia berkata kepada suaminya Valerianus: “Valerianus! Aku mau menceritakan kepadamu suatu rahasia pribadi. Aku mohon engkau mendengarkannya dengan sepenuh hati dan tetap menerima aku sebagai isterimu. Engkau harus tahu bahwa aku mempunyai seorang malaekat yang selalu menjaga aku. Jika engkau berani menyentuh aku sebagaimana biasanya dilakukan oleh suami-isteri yang sudah menikah secara resmi, maka malaekat itu akan marah dan engkau akan menanggung banyak penderitaan. Tetapi jika engkau menghormati keperawananku, maka malaekat pelindungku itu akan mencintai emgkau sebagaimana dia mencintai aku.”
Kata Valerianus: “Tunjukkanlah malaekat itu kepadaku. Jika ia berasal dari Tuhan maka aku akan mengikuti kemauanmu.” Jawab Sesilia: “Jika engkau percaya dan mau dibaptis menjadi Kristen, engkau akan melihat malaekat itu.” Valerianus menyetujui usul Sesilia, isterinya. Ia disuruh menghadap Paus Urbanus, yang tinggal di Jalan Apia. Di sana ia mengalami suatu penampakan ajaib dan mendapat pengetahuan iman lalu ia bertobat dan dipermandikan oleh Paus Urbanus. Ketika ia kembali ke rumah, didapatinya Sesilia sedang berdoa didampingi seorang malaekat yang membawa 2 mahkota bunga: untuk Sesilia dan Valerianus. Valerianus sangat terharu menyaksikan peristiwa itu. Dengan itu apa yang dikehendakinya terpenuhi: ia melihat sendiri malaekat pelindung Sesilia, isterinya.
Pada waktu itu Kaisar Roma Diokletianus sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristen. Dengan rajin Sesilia dan Valerianus setiap hari menguburkan jenazah orang-orang Kristen yang dibunuh. Valerianus kemudian tertangkap dan dihukum mati bersama adiknya dan seorang tentara Romawi yang bertobat. Tak lama kemudian Sesilia juga ditangkap dan diadili. Ia menolak dengan tegas bujukan para penguasa. Maka ia disiksa dengan bermacam-macam cara, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Akhirnya dia dipenggal lehernya dan wafat sebagai martir Kristus pada tahun 230.
Keberaniannya menghadapi kemartirannya membuat Sesilia tampil sebagai contoh gadis Kristen sejati, yang menjadikan hidupnya suatu madah pujian bagi Tuhan; ia dengan tegas dan gembira memilih keperawanan dan lebih senang mati daripada menyangkal cinta setianya kepada Kristus. Kemartirannya membuat banyak orang Roma bertobat dan mengimani Kristus. Dalam abad kelima di Roma didirikan sebuah gereja basilik untuk menghormatinya, dan devosi-devosi rakyat segera mengangkatnya sebagai pelindung paduan suara dan musik gerejawi.
Ya Allah, Engkau menggembirakan kami hari ini dengan peringatan hamba-Mu Santa Cecilia. Semoga teladan hidupnya dapat kami ikuti, sehingga kami pun dapat menyatakan karya kasih Kristus, Putera-Mu, dalam hidup kami, para hamba-Mu. Amin.
