Remah Harian

INKLUSI, BUKAN EKSKLUSI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu 17 Februari 2024, Sabtu Sesudah Rabu Abu
Bacaan: Yes. 58:9b-14Mzm. 86:1-2,3-4,5-6Luk. 5:27-32.

LUK 5: 30 – 32

Suatu hari, Uskup Angelo Giuseppe Roncalli (yang kemudian menjadi Paus Yohanes XXIII) mendengar bahwa salah seorang imamnya jatuh dalam kecanduan alkohol. Maka ia berkata kepada sekretarisnya: “Kita harus pergi mengunjungi dia.” Ketika mereka sudah dekat pastoran tempat imam itu tinggal, mereka tidak langsung masuk ke pastoran, tetapi ia mengutus sekretarisnya untuk menemui imam itu lebih dahulu. Sekretarisnya kembali dan berkata: “Topinya ada di atas meja, tetapi dia tidak ada di sana.” Uskup Roncalli berkata, “Jika topinya ada di sana, tentu ia juga ada di sana. Pergilah, lihat kembali.”

Beberapa waktu kemudian sekretarisnya kembali. Ia temukan imam itu di sebuah bar dan mengajaknya pulang ke pastoran. Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju pastoran. Di sana Uskup Roncalli mengambil kursi, menyodorkannya kepada imam tersebut dan berkata: “Duduklah saudaraku. Saya ingin mengaku dosa kepadamu.”

Sama seperti Uskup yang berbelaskasih itu, Yesus dalam Injil hari ini, tidak menutupi-nutupi kedekatanNya dengan pemungut cukai. Dia menunjukkan kepada para pengkritik-Nya bahwa sebagai Mesias, Dia datang untuk memanggil orang-orang berdosa seperti mereka. Yesus, sebagai Tabib Ilahi, bergaul dengan mereka yang “sakit” jiwanya dan mengundang mereka bertobat.

Yesus menunjukkan suatu prinsip keselamatan yang baru. Ia menunjukkan bahwa keselamatan itu inklusi, bukan eksklusi. Keselamatan itu merangkul, bukan menyingkirkan. Keselamatan itu mengundang ke dalam persekutuan, bukan memisahkan. Hal itu sungguh berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi yang tidak mau duduk semeja dengan para pemungut cukai dan orang berdosa.

Lewi, seorang pemungut cukai dan orang buangan, dipanggil ke dalam persekutuan seperti itu dan dia tidak hanya menjadi pengikut tetapi juga murid Yesus. Yesus melihat jauh melampaui cacat dan cela Matius. Itulah yang membuat Matius berubah, meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus sepenuh hati.

Apakah saya berbelas kasih seperti Yesus atau lebih mudah mengadili orang lain? Apakah saya merangkul orang-orang berdosa atau menjauhinya?

Tuhan, dengan kekuatan-Mu, jadikan kami terang bagi mereka yang berada dalam kegelapan, air bagi mereka yang haus, pembangun harapan dan kebahagiaan bagi semua orang. Semoga kami menjadi tanda-tanda yang hidup akan kasih dan kesetiaan-Mu. Amin.

Author

Write A Comment