Remah Mingguan

IMMANUEL, ALLAH BESERTA KITA: ASLI BUKAN HOAX

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 24 Desember 2023, Vigili Natal
Bacaan:  Yes. 9:1-6Mzm. 96:1-2a,2b-3,11-12,13Tit. 2:11-14Luk. 2:1-14

(LUK 2: 11)

Selasa, 19 Desember 2023 sore hari terjadi kehebohan besar di Merauke. Tiba-tiba seorang umat menelpon menyampaikan informasi yang ia dapatkan dari orang lain: “Pastor Didi Andries MSC dapat potong orang mabok di Kampung Domba!” [“dapat potong” adalah istilah yang berarti dilukai entah ditikam atau ditebas dengan senjata tajam]. Saya sendiri sedang terbaring di Kamar Yakobus no 8 Rumah Sakit Bunda Pengharapan karena kaki kanan bengkak parah akibat ditabrak oleh pemotor yang mabok saat saya jogging hari Minggu 17 Desember 2023 sore di Jalan Cigombong, Merauke. Cepat-cepat saya telefon Bruder Marvel – sampai berkali-kali karena telefon tidak segera diangkat – bahkan hingga mencoba menghubungi Bruder melalui telepon genggam anak-anak di rumah tetapi juga tidak berhasil. Setelah berkali-kali mencoba telefon akhirnya tersambung dan saya “perintahkan” kepada Bruder yang terkejut untuk mencek kebenaran berita tersebut ke Pastoran Kampung Baru dan mencari Pastor Didi di rumah-rumah sakit atau klinik yang ada di Merauke. Sebab berita yang tersebar mengatakan bahwa Pastor Didi dilarikan oleh seseorang, entah siapa, ke Rumah Sakit, tetapi entah Rumah Sakit mana. Untung di Merauke hanya ada tiga Rumah Sakit besar: Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Angkatan Laut dan Rumah Sakit Bunda Pengharapan. Kabar yang muncul terakhir Pastor Didi dibawa ke Rumah Sakit Angkatan Laut. Tetapi setelah dicek di sana, beliau tidak ada. Dicek di RSUD, beliau tidak ada. Di Rumah Sakit Bunda Pengharapan juga tidak ada. Dicek di semua klinik yang ada di Merauke, juga tidak ada. Sangat misterius dan orang menjadi semakin cemas.

Sementara itu kabar sudah beredar ke mana-mana dan anak-anak muda di Stasi Jatijati sudah bergerak mencari pelaku pembacokan. Pun kemudian tersiar kabar para pelaku pembacokan sudah diamankan polisi dan dibawa ke RSUD. Umat semakin resah dan banyak yang berduyun-duyun ke Paroki Kampung Baru. Pihak keamanan pun cepat bergerak mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak diinginkan.

Lalu saya ingat, hari ini, hari Selasa, 19 Desember 2023, Pastor Didi mempunyai jadwal membantu penerimaan Sakramen Tobat di Stasi Tambat, paroki Kuper, bersama Pastor Paroki Kuper, Pastor Agus Budiman MSC. Saya telpon Pastor Agus berkali-kali tidak diangkat. Mungkin ia sedang memberikan sakramen tobat. Saya telpon pastor Didi sendiri juga tidak diangkat. Saya chat Pastor Agus dan Pastor Didi juga tidak dijawab. Akhirnya saya chat dan kemudian telpon sekretaris Paroki Kuper dan bertanya, “Apakah Pastor Didi sampai di tambat?” Ia menjawab, “Ada Pastor, ada apa?” Segala kekhawatiran dan kebingungan itu dengan sekejab sirna. Beberapa waktu kemudian saya telpon Pastor Agus Budiman dan tersambung. Syukur penerimaan sakramen tobat sudah selesai. Dan melalui handphone Pastor Agus saya berbicara langsung dengan Pastor Didi yang sedang dalam perjalanan pulang dari Tambat bersama Pastor Agus. Dengan segera saya sampaikan berita kepada beberapa pihak terkait bahwa Pastor didi Andries dalam kondisi aman dan baik-baik saja, sedang dalam perjalanan pulang dari Stasi Tambat setelah membantu pelayanan Sakramen Tobat di sana.

Pastor Didi sendiri segera diantar oleh Pastor Agus kembali ke Paroki Kampung Baru dan di hadapan banyak orang dan pihak keamanan yang berkumpul di sana Pastor Hengky Kariwop MSC, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Merauke memberikan keterangan bahwa kabar yang beredar adalah HOAX. Pastor Didi juga memberikan keterangan atau kronologi kejadian yang dialami. Benar bahwa Pastor Didi yang siang itu hendak menuju ke Stasi Tambat, bersama beberapa orang lain, dihadang oleh sekelompok anak-anak muda yang dalam keadaan mabok di Jalan Gemahripah, Kampung Domba. Ia memang diancam dengan senjata tajam, namun syukur tidak mengenainya dan tidak terluka. Karena berhasil melewati ancaman mereka dan tidak terluka serta perhatiannya ada pada tugas memberi sakramen tobat, maka ia melanjutkan perjalanannya ke Stasi Tambat.

Isu menyangkut keselamatan seorang imam dapat menjadi hal yang sangat sensitif di Merauke. Seperti isu bahwa Pastor Didi ditikam oleh orang Mabok bisa memicu kelompok yang merasa benar untuk mengadili para pelaku penikaman. Hal itu dapat melebar menjadi konflik kampung yang satu dengan kampung yang lain, atau kelompok etnis yang satu dengan kelompok etnis yang lain. Bila terjadi sesuatu terhadap apapun yang berhubungan dengan Gereja – misalnya seorang imam ditikam – orang yang tidak pernah datang misa di gereja pun bisa menjadi yang “paling katolik” untuk membela Gereja atau gembala-gembalanya. Dalam hal ini saya merasa beruntung, sebab peristiwa kecelakaan yang saya alami saat saya jogging seminggu yang lalu, lepas dari berita sana-sini. Walau seminggu setelah kejadian saya masih kesulitan untuk berjalan, masih merasa “beruntung” hahaha. Bagaimanapun, jika peristiwa itu menjadi isu liar bisa mengakibatkan hal-hal yang tak diinginkan.

Berbicara tentang isu dan hoax, warta tentang kelahiran Sang Juruselamat dalam Injil hari ini: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud!” (Luk 2: 11) bukanlah sekadar isu dan bahkan bukan berita palsu! Warta kesukaan besar bagi seluruh bangsa manusia itu bukan berita palsu! Penggenapan warta “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” yang berarti: Allah menyertai kita” (Mat 1: 23) itu bukan hoax. Bahwa Allah Yang Mahatinggi lahir sebagai Immanuel – Allah yang menyejarah dalam kehidupan manusia – itu bukan kabar isapan jempol! Silsilah Yesus Kristus yang kita baca dalam Injil misa sore menjelang hari raya mau menegaskan fakta Allah yang menyejarah itu.

Ia tidak hanya lahir dalam sejarah manusia lebih dari 2000 tahun yang lalu. Ia ada bersama kita 24 jam sehari, sepanjang waktu! Ia tidak peduli apakah umat manusia yang akan diselamatkan-Nya itu baik atau buruk, memaafkan atau tidak, murah hati atau tidak, Ia tetap menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal,” (Yoh 3: 16). “Jesus is the name and the face of the love of God who came to dwell among us,” kata Paus Fransiskus. Itulah Natal.

Saat merenungkan misteri Inkarnasi ini, pikiran saya melayang menuju tempat terjadinya natal pertama – Betlehem. Berita dari Aljazeera dua hari lalu mengatakan: “Jalanan dan halaman di Betlehem sebagian besar kosong, jalan-jalan menuju kota telah ditutup oleh pasukan Israel, dan beberapa kota di daerah tersebut telah diserbu dengan kejam oleh tentara Israel bersenjata.” Konflik yang terjadi di Israel telah memaksa umat Kristiani membatalkan perayaan-perayaan Natal mereka. Pun Gereja-Gereja di Palestina telah mengumumkan pembatalan perayaan-perayaan Natal sebagai solidaritas dengan Gaza. Ibadah-ibadah dibatasi. Dua jam sebelum saya menulis renungan ini, diberitakan: “Sebelumnya, kami juga melaporkan bahwa pasukan Israel telah menyerbu kota Tulkarem dan Bethlehem, serta kota Beita di selatan Nablus. Pertempuran dilaporkan terjadi antara warga Palestina dan tentara Israel di Tulkarem.” Reuter menulis: “’Natal terburuk yang pernah ada’ di tempat kelahiran Yesus karena dampak perang telah mengosongkan Betlehem.” Doa-doa kita untuk damai di sana. Untuk para korban perang. Agar warta, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya,” itu menjadi nyata. Memang agar warta damai itu bukan isu isapan jempol harus ada usaha aktif dari pihak kita untuk menyatakannya.

Seorang Mistikus besar dari Jerman Angelus Silesius berkata, “Kristus dapat dilahirkan seribu kali di Betlehem – tetapi semuanya sia-sia jika Dia tidak lahir di dalam diri saya.” Biarlah Yesus dilahirkan kembali dalam hati dan kehidupan kita, tidak hanya selama Natal, tetapi setiap hari, sehingga Dia dapat memancarkan Cahaya kehadiran-Nya dari dalam diri kita dalam kasih yang berbagi dan tanpa pamrih, yang diungkapkan dalam kata-kata dan perbuatan yang penuh belas kasih, pengampunan tanpa syarat, semangat pelayanan yang rendah hati dan, kemurahan hati yang melimpah.

Saat ini, serombongan masyarakat dari kampung Wayau, distrik Animha menginap di Petrus Vertenten MSC Center. Mereka baru mendapatkan pencairan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Maka kepala desa mengantar mereka ke Merauke untuk berbelanja, persiapan perayaan Natal. Rupanya mereka sudah selesai berbelanja sebab anak-anak sudah riuh rendah dengan terompet-terompet dan petasan. Semoga mereka kembali ke kampung nanti mengalami Natal yang membahagiakan dan damai. Jangan lupa, Yesus lah pusat perayaan Natal, bukan pesta pora, apalagi minum – mabok yang berujung pada timbulnya banyak permasalahan.

“It is Christmas when you let God love others through you,” kata Ibu Teresa dari Calcutta. Semoga Ia lahir di hati anda dan hati saya!

Author

Write A Comment