Remah Harian

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 31 Januari 2023, Peringatan St. Yohanes Bosko
Bacaan: Ibr. 12:1-4Mzm. 22:26b-27,28,30,31-32Mrk. 5:21-43

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

(Mrk 5: 34)

Pernahkah anda mengalami putus asa dan kehilangan harapan? Pernah merasa tak berdaya? Baik Yairus maupun perempuan yang menderita sakit pendarahan dalam Injil hari ini datang kepada Yesus dengan ketidakberdayaan mereka. Tidak ada solusi yang mungkin bagi perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun itu dan anak perempuan Yairus yang sudah hampir mati, atau bahkan mungkin sudah mati pada saat Yesus sampai di rumah mereka.

Namun, Yairus dan perempuan yang menderita pendarahan itu datang kepada Yesus dengan iman yang besar! Dan mereka datang dengan cara mereka sendiri yang unik.

Yairus secara terbuka meminta Yesus untuk datang ke rumah-Nya untuk putrinya. Barangkali teman-temannya amat heran dengan perilakunya. Sebab sebagai seorang kepala rumah ibadat, dia seharusnya tidak mengemis pada seorang rabi dari Nazareth yang mengundang tanya itu. Namun kita juga memahami situasi seorang ayah yang putus asa dan rela berbuat apa saja ketika kehidupan anaknya dipertaruhkan.

Di sisi lain perempuan yang menderita pendarahan menahun itu diam-diam menyentuh jumbai jubah Yesus. Dia datang diam-diam, takut ketahuan, karena menurut agama Yahudi dia adalah seorang yang najis. Tapi dia nekat. Hanya satu hal dalam pikirannya, melampaui rasa takut dan putus asa, yaitu keyakinannya bahwa ia akan sembuh.

Keyakinan iman dan harapan mereka terbayar lunas! Yesus berkata kepada Yairus untuk tetap percaya ketika orang-orang berkata kepadanya bahwa anaknya telah mati. Yesus juga berkata kepada perempuan yang dengan rendah hati berlutut di hadapan-Nya setelah disembuhkan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Apapun masalah atau kesulitan yang kita hadapi, siapa pun kita, kapan pun kita mendekati Yesus dengan iman yang tulus dan jujur, Dia akan datang kepada kita tanpa syarat, dengan cara-Nya yang luar biasa untuk menyelamatkan kita. Dia tidak hanya menyembuhkan kita dari kelemahan fisik, dari penyakit, dari rasa malu, dari rasa bersalah kita atau dari cacat sosial; Yesus datang untuk memulihkan martabat kita, kesatuan kita dengan keluarga, dengan komunitas dan seluruh gereja dan kesatuan kita dengan Pencipta kita.

Tuhan Yesus, Engkau mengasihi kami masing-masing secara pribadi dengan kasih yang unik dan pribadi. Sentuh hidupku dengan kuasa-Mu yang menyelamatkan, sembuhkan dan pulihkan aku ke kepenuhan hidup. Bantu aku untuk memberikan diri sepenuhnya dalam pelayanan kasih kepada sesama.

St. Yohanes Bosko, Imam

St. Yohanes Bosko

Hari ini kita peringati St. Yohanes Bosko. Yohanes Melkior Bosko lahir pada tanggal 16 Agustus 1815 di Becchi, sebuah desa dekat dengan kota Torino, Italia. Ketika menanjak remaja, anak petani yang sederhana ini tidak diperkenankan masuk sekolah oleh orang tuanya karena diharuskan bekerja di ladang. Dalam situasi ini ia diajar oleh seorang imam yang baik hati. Jerih payah imam tua itu menyadarkan orang tua Bosko akan pentingnya nilai pendidikan. Oleh karena itu sepeninggal imam tua itu, ibunya menyekolahkannya ke Castelnuovo. Pendidikan di Castelnuovo ini diselesaikannya dalam waktu satu setengah tahun. Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di seminari Chieri dan ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1841. Karyanya sebagai imam diabdikan seluruhnya pada pendidikan kaum muda. Ia membuka sebuah perkumpulan untuk menampung anak anak muda yang terlantar, buta huruf dan miskin. Cita citanya ialah mendidik para kawula muda itu menjadi manusia manusia yang berguna dan mandiri. Ia berhasil mengumpulkan 1000 orang pemuda dari keluarga keluarga miskin. Dengan penuh kesabaran, pengertian dan kasih sayang, ia mendidik mereka hingga mereka menjadi manusia yang baik dan bertanggung jawab. Salah seorang muridnya yang terkenal adalah Dominikus Savio, yang kemudian hari menjadi orang kudus.

Keberhasilannya ini terus membakar semangat untuk memperluas karyanya. Untuk itu ia mendirikan sebuah rumah yatim piatu dan asrama. Dengan demikian para pemuda itu dapat tinggal bersama dalam satu rumah untuk belajar dan melatih diri dalam ketrampilan ketrampilan yang berguna untuk hidupnya. Untuk pendidikan ketrampilan, Bosko merubah dapur di rumah ibunya menjadi sebuah bengkel sepatu dan bengkel kayu. Bengkel inilah merupakan Sekolah Teknik Katolik yang pertama. Sekolah ini tidak hanya menghindarkan pemuda pemuda dari kenakalan remaja, tetapi juga menciptakan pemimpin pemimpin di bidang industri dan teknik. Lebih dari itu, cara hidup Bosko sendiri berhasil membentuk kepribadian pemuda pemuda itu menjadi orang orang Kristen yang taat beragama bahkan saleh. Pada tahun 1859 atas restu Paus Pius IX (1846 – 1878), Bosko mendirikan sebuah tarekat religius untuk para imam dan bruder, yang dinamakan Kongregasi Salesian. Kemudian pada tahun 1872, bersama Santa Maria Mazzarello, Bosko mendirikan Serikat Puteri puteri Maria yang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan kaum puteri. Bosko mendirikan banyak perkumpulan di sekolah. Ia dikenal sebagai perintis penerbitan Katolik dan rajin menulis buku buku dan pamflet. Ia pun mendirikan banyak gereja dan membantu meredakan pertentangan antara tahta Suci dengan para penguasa Eropa. Dalam karyanya yang besar ini, Bosko selalu menampilkan diri sebagai seorang imam yang saleh, penuh disiplin dan rajin berdoa. Ia menjadi seorang Bapa Pengakuan yang terpercaya di kalangan kaum remaja. Pada saat saat terakhir hidupnya, ia menyampaikan pesan indah ini: Katakanlah kepada anak anakku, Aku menanti mereka di surga. Ia meninggal dunia pada tahun 1888 dalam usia 72 tahun. Pada tanggal 2 Juni 1929, Yohanes Melkior Bosko dinyatakan sebagai Beato dan pada tanggal 1 April 1934 ia digelari Santo oleh teman dekatnya Paus Pius XI (1922 – 1939).

Author

Write A Comment