Sabda Hidup
Senin, 4 Desember 2023, Senin Pekan Advent I
Bacaan: Yes. 2:1-5 atau Yes. 4:2-6; Mzm. 122:1-2,3-4a,(4b-5,6-7), 8-9; Mat. 8:5-11.
Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh….. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.”
(Mat 8: 8. 10)
Bayangkan, seorang pejabat militer Romawi, yang biasanya merasa lebih superior, memohon kepada seorang pengkhotbah Yahudi sederhana dari kampung untuk menyembuhkan hambanya yang sakit! Dan itu hanya dengan sebuah perintah! Di sini, sekali lagi, kepada kita dihadapkan sebuah kisah yang begitu familiar sehingga sering kali kita menganggapnya biasa saja. Kisah ini seharusnya mengejutkan kita. Bahkan Yesus saja kagum, terkejut; mengapa kita tidak?
Kisah ini sangat luar biasa karena menunjukkan beberapa sikap yang luar biasa. Pertama-tama, adalah si perwira Romawi. Dia pasti telah harus merendahkan diri untuk mendekati seorang Yahudi dan memohon bantuan. Dia juga menunjukkan kepedulian yang luar biasa, bukan kepada anaknya, tetapi kepada seorang hamba. Dan akhirnya, betapa luar biasanya iman yang dimiliki oleh perwira ini!
Kisah ini juga luar biasa karena Yesus. Sebagai seorang Yahudi, Dia pasti tidak menyukai orang Romawi yang telah menduduki tanah yang Tuhan janjikan dan berikan kepada nenek moyang-Nya. Tetapi Dia siap untuk menemui perwira itu dan menyembuhkan hamba-Nya. Akhirnya, Dia memuji orang asing yang bukan Yahudi ini dengan lantang. Tentu saja, orang-orang Yahudi yang mendengar perkataan-Nya tidak menyukai Dia, bahkan bisa tersinggung, karena mengatakan bahwa orang asing yang beriman dapat masuk surga lebih dulu daripada orang-orang sebangsanya.
Gereja memberikan kita bacaan ini pada awal masa Adven dan dengan demikian membuat kita sadar betapa pentingnya menumbuhkan iman yang kokoh – sesuatu yang mungkin mudah kita lupakan selama minggu-minggu sibuk sebelum Natal.
Tidak diragukan lagi, kita memiliki iman. Namun, apakah iman kita sekuat dan sekokoh iman perwira Romawi itu? Apa yang terjadi ketika masalah dan cobaan besar datang ke dalam hidup kita? Apakah iman kita cukup kuat untuk menghadapi saat-saat ketika Tuhan tampak jauh?
Semoga kisah indah iman perwira Romawi ini tidak kita lewatkan begitu saja, tetapi menyentuh kita, mengusik kita untuk bertanya tentang iman kita.
Tuhan, bercermin dari iman prajurit Romawi ini, aku menyadari bahwa imanku tidak cukup kuat. Teruslah kuatkan imanku dengan Sabda-Mu dan dengan Ekaristi agar iman itu dapat bertahan menghadapi segala masalah dan persoalan dalam hidupku. Amin.
