Sabda Hidup
Senin, 3 Juli 2023, Pesta St. Tomas Rasul
Bacaan: Ef. 2:19-22; Mzm. 117:1,2; Yoh. 20:24-29.
Yesus berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
(Yoh 20: 27 – 29)
Tomas adalah salah satu nelayan di Danau Galilea yang dipanggil oleh Yesus untuk menjadi salah satu dari dua belas rasul-Nya. Ia dikenal sebagai “Si Kembar” atau “Didimus”. Meskipun ia adalah orang yang lambat untuk percaya, sebenarnya ia memiliki hati yang penuh dengan kasih, simpati, dan keberanian. Ia memiliki kasih yang besar kepada Tuhan, bahkan rela mati bagi-Nya ketika ia pergi ke Yerusalem. Namun ia berpisah dengan para rasul lainnya setelah penyaliban. Itulah sebabnya setelah kebangkitan Yesus, ketika para murid-Nya berkumpul dan Dia menampakkan diri kepada mereka untuk pertama kalinya, ia menjadi orang pertama yang “membolos” dari pertemuan jemaat hari Minggu. Dia tidak percaya pada berita yang dilaporkan kepadanya oleh murid-murid lain bahwa Yesus telah bangkit dari mati sampai ia diizinkan untuk menyentuh luka-luka Yesus. Karena hal ini, ia mendapat sebutan ‘Tomas si peragu’.
Kita tidak tahu banyak tentang Santo Tomas karena beberapa hal yang diceritakan tentangnya tercampur dengan legenda. Tetapi ketika Yesus mengetahui bahwa sahabat-Nya, Lazarus, telah mati di Betania, Dia mengatakan bahwa Dia berniat untuk pergi ke sana. Sangatlah berbahaya bagi-Nya untuk pergi dari Galilea di Yudea karena musuh-musuh-Nya di sana telah siap untuk membunuh-Nya. Ketika Tomas melihat bahwa Yesus bersedia mengambil risiko itu, ia ketetapan hati berkata kepada para rasul yang lain, “Marilah kita pergi untuk mati bersama Dia,” (Yohanes 11:16).
Di lain kesempatan, ketika Tuhan kita, pada saat Perjamuan Terakhir, mengatakan bahwa Dia akan meninggalkan mereka, dan berkata “ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ,” Tomas membantah-Nya dan dia dengan jujur berkata kepada Tuhan: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Yesus menjawab, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup; tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” (Yohanes 14:4-6).
Namun malang bagi Tomas, ia selalu disebut “Tomas si peragu”, padahal ia adalah satu-satunya rasul, selain Petrus, yang dengan jelas menyatakan imannya kepada Tuhan: “Tuhanku dan Allahku!” St. Gregorius Agung bahkan berkata tentang Tomas: “Ketidakpercayaan Tomas telah melakukan lebih banyak hal untuk iman kita daripada kepercayaan murid-murid lainnya.”
Thomas sering disebut peragu. Akan tetapi kita pun sering memiliki begitu banyak keraguan, terutama dalam hal iman. Banyak orang yang berkata: “Tuhan, tolong beri saya sebuah tanda apakah Engkau mengabulkan doa-doa saya atau tidak.” Banyak dari kita bahkan meragukan apakah hosti yang kita terima dalam Misa benar-benar Tubuh Kristus. Bahkan banyak dari kita yang tidak percaya apa yang dikatakan Gereja tentang dogma, doktrin, ajaran-ajaran sosial, ajaran tentang isu-isu terkini seperti ketidakadilan, perang yang kejam, korupsi dan sebagainya. Jika seorang imam atau uskup berbicara tentang korupsi, penyalahgunaan jabatan, serta dosa-dosa sosial lainnya di mimbar, banyak dari kita yang akan berkata, “Ah itu bukan tugasnya!” Jika kita mengalami penderitaan dan kesulitan, kita bertanya: “Di manakah Engkau ya Allah dalam semua penderitaan dan kesulitan ini?”
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” (ay. 27). Di sini Yesus menunjukkan betapa Ia mengasihi murid-murid-Nya. Ia memberi mereka kesempatan lain, kesempatan kedua. Inilah cara Yesus mengasihi kita sebagai murid-murid-Nya. Yesus menerima Tomas apa adanya dan menolongnya untuk menghilangkan keraguannya akan kebangkitan-Nya sehingga ia dapat mengerti, percaya dan bertumbuh dalam imannya. Sebagai pengikut Yesus, kita pun dipanggil untuk melanjutkan misi-Nya untuk mengasihi, menyembuhkan dan membawa kembali mereka yang telah tersesat kepada Tuhan.
Hari ini, saat kita merayakan Pesta Santo Thomas Rasul, marilah kita mengingat kegagalan dan keraguan kita sendiri. Semoga kelemahan-kelemahan yang Tuhan izinkan untuk kita alami, memberi kita kesadaran untuk berubah dan memberi kita iman dan kepercayaan yang lebih kuat kepada Tuhan kita Yesus Kristus.
