Sabda Hidup
Minggu, 6 November 2022, Minggu Biasa XXXII Tahun C
Bacaan: Mak. 7:1-2,9-14; 17:1,5-6,8b,15; 2Tes. 2:16-3:5; Lukas 20:27-38
“Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”
(Luk 20: 38)
Suatu kali dalam rekoleksi anak-anak SMP, seorang anak bertanya: “Kakak sulung saya lahir 10 tahun sebelum saya lahir, tetapi ia meninggal ketika ia berusia 2 tahun. Lalu ibu saya meninggal ketika ia berusia 50 tahun. Misalnya, saya nantinya meninggal pada usia 60 tahun lalu bertemu dengan kakak sulung saya dan ibu saya, apakah saya akan lebih tua dari mereka?”
Di lain kesempatan seorang bapak menerangkan, mengapa ia takut naik pesawat. Ia bilang, “Jangan-jangan pesawat yang saya tumpangi meledak di udara dan saya hancur berkeping-keping. Lalu pada saat kebangkitan badan, Tuhan ribet dong mau menyatukan kembali tubuh saya yang sudah hancur. Lebih baik saya meninggal dengan badan yang masih utuh sehingga saya ada di antara mereka yang pertama bangkit dari mati.”
Pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran yang rumit. Seperti pertanyaan orang Saduki kepada Yesus dalam Injil hari ini.
Kita mengimani kebangkitan. Kita percaya bahwa setiap orang akan dibangkitkan dan mempunyai hidup kekal. Jika tidak ada harapan akan kebangkitan, tak ada gunanya berbuat baik kepada sesama, mengasihi dan melayani mereka. Jika tidak ada harapan akan kebangkitan, tak ada gunanya berkorban dan memberikan hidup kita bagi orang lain. Jika tidak ada kehidupan sesudah mati, tak ada gunanya berdoa, menghadiri Misa setiap Minggu, tak ada gunanya bekerja untuk perdamaian dan keadilan, aktif dalam kegiatan gereja ini itu, tak ada gunanya menerima sakramen-sakramen, dst. Jika tak ada kehidupan sesudah mati, tak ada artinya saya menjadi imam. Kita percaya akan kebangkitan dan kehidupan kekal.
Dalam Injil hari ini – dengan maksud menjebak Yesus – beberapa orang Saduki mendekati Yesus dan bertanya kepada-Nya tentang kebangkitan. Orang-orang Saduki, adalah suatu sekte politis-religius, yang namanya berasal dari kata tsaddiqim, yang berarti “yang benar” atau “tidak palsu”. Nama itu berhubungan dengan nama “Sadoc”, imam agung pada masa Raja Daud dan Salomo (1 Raja-raja 1: 8, 26, 32). Mereka berpegang pada ketaatan terhadap Hukum Musa.
Orang-orang Saduki tidak populer dalam masyarakat banyak karena kecenderungan kedekatan mereka dengan kekuasaan Roma. Karena itu para Farisi yang patriotic lambat laun lebih berperan sebagai pemimpin di antara masyarakat. Orang-orang Saduki menolak kebangkitan, kekekalan jiwa dan tidak percaya adanya malaikat (Mat 22: 23; Mrk 12: 18; Kis 23: 8). Mereka juga menolak tradisi lisan yang dipelihara oleh orang-orang Farisi dan ditambahkan dalam hukum. Oleh sebab itu bisa dimengerti bahwa mereka mengolok-olok Yesus dengan pertanyaan: “Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” (Luk 20: 33). Sebenarnya pertanyaan mereka didasarkan pada Kitab Ulangan 25: 5 – 10 yang antara lain mengatakan, “Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah isteri orang yang mati itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar.”
Mengapa orang-orang Saduki tidak percaya kepada kebangkitan? Menurut mereka, kepercayaan terhadap kebangkitan tidak tertulis secara eksplisit dalam Hukum Musa. Menurut mereka, itu hanya deduksi dari para penafsir hukum. Tetapi ada sesuatu di balik ketidakpercayaan mereka terhadap kebangkitan. Pada masa Yesus, para Saduki adalah kelompok eksklusif yang terdiri dari orang-orang terkemuka dalam masyarakat Yahudi: orang-orang kaya, para bangsawan dan para imam. Maka mereka hidup seperti “sapi-sapi gemuk” yang hidup enak dan mewah. Mereka hidup serba kecukupan, tak ada kebutuhan-kebutuhan lain lagi. Jika mereka hidup seperti itu, untuk apa memikirkan kebangkitan? Bagi mereka, jika ada kehidupan setelah mati, itu hanya kelanjutan dari kehidupan duniawi.
Sebenarnya, para Saduki bertanya bukan karena menginginkan jawaban yang jujur, tetapi karena mereka ingin menjebak Yesus. Akan tetapi Yesus menggunakan pertanyaan tidak jujur itu untuk mengajar. Pertama, ia menerangkan perbedaan antara “masa kini” (hidup duniawi) dengan “masa depan” (hidup sesudah dibangkitkan atau hidup sesudah mati). Ia mengatakan bahwa kebangkitan bukanlah sekadar kelanjutan dari hidup di dunia. Dan Ia mengatakan bahwa kebangkitan hanya untuk “mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu,” (Luk 20: 35).
Jika kita sudah dibangkitkan, kita mempunyai tubuh yang mulia yang berbeda dengan badan kita di dunia. Kebangkitan adalah suatu keberadaan yang berbeda. Bagi mereka yang layak dibangkitkan tak ada perkawinan untuk memastikan kelanjutan ras manusia. “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itudan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikatdan mereka adalah anak-anakAllah, karena mereka telah dibangkitkan,” (Luk 20: 34 – 36).
Jadi, apa yang harus kita buat jika kita percaya akan kebangkitan?
Pertama, jika kita ini adalah warga Kerajaan Allah, maka hiduplah sebagai warga Kerajaan Allah, bukan sebagai orang asing. Hiduplah sebagai manusia-manusia kebangkitan. Itu berarti bahwa kita tidak terlena dan tinggal berbaring dalam kubur dosa-dosa dan kebiasaan jahat kita. Sebaliknya, hiduplah dalam damai dan sukacita, secara terus menerus mengalami Kehadiran nyata Tuhan yang bangkit. Harapan kita akan kebangkitan akan memberi kita damai dan sukacita surgawi untuk melawan kebosanan, kejenuhan dan ketegangan hidup sehari-hari. Menumbuhkan kesadaran kita akan Kehadiran Roh Allah yang hidup akan membantu kita mengendalikan pikiran, keinginan, perkataan, dan perilaku kita. Iman akan kebangkitan dan kemuliaan kekal, atau hukuman kekal, juga harus mengilhami kita untuk menghormati tubuh kita, menjaganya agar tetap suci, murni, dan bebas dari kebiasaan jahat, dan untuk menghormati mereka yang berelasi dengan kita, memperlakukan mereka dengan penuh kasih. dan pelayanan yang rendah hati.
Kedua, kita perlu berfokus pada kehidupan kekal mulai dari sekarang. Sesungguhnya kalau kita tahu bahwa Tuhan telah menyatakan kepada kita jalan kehidupan dan jalan kematian, maka sudah seharusnya kita memilih jalan kehidupan yang akan membawa kita kepada kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini tidak bisa kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri, namun merupakan pemberian Allah, yang harus kita tanggapi secara bebas oleh iman, dengan terus bekerjasama dengan rahmat-Nya, senantiasa berharap kepada janji-Nya, dan terus bertumbuh dalam kasih. Marilah, sekali lagi kita mengarahkan pandangan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu kehidupan kekal. Kapan harus kita mulai? Sekarang juga!
Mari kita ingat kata-kata St. Paulus: “andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu… Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang matidalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia,” (1 Kor 15: 14, 17 – 19).
