Remah Harian

IDENTITAS JELAS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 2 Januari 2023, Peringatan St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze
Bacaan: 1Yoh. 2:22-28Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4Yoh. 1:19-28

Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?” Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.” Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!” Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?” Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

(Yoh 1: 19 – 23)

Injil hari ini menampilkan Yohanes Pembaptis yang dengan luar biasa melaksanakan karyanya, menumbuhkan pengharapan umat akan sang Juruselamat, sampai-sampai banyak yang berpikir bahwa ia adalah Sang Mesias sendiri, atau setidaknya ia adalah Nabi Elia yang muncul kembali pada saat kedatangan Mesias (lihat Maleakhi 4: 5, Ulangan 18: 15). Namun Yohanes tegas dengan identitasnya. Dalam segala kerendahan hati dan dengan jujur ia mengatakan bahwa ia hanyalah suara yang berseru mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Mesias.

Yohanes menjembatani Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dialah nabi terakhir Perjanjian Lama yang menunjukkan jalan kepada Sang Mesias. Namun Ia jugalah yang pertama dari para saksi dan para martir Perjanjian Baru. Ia mempersiapkan jalan bagi Yesus dan mewartakan misi-Nya kepada banyak orang: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia!” Ia menyaksikan dari kejauhan bagaimana Sang Mesias datang memenuhi penebusan kita dari dosa dan pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah.

Yohanes adalah yang terbesar di antara para nabi, namun ia hidup sebagai hamba Allah yang rendah hati dan setia. Dia mengarahkan orang lain kepada Yesus, Mesias dan Juruselamat dunia. Gereja Kristen sejak awal telah memberi Yohanes banyak gelar yang menandakan misi kenabiannya: Saksi Tuhan, Terompet Surga, Pemberita Kristus, Suara sang Sabda, Perintis Kebenaran, Sahabat Mempelai Pria, Mahkota Para Nabi , Cikal bakal Penebus, Penyedia Keselamatan, Terang Para Martir, dan Hamba Sabda.

Siapakah anda? Bagaimana anda melihat diri anda sendiri? Apakah Anda mengarahkan orang lain kepada Yesus Kristus melalui kesaksian hidup dan keteladanan Anda? Apakah kita masing-masing jelas dengan identitas dan misi kita?

Santo Basilius Agung, Uskup, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja

St. Basilius Agung

Basilius Agung lahir pada tahun 329 di Kaesarea, ibukota Propinsi Kapadokia di Asia Kecil. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Kedua orangtuanya yaitu Basilius Tua dan Emmelia beserta neneknya Makrina Tua diakui dan dihormati Gereja sebagai orang Kudus. Demikian pula dengan Makrina Muda dan kedua adiknya: Gregorius dari Nyssa dan Petrus dari Sebaste.

Basilius dididik oleh ayahnya dan neneknya Makrina Tua. Pendidikan ini menumbuhkan iman yang kokoh dan murni dalam dirinya. Basilius kemudian melanjutkan pendidikannya di Konstantinopel dan Athena. Di Athena, ia menjalin persahabatan dengan Gregorius dari Nazianze, teman kelasnya.

Setelah menamatkan pendidikannya dengan cermelang, ia kemudian kembali ke Kaesarea dan menjadi pengajar Retorika (ILmu Pidato). Dalam waktu singkat, namanya sudah dikenal luas. Ia bangga atas prestasi dan kemasyuran namanya dan senang dengan pujian orang. Oleh karena itu, lama kelamaan ia menjadi sombong dan cenderung mencari hormat duniawi. Namun atas pengaruh kakaknya Makrina Muda dan kedua adiknya, ia mulai tertarik pada corak hidup membiara. Ia lalu berhenti mengajar dan berangkat ke Mesir, Palestina, Syria dan Mesopotamia untuk mempelajari corak hidup membiara. Sekembalinya dari perjalanan itu, ia bersama Petrus Sebaste adiknya, membangun suatu biara pertapaan di Pontus. Di tempat itu, ia bertapa dan menjalani hidup yang keras bersama dengan beberapa rekannya. Aturan hidup membiara di Pontus mengikuti contoh dari Santo Pakomius dari Mesir. Kehidupan membiara yang dibangunnya merupakan bentuk kehidupan membiara yang pertama di ASia Kecil. Oleh karena itu, Basilius digelari sebagai Bapa Perintis hidup membiara di Gereja Timur. Di Gereja Barat pengaruh Basilius dikenal melalui Santo Benediktus, pendiri ordo Benediktin dan Abbas biara Monte Kasino.

Pada tahun 370, Basilius diangkat menjadi Uskup Kaesarea, menggantikan Uskup Eusebius. Ia dikenal sebagai seorang Uskup yang berwatak tegas dan bersemangat. Kepandaian, kesucian dan kerendahan hatinya menjadikan dia tokoh panutan bagi umatnya dan Uskup – uskup lain.
Selain giat membela kebenaran ajaran Kristiani terhadap serangan kaum Arian, Basilius juga memperhatikan kepentingan umatnya, terutama mereka yang miskin dan melarat. Karya sosial yang dirintisnya amat luas dan modern. Kaum kaya yang tidak mau mempedulikan sesamanya yang miskin dan melarat, dikecamnya habis – habisan. Ia membangun sebuah rumah sakit (namanya: Basiliad) untuk menampung orang – orang sakit yang miskin.

Untuk membela dan mempertahankan ajaran iman Kristiani terhadap ajaran sesat Arianisme, Basilius menerbitkan banyak buku – buku liturgi dengan berbagai pembaharuan. Dari antara ribuan surat yang ditulisnya itu tersimpan 300 surat hingga kini. Dari surat – surat itu kita dapat mengetahui kepribadian Basilius sebagai seorang yang mahir, pandai dan beriman. Meskipun badannya amat kurus karena hidup tapa yang keras dan penyakit, namun semangat pelayannya tak pernah pudar. Ia pun tetap ramah dan rendah hati terhadap semua umatnya.

Basilius meninggal dunia pada tangga 1 januari 379. Ia digelari Kudus dan dihormati sebagai Pujangga Gereja.

Santo Gregorius dari Nazianze, Uskup, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja

St. Gregorius dari Nazianze

Keluarga Gregorius adalah keluarga yang saleh dan diberkati oleh Tuhan. Ibunya beserta kedua adiknya: Gorgonia dan Caesarius juga diakui Gereja sebagai orang Kudus.

Gregorius menjalani pendidikannya di Nazianze; kemudian berturut-turut ia belajar di Kaesarea-Kapadokia, Kaesarea-Palestina, Aleksandria dan Athena. Di Athena ia bertemu dengan Basilius, teman kelasnya. Keduanya bersahabat, bersama Basilius, Gregorius mengasingkan diri di sebuah pertapaan di Pontus. Tetapi kemudian karena desakan dari ayahnya, Gregorius kembali ke daerah asalnya. Disana ia ditabiskan iman dan kemudian ditabiskan menjadi Uskup. Ketika berumur 50tahun, ia diangkat menjadi Uskup Agung Konstantinopel. Di Konstantinopel ia menyaksikan keadaan hidup iman umat yang menyedihkan karena terpengaruh ajaran sesat Arianisme yang sudah menyebar luas. Tempat ibadat pun tidak ada.

Gregorius memulai karyanya sebagai Uskup dengan membangun sebuah Gereja darurat. Gereja ini disebutnya “anastasis” yang berarti kebangkitan. Kaum Arian yang menentangnya dihadapinya dengan tenang dan sabar. Kepada umat ia selalu berkata: “Kita harus menghadapi mereka (Kaum Arian) dengan budi bahasa yang manis dan kesabaran yang tinggi agar bisa mengalahkan mereka.”

Ia banyak menulis dan mengajar di kota – kota yang menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan, untuk membela ajaran iman yang benar. Pertentangan dengan kaum Arian terus meruncing, terlebih-lebih karena semakin banyak umat yang kembali keajaran iman yang benar karena pengaruh Gregorius. Kaum Arian berusaha membunuhnya dengan menyuruh seorang pemuda. Namun usaha ini gagal. Pemuda tangguh itu seketika berubah hatinya tatkala berdiri di hadapan Gregorius yang saleh itu. Ia berlutut dan mengakui niat jahatnya.

Gregorius lebih suka hidup menyendiri dalam kesunyian pertapaan daripada hidup ditengah keramaian kota dengan segala masalahnya. Oleh karena itu, tak berapa lama setelah ayahnya meninggal, ia kembali ke Nazianze untuk menggantikan ayahnya. Dimana ia mengajar dan banyak menulis buku – buku pengajaran iman dan pembelaan agama. Semua tulisn – tulisan itu merupakan warisan berharga bagi Gereja. Dari tulisan-tulisannya kita mengetahui bahwa Gregorius adalah seorang teolog dan Filsuf yang arif.

Gregorius meninggal dunia pada tahun 390. Oleh Gereja beliau digelari Kudus dan dihormati sebagai Pujangga Gereja.

Author

Write A Comment