Sabda Hidup
Minggu, 7 April 2024, Minggu Paskah II Tahun B, Minggu Kerahiman Ilahi
Bacaan: Kis. 4:32-35; Mzm. 118:2-4,16ab-18,22-24; 1Yoh. 5:1-6; Yoh. 20:19-31
Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”
YOH 20: 26 – 27
Kita Rayakan hari ini Hari Minggu Paskah II. Kita rayakan juga hari ini sebagai Minggu Kerahiman Ilahi! Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 30 April 2000, pada saat kanonisasi St. Faustina Kowalska.
Devosi Kerahiman Ilahi adalah pengabdian total kepada Allah yang Maharahim, yaitu keputusan untuk percaya penuh kepada-Nya, untuk menerima belas kasih-Nya dengan ucapan syukur dan untuk berbelas kasih kepada sesama, sebab Ia penuh belas kasih. Bentuk Devosi Kerahiman Ilahi ini didasarkan pada catatan-catatan St Faustina Kowalska, seorang biarawati Polandia yang, dalam ketaatan kepada pembimbing rohaninya, menuliskan sebuah Buku Catatan Harian setebal kurang lebih 600 halaman dengan mana ia mencatat penampakan-penampakan yang dianugerahkan kepadanya mengenai kerahiman Allah. Bahkan sebelum wafatnya pada tahun 1938, Devosi kepada Kerahiman Ilahi telah mulai disebarluaskan.
Bacaan Injil hari ini berkisah tentang dua kali penampakan Yesus yang bangkit kepada para murid. Yang pertama, tanpa Thomas dan yang kedua [delapan hari kemudian] dengan kehadiran Thomas yang sebelumnya mengatakan bahwa ia tidak akan percaya sebelum ia mencucukkan jarinya ke bekas paku di tangan-Nya dan mencucukkan tangan ke dalam lambung-Nya.
Pater Fernando Armellini – seorang ahli Alkitab dari Italia – memiliki penjelasan yang sangat indah tentang peristiwa penampakan Yesus, seperti yang disebutkan dalam bacaan Injil hari ini. Yesus menampakkan diri di hadapan para murid yang ketakutan dan menyapa mereka dengan Salam Damai! Dan kemudian menunjukkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Mengapa tangan dan kaki? Kita mengenali seseorang dengan melihat wajahnya dan bukan tangan dan kakinya.
Yesus menunjukkan tangan dan kaki-Nya sebagai tanda pengenal! Apa yang unik dari tangan dan kaki-Nya? Tangan dan kaki ini membawa tanda kasih. Luka-luka dan kehancuran-Nya adalah tanda pengenal-Nya. Tangan-tangan yang berbuat baik kepada orang lain, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan memeluk anak-anak ditunjukkan: dan Dia berkata kepada para murid-Nya, “Lihatlah ini! Ini aku! Para murid telah meninggalkan-Nya, bahkan menyangkal Sang Guru, tetapi Dia yang Bangkit tidak menegur mereka, tidak marah kepada mereka, malah memberikan damai sejahtera-Nya kepada mereka. Ketika kita mempersembahkan diri kita pada hari Tuhan dengan segala kelemahan kita, kita tidak menerima teguran atau kemarahan. Sapaan yang diberikan selalu berupa damai sejahtera. “Damai sertamu!”
Yesus berkata kepada Tomas: Lihatlah tangan-Ku dan sentuhlah luka-luka-Ku; ulurkan tanganmu dan cucukkan di lambung-Ku. Ini bukanlah teguran kepada Tomas yang meragukan kebangkitan-Nya. Yesus memenuhi keinginan Tomas untuk menyentuh, melihat tangan dan lukanya yang membuat lambungnya terbuka. Ini adalah undangan kepada Tomas untuk selalu mengarahkan pandangannya ke tangan dan lambung Yesus.
Ini adalah undangan yang sama dengan undangan yang diberikan kepada kita pada hari Tuhan, untuk memandang dan merenungkan tangan dan lambung-Nya karena jika kita selalu memiliki di hadapan kita apa yang telah dilakukan oleh tangan-tangan itu, ketika kita setelah Ekaristi kembali ke kehidupan harian, kita akan selalu ingat akan perutusan yang telah diberikan oleh Dia yang Bangkit kepada kita: tunjukkan kepada semua orang tangan Yesus melalui tangan-tangan kita; lakukanlah pekerjaan-pekerjaan yang Yesus ingin lakukan di dunia.
Bagaimana kita dapat menjaga mata kita tetap tertuju pada tangan-tangan dan lambung-Nya yang telah memberikan tubuh dan darah-Nya, sepanjang hidup-Nya? Kita memiliki jawabannya di dalam Ekaristi, di dalam roti Ekaristi. Di sana kita dapat menyentuhnya, merasakannya dan mengalaminya di dalam diri kita, bahkan bersatu dengan-Nya.
Hari ini Injil mengundang kita untuk merindukan dan bertemu dengan Yesus. Bukan Yesus yang kita bayangkan saja, melainkan Yesus yang sesungguhnya yang ada di dalam Injil. Kita wajib membacanya secara detail. Kita diundang untuk berkomitmen mengikuti-Nya, karena Dia hidup, Dia ada di sekitar kita! Percaya pada kebangkitan-Nya berarti tidak ada yang tetap sama di dalam diri kita. Kita berkomitmen untuk hidup sebagaimana Yesus hidup.
Allah Bapa kami, kami telah berjumpa dengan Putra-Mu dalam iman dalam Ekaristi. Dengan Dia bersama kami, semoga kami menjadi komunitas yang semakin beriman, di mana cinta dan berbagi bukanlah kata-kata kosong, sebuah komunitas yang terus saling memperhatikan dan menciptakan masa depan yang baru bersama. Amin.
