Sabda Hidup
Jumat, 10 Februari 2023, Peringatan St. Skolastika
Bacaan: Kej. 3:1-8; Mzm. 32:1-2,5,6,7; Mrk. 7:31-37
“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”
(Mrk 7: 37)
Bacaan Injil hari ini menggambarkan bagaimana Yesus dengan menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap, memenuhi nubuat Yesaya tentang Sang Juruselamat: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka,” (Yes 35: 5). Injil hari ini mengundang kita untuk menjadi alat penyembuhan dalam tangan Yesus dengan menjadi “suara” bagi mereka yang miskin, berkebutuhan dan terpinggirkan. Kita juga ditantang untuk membuka telinga kita bagi Sabda Allah, lidah kita dilepaskan agar tidak gagap mewartakan Kabar Baik kepada sesama. Melalui kisah mukjizat ini, Markus mengingatkan kita bahwa tak seorangpun dapat mengaku menjadi murid Kristus tanpa kepedulian kepada mereka yang miskin dan menderita.
Mukjizat itu digambarkan dalam sebuah ritual yang terdiri dari tujuh (7) langkah: (1) Yesus memisahkan orang tuli itu dari orang banyak; (2) Ia memasukkan jari-Nya di telinga orang itu; (3) Ia meludah pada jari-Nya; (4) meraba lidah orang itu; (5) menengadah ke surga; (6) menarik nafas; dan (7) Ia berkata “Efata!” yang artinya “Terbukalah!”
Barangkali Yesus melakukan semuanya itu karena orang yang tuli dan gagap itu tidak dapat mendengar kata-kata Yesus atau mengungkapkan keinginannya. Ia meludah dan meraba lidah orang itu karena mereka percaya bahwa ludah orang kudus dapat menyembuhkan. Dengan mukjizat itu, telinga orang itu dibuka sehingga ia dapat mendengarkan Sabda Allah, dan lidah orang itu dilepaskan “ikatannya” sehingga ia dapat mengakui imannya kepada Yesus.
Yesus pun ingin memberi kita sentuhan-Nya yang menyembuhkan agar kita dapat melepaskan lidah saudara-saudari kita yang terbelenggu – tak mampu menyuarakan keadilan bagi mereka. Ia mengundang kita mempersembahkan hati kita agar melalui kita Ia dapat menyentuh hidup banyak orang. Kita pun harus membiarkan-Nya menyembuhkan ketulian dan gagap rohani kita agar kita dapat mendengarkan Sabda-Nya dan mewartakannya kepada sesama.
Mari kita, seperti orang yang tuli dan gagap itu, mencari Yesus, mengikuti-Nya menjauh dari keramaian, mencari waktu hening, tenang, memberikan waktu untuk semakin mengenal-Nya dengan membaca Kitab Suci dan mengalami kehadiran-Nya secara pribadi dalam doa. Kesadaran akan kehadiran-Nya yang menyembuhkan dalam hidup kita akan membuka telinga kita dan menyembuhkan gagap rohani kita, agar kita semakin peka mendengar kebutuhan saudara-saudari kita yang berkekurangan dan dapat menyuarakan mereka yang tertindas, tersingkir dan menderita ketidakadilan. Melalui anda, Ia ingin menjadikan segala-galanya baik.
Tuhan Yesus, penuhi aku dengan Roh Kudus-Mu dan nyalakan hatiku dengan cinta dan belas kasih. Bantulah aku memperhatikan kebutuhan orang lain sehingga aku dapat menunjukkan kebaikan dan perhatian kepada mereka. Jadikan aku pembawa belas kasih dan damai-Mu sehingga aku dapat membantu orang lain menemukan kesembuhan dan keutuhan di dalam Dikau.
