Sabda Hidup
Jumat, 11 November 2022, Jumat Pekan Biasa XXXII, Peringatan St. Martinus dari Tours
Bacaan: 2Yoh. 4-9; Mzm. 119:1,2,10,11,17,18; Luk. 17:26-37
“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.”
(Luk 17: 33)
Ada tiga hal yang dapat kita pelajari dan renungkan dari perikope Injil hari ini yang berbicara tentang akhir jaman dan kedatangan Anak Manusia.
Pertama, dunia pasti akan tiba pada akhirnya. Dan oleh sebab itu, segala ciptaan hendaknya membantu kita untuk mengarahkan pikiran dan hati kita pada Allah. Alam semesta adalah ciptaan Allah dan mempunyai peran di dalam rencana kekal Allah. Gereja mengundang kita untuk melihat segala sesuatu sebagai karya Allah yang indah tetapi akan berakhir.
Kedua, suatu saat Kristus akan datang lagi dan memanggil kita ke rumah kita yang sejati untuk bersama Bapa dan para kudus. Waktu yang diberikan kepada kita pendek dan kita tidak dapat menentukan berapa banyak waktu yang kita dapat. Itulah sebabnya Kristus mengingatkan kita agar hidup kita mempunyai tujuan dan makna. Dunia, masyarakat, mereka yang kita kasihi bahkan kita sendiri dapat membantu, tetapi tidak dapat menentukan apa makna hidup kita dan jalan hidup yang harus kita tempuh. Dialah yang menentukan jalan yang baik dan Ia akan membawa mereka yang mengikuti jalan itu ke dalam kerajaan-Nya dan menikmati kebahagiaan kekal. Mereka yang tidak mengikuti jalan-Nya akan dibuang dari hadapan-Nya selama-lamanya.
Ketiga, jalan ke surga adalah jalan KASIH. Yesus berkata, “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” Sabda ini seperti kompas yang menunjukkan arah kepada kehidupan kekal. Hanya ada satu jalan untuk menjalani hidup kita yakni KASIH. Kasih adalah memberikan diri. Itulah kasih Kristus, keutamaan yang kita terima saat kita dipermandikan.
Jadi, apa filosofi hidup anda? “Makan, minum, dan bersenang-senang karena besok kita akan mati?” Atau, karena hidup kita di bumi ini begitu singkat, maka kita lakukan yang terbaik dan melayani sesama kita. Saat kita menunggu kedatangan kembali Tuhan kita Yesus Kristus, mari kita dengan kreatif menjalani hidup yang bermakna.
Wilfred A. Peterson dalam “The Art of Giving” menulis, “Sambil bersyukur atas karunia Allah bagi kita, hendaknya kita berbagi karunia itu dengan orang lain. Seni memberi meliputi banyak bidang. Ini adalah cara hidup yang berkelimpahan.” Ia menambahkan, “Hal terbaik yang dapat diberikan manusia kepada kurun waktu yang diberikan kepada kita adalah karunia hidup yang konstruktif dan kreatif.”
Mari menantikan Yesus dengan aktif dan kreatif. Mari kita hitung berkat kita dan berbagi karunia apa pun yang kita miliki. Dan marilah kita berbagi berkat itu dengan hidup seperti Kristus, yang datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani.
St. Martinus dari Tours

Hari ini kita peringati St. Martinus dari Tours. Santo Martinus dilahirkan di Sabaria, Hungaria pada tahun 315. Ayahnya seorang perwira Romawi. Tidak seorang pun dari kedua orangtuanya yang beragama Kristen, tetapi Martinus merasakan adanya panggilan yang kuat dari lubuk hatinya untuk menjadi pengikut Kristus. Pernah suatu hari ketika usianya sepuluh tahun, Martinus diam-diam pergi dari rumahnya dan mengetuk pintu sebuah gereja Katolik. Dia belajar iman Katolik secara sembunyi-sembunyi supaya ia bisa dibaptis. Ketika berusia 15 tahun, Martinus dipaksa masuk angkatan bersenjata Romawi, padahal Martinus tidak suka orang saling membunuh dalam peperangan.
Suatu malam di musim dingin, Martinus berjumpa dengan seorang pengemis berpakaian compang-camping yang menggigil kedinginan. Martinus menghentikan kudanya dan melepaskan mantol wol-nya yang indah. Dengan pedangnya Ia menyobek mantolnya itu menjadi dua bagian dan kemudian memberikan yang sebagian kepada si pengemis yang segera menerimanya dengan gembira.
Malam itu Martinus bermimpi. Dalam mimpinya Yesus mengenakan belahan mantol yang ia berikan kepada si pengemis siang tadi. Yesus berkata kepada para malaikat dan para kudus yang mengelilingiNya, “Lihat mantol yang diberikan Martinus kepadaKu, padahal ia masih seorang katekumen.” Esok harinnya, Martinus segera mohon dibaptis. Ia lalu mengundurkan diri dari dinas ketentaraan, sebab katanya, “Aku ini laskar Kristus, karena itu tidak patut aku berperang.”
St.Martinus kemudian menjadi seorang imam dan seorang uskup yang hebat. Ia senantiasa membagikan cinta kasihnya yang besar kepada siapa saja. Santo Martinus wafat di Tours, Perancis, pada 8 November 397 dan dimakamkan di Pemakaman Kaum Miskin, sesuai dengan permintaannya.
Banyak peziarah mengunjungi makam uskup yang kudus ini dan banyak mukjizat mulai dilaporkan terjadi melalui perantaraannya. Ketika jumlah peziarah semakin bertambah banyak, Gereja Perancis lalu membangun sebuah Basilika yang megah di Tours dan Relikwi Santo Martinus disemayamkan dalam Basilika yang kini dikenal sebagai Basilica of Saint Martin Tours Perancis.
Pada tahun 1562 Basilika ini dan Relikwi Santo Martinus dihancurkan oleh kaum Protestan dalam Revolusi Perancis. Basilika Santo Martinus mulai dibangun kembali pada tahun 1860 dan baru selesai pada 1924. Beberapa fragmen kecil dari Relikwi Santo Martinus ditemukan oleh para pekerja konstruksi dan kini disemayamkan kembali di Tomb of Saint Martin di ruang bawah tanah Basilika.
Sebagian mantol St.Martiunus yang disimpan untuk dirinya menjadi peninggalan yang sangat terkenal dan disimpan dalam Oratorium raja-raja Frank di Abbey Marmoutier dekat Tours. Selama Abad Pertengahan, mantol St.Martin (cappa Sancti Martini) dipakai oleh raja-raja Frank ketika mereka berperang karena dipercaya “konon” Mantol tersebut dapat melindungi pemakainya dari segala marabahaya. Cappa Sancti Martini kemudian diketahui diserahkan kepada para biarawan Saint-Denis oleh Raja Beato Charlemagne, di sekitar tahun 799.
Legenda bangsa Frank menuturkan : Dalam perang mempertahankan kota Paris dari serbuan bangsa Viking pada tahun 885 (The Siege of Paris 885-886), Cappa Sancti Martini dibawa ke garis depan pertahanan tembok kota Paris oleh uskup Paris dan panglima Frank, Count Oddo des Francs. Pemimpin Viking Ragnar dan Rollo Lodbrok melancarkan serangan dengan menggunakan mesin-mesin pengepungan, namun selalu gagal menembus tembok kota Paris. Pengepungan Paris berlangsung selama berbulan-bulan dan bangsa Viking tetap gagal menembus pertahanan tentara Frank. Pengepungan baru berakhir pada tahun 886 ketika Raja Frank, Charles III, mengizinkan para Viking bergerak ke Hulu sungai Seine untuk menyerbu dan menjarah wilayah Burgundy (Bourgogne) yang saat itu tengah memberontak terhadap kekuasaan Raja Fank.
