Remah Harian

HIDUP DALAM KASIH KARUNIA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 13 Juli 2023, Kamis Pekan Biasa XIV
Bacaan: Kej. 44:18-21,23b-29; 45:1-5Mzm. 105:16-17,18-19,20-21Mat. 10:7-15

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

(Mat 10: 7 – 8)

Setelah memilih Dua Belas orang yang akan diutus untuk misi, Yesus memberikan instruksi kepada keduabelasan tersebut. Visinya jelas: “Kerajaan Sorga sudah dekat.” Misinya ditetapkan, yakni untuk bersaksi tentang Kerajaan sorga yang sudah dekat. Dan untuk itu keduabelas rasul harus: (a) memberitakan Kerajaan, (b) menunjukkan keefektifan Kerajaan Surga itu melalui tanda-tanda yang nyata.

Yesus bahkan menggarisbawahi apa yang harus menjadi nada dari karya misi tersebut yakni kasih karunia. Perutusan itu harus dilaksanakan atas cara yang murah hati dan penuh kasih karunia. Ada dua aspek tentang hidup yang penuh kasih karunia.    

Pertama, percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Yesus memerintahkan para Rasul untuk menghindari kecemasan akan kebutuhan. Ia meminta para Rasul untuk “travel light” – tidak membawa terlalu banyak uang, terlalu banyak pakaian, dan sebagainya. Semua itu diperlukan, tetapi Allah akan menyediakan melalui kebaikan dan kemurahan hati orang-orang yang tersentuh oleh pemberitaan Kabar Baik. Sebagaimana para Rasul mengajarkan tentang iman dan kepercayaan kepada Allah, mereka harus menjadi tanda yang hidup dari kehidupan yang bergantung pada iman dan kepercayaan kepada Allah.

Kedua, kasih Karunia dalam keadilan. Melawan kecenderungan manusia untuk membalas dendam, kata-kata Yesus sangat jelas – selalu mengharapkan dan melakukan sesuatu dengan damai bahkan ketika kita tidak dihargai. Tuhan melihat, dan Tuhan akan menjadi pokok keadilan bagi kita. Kita serahkan segala sesuatunya ke dalam tangan-Nya. Saya rasa tidak ada contoh yang lebih baik untuk hal ini selain Yesus sendiri.

Kasih karunia dalam keadilan menjadi nyata dalam belas kasih. Paus Fransiskus, dalam buku The Name of God Is Mercy, mengatakan bahwa belas kasih itu lebih dari sekedar pengampunan. Pengampunan melibatkan penghapusan rasa bersalah, tetapi belas kasih tidak menunggu penghapusan rasa bersalah itu. Bahkan ketika rasa bersalah masih ada, belas kasih tetap diberikan – seperti ketika Yesus mengatakan kepada perempuan yang kedapatan berzinah: “Aku tidak menghukum engkau, pergilah…” Belas kasihan adalah keputusan untuk memberikan apa yang Paus Fransiskus sebut sebagai “ruang untuk hidup” di tengah-tengah apa pun dan segalanya. Keputusan ini tidak bersyarat, menyerahkan masalah dan keprihatinan kita di tangan Tuhan.

Ketka Anda dirugikan, apakah Anda mudah untuk mempercayakan peristiwa-peristiwa itu kepada cara Allah yang penuh kasih karunia? Lalu, apakah penghiburan terbesar Anda?

Tuhan, betapa sulitnya hidup bergantung pada kasih karunia. Namun, betapa hal itu membebaskan! Semoga aku dapat menjalaninya. Amin.

Author

Write A Comment