Sabda Hidup
Senin, 30 Oktober 2023, Senin Pekan Biasa XXX
Bacaan: Rm. 8:12-17; Mzm. 68:2.4,6-7ab,20-21; Luk. 13:10-17.
Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.
(Luk. 13:10-17)
Perempuan itu telah menderita karena penyakitnya selama delapan belas tahun. Para penentang Yesus meminta agar Dia menunggu satu hari lagi – setelah hari Sabat – untuk menyembuhkannya. Menurut Kitab Keluaran, alasan untuk beristirahat pada hari Sabat adalah karena Allah telah menyelesaikan pekerjaan penciptaan-Nya dan beristirahat pada hari Sabat (Kel. 20:11). Pemimpin sinagoga itu menginginkan ketaatan yang tepat terhadap tradisi itu.
Tetapi Yesus tidak dapat menikmati “shalom” Sabat-Nya sampai karya penciptaan selesai dalam diri perempuan itu dan ia diciptakan kembali menurut gambar Allah. Ia memanggil perempuan itu kepada-Nya (ayat 12), menumpangkan tangan-Nya ke atas perempuan itu dan menyembuhkannya (ayat 13). Dia menyembuhkan pada hari Sabat bukan karena Dia tidak menghormati hari Sabat, tetapi karena Dia menempatkan aturan-aturan itu dalam perspektif keselamatan. Aturan adalah sarana untuk membantu kita bertumbuh.
Hati kerdil kepala rumah ibadat yang marah itu tidak dapat memahami keagungan belas kasihan ilahi yang telah membebaskan perempuan ini dari begitu banyak penderitaan. Ia begitu bersemangat untuk menaati hukum Taurat Musa, tetapi tidak dapat memahami bahwa Bapa di Surga – Bapa yang sama baik baginya maupun bagi perempuan itu – berkenan atas kesembuhan yang ajaib ini (ay. 14). Pemimpin itu tidak berani menegur Yesus secara langsung: Ia berbicara kepada orang banyak.
Sementara itu, Yesus berdebat dari hal yang lebih kecil kepada hal yang lebih besar: Jika kamu melepaskan binatang pada hari Sabat, mengapa kamu tidak melepaskan seorang manusia (ay. 15 dst.)? Dengan menyebutnya sebagai anak Abraham (ay. 16), Ia menekankan kepada mereka bahwa warisan agama Yahudi tidak hanya terbatas pada orang yang sehat atau laki-laki.
Tujuan Sabat, seperti yang Yesus lihat, digenapi bukan dengan menghalangi perbuatan belas kasih, tetapi dengan mendorongnya.
Seberapa sering Anda menunda mengulurkan tangan kepada sesama yang membutuhkan?
Tuhan, buatlah kami tanda dan sarana belas kasih-Mu bagi siapa saja yang membutuhkan. Amin.
